Ketika Harus Memilih II
Oleh : Erjie Al-Batamiy
“Hey! Kamu jangan mencari-cari kesempatan dalam kesempitan mepet sini, mepet sana aha! Hey! Kamu ayo jagalah, jaga sikapmu jagalah jarakmu jagalah hatimu dimana saja haha!” terdengar nada Ring Back tone di ponsel milik Ryan. Sebuah lagu milik grup nasyid Justice Voice. Ring Back Tone tersebut milik Ira, berkali-kali berdering namun tak jua diangkat oleh pemiliknya. Ryan bingung mengapa Ira tak menjawab panggilannya.
Baiklah akan kucoba lagi, ini sudah yang ketiga kali.
Ryan tetap ber-husnudzan bahwa Ira tak mendengar panggilan tersebut, atau sedang sibuk sekali hingga panggilan tersebut belum sempat tuk diacuhkan.
Kuharap bukan karena dia enggan mengangkatnya.
Panggilan ketiga bernasib sama, gagal. Akhirnya Ryan menyerah, cukuplah sudah, baginya itu merupakan hak Ira untuk tidak atau mengangkat panggilannya, dia sadar kapasitasnya di hati Ira saat ini bukanlah sebagai Ryan 2 tahun yang lalu, Ryan sadar diri, namun selang 5 menit kemudian masuk sebuah pesan pendek ke ponsel Ryan, pesan tersebut tak lain dari Ira.
Assalamu’alaikum akh, afwan jiddan akh, ana g bs angkat panggiln antum, ana sekarang sedang di rumah, kluarga lg pd ngumpul mau mbahas mngenai acara walimahn ana. G mgkn bagi ana untuk bicara apalagi brtemu dg antum lagi, sbentar lagi ana akn mnikah & antum tentu jg tahu gmn pandangn kluarga ana terhadap antum, syukron.
Ryan tersenyum membaca pesan tersebut,
Masya Allah, Ryan membathin.
Ryan coba menafsirkan pesan Ira. Ryan khawatir Ira salah menafsirkan panggilannya, padahal saat ini Ryan telah berhasil merebut kembali 83,13% kecerdasannya, kecerdasan yang sempat berhamburan terbawa terbang oleh badai yang bernama “cinta”. Jiwa dan akalnya sangat fit saat ini.
Wahai ukhti... tidaklah ana bermaksud untuk mengungkit masa lalu kita, karena tidak akan pernah cukup waktu ‘tuk berhenti membicarakannya, terlalu indah tuk dilupakan begitu saja dan tidak pula ana ingin mengganggu & menghalang-halangi niat anti untuk menyempurnakan separuh din, karena ana sepenuhnya sadar anti saat ini adalah calon istri saudara (ikhwan/ikhwah fillah) ana sedang khitbah telah anti & keluarga terima. Ryan berkata dalam hati.
Ukh ada hal yg ingin ana bicarakn, mgkn ini utk yg trakhir kaliny, ana janji. Ada yg ingin ana bahas dg anti, sesuatu yang kirany bisa memuaskn bathin ana, sesuatu yg mgkn krn ke-dhaif-an ana butuh pncerahan & koreksi dr anti. Bunyi pesan pendek Ryan.
Ira berpikir, apakah akan menjawab atau membiarkan saja pesan tersebut, sementara Ryan masih menunggu, apakah sebuah balasan atau keheningan yang akan diberikan Ira. 10 menit berlalu. Masuk sebuah pesan.
Apakah penting skli akh, ap tdk bs lewat sms aj.
Ryan menjawab, sblumny syukron ukhti telah merespon pesan ana, tapi afwan ukh, kayakny tidak bs lewat sms, lumayan panjang hal yg akan di bahas, lewat sms sepertiny gak cukup.
Lagi-lagi Ryan harus menunggu jawaban Ira. Selang setengah jam kembali sebuah pesan masuk ke ponsel Ryan.
Baiklah antum bisa menelpon ana besok, ba’da shubuh sebelum ana pergi berangkat mengajar, insya Allah ana punya kelapangan waktu, assalamu’alaikum.
Wa’alaikum salam, jazakillah khair.
***
Cahaya mentari berwarna emas menandakan awal pagi, kemilaunya menembus pijaran kaca masjid, menyilaukan sepasang mata yang baru saja menyelesaikan wirid paginya setelah mengerjakan shalat subuh berjamaah. Sebelum beranjak menuju kembali ke rumah, Ryan menyempatkan diri tuk shalat sunah dua rakaat, sesaat setelah matahari terbit.
Selesai shalat, tanpa sedikit-pun pudar dari ingatannya, Ryan bergegas untuk pulang dan bermaksud menelpon Ira, sesuai kesepakatan tempo hari.
“Assalamu’alaikum..” terdengar suara lembut seorang wanita diujung telpon sana, serta merta tercipta gemuruh di dada Ryan, tak terasa telah hampir dua bulan sejak saat Ryan dan Ira sepakat untuk berpisah, suara itu tak pernah terdengar lagi di telinga Ryan, menyeruak rasa rindu di batinnya. Betapa tidak, sejak saat mereka sepakat untuk berpisah, tiba-tiba sikap Ira berubah, tidak pernah sekalipun bersedia untuk berbicara via telpon apalagi bertemu langsung, paling bisa sebatas sms saja. Ryan menangkap sinyal-sinyal aneh tersebut, seakan Ira ingin hilang dari peredaran, ada apa gerangan? Menyisakan sebuah lubang tanya besar di hati Ryan, walau tak berapa lama lubang tersebut tertutupi akan sebuah jawaban, ternyata Ira sedang dalam proses ta’aruf dengan seorang ikhwan, strata-nya jauh diatas Ryan, merupakan seorang mahasiswa pasca sarjana di perguruan tinggi ternama di Indonesia.
“Wa’alaikum salam.. ukhti khaifa haluk?”
“Thoyib, syukron” jawab Ira, lebih kurang sepuluh menit berlalu, mereka coba untuk berbasa-basi sekenanya, dan tanpa membuang waktu Ryan tanyakan sesuatu yang menjadi biang penasaran dihatinya.
“Afwan ukh sebelumnya, ada hal ingin ana tanyakan ke anti. Apakah anti telah mantap untuk menikah saat ini dengan si fulan?”
Ira terkejut, pertanyaan macam apakah itu pikirnya. Bukankah kemarin malam Ira telah mengatakan pada Ryan bahwa saat ini dia beserta keluarga sedang mempersiapkan walimahan, bukan sekedar tahap ta’aruf lagi, masih perlukah pertanyaan tersebut diutarakan. Ira hati-hati menjawabnya.
“Bismillah, ana mantap akh.” Hanya itu jawaban Ira.
“Hmm.. apa yang membuat anti mantap?”
Inikah yang ingin antum tanyakan dan bahas dengan ana.
“Akh.. mungkin antum masih ingat, bahwa ana melakukan ini pertama-tama karena ana ingin abi dan umi bahagia, bagi ana kebahagiaan orang tua adalah segala-galanya, dan antum pastinya juga paham bahwa ridho Allah tidak akan turun melainkan karena adanya ridho orang tua. Ketahuilah akh..” Ira menghentikan kalimatnya, ragu-ragu apakah akan menyampaikan satu hal yang selama ini ia simpan, tak sekalipun pernah ia sampaikan kepada Ryan. Terdorong akan setangkup asa agar Ryan bisa lebih mengerti, akhirnya Ira utarakan.
“heu..” sambil tersedu-sedu, dan terbata-bata karna tak sanggup menahan tangisan pilunya, Ira coba menguatkan hati, “Ketahuilah akh.. pernah suatu waktu ana dipanggil oleh abi, untuk berbicara secara empat mata, saat itu abi marah besar begitu tahu bahwa selama ini kita masih berkomunikasi, kemudian ana diceramahin dan pada akhirnya abi berkesimpulan bahwa..” kembali Ira menghentikan kalimatnya.
“Abi katakan bahwa ana anak yang durhaka!! Ana divonis abi sebagai anak durhaka karena tidak mengikuti perintah abi untuk menjauhi dan meninggalkan antum” serta merta air mata mengalir deras dari sepasang mata wanita itu. Betapa berat beban yang harus ditanggungnya, perih batinnya mengingat kejadian itu.
“Sekarang ana tanyakan kepada akhi, wanita mana yang sanggup menerima beban itu akh, wanita mana yang batinnya tidak nelangsa saat orang tua yang sangat amat dicintainya sampai mengatakan hal demikian, wanita mana yang sanggup akh?!.. Seandainya akhi berada di posisi ana masih bisakah akhi memilih? Demi Allah akh.. keputusan berpisah dengan akhi merupakan keputusan tersulit yang pernah ana ambil, dan wallahi akh.. wallahi.., perih dan sakit sekali perasaan ana akh saat memutuskan itu, kita sama-sama terluka akh, saat keadaan memaksa kita untuk memilih, saat itu pula kita sadar bahwa kita hanya manusia.” Isak tangis Ira kembali membuncah, kali ini lebih dalam, karena tanpa sadar dia harus mengingat kembali kejadian tersebut, kejadian yang sekuat tenaga ingin dilupakannya.
Ryan menutup rapat mulutnya. Mencoba untuk menstabilkan situasi. Sejenak dia biarkan Ira hanyut dalam tangisnya, memberikan kesempatan bagi Ira untuk menemukan ketenangannya sendiri. Sedikit terbata Ira melanjutkan,
“Beranjak dari apa yang ana sampaikan tadi akh, kiranya antum bisa mengerti keadaan sebenarnya, lalu jawaban untuk pertanyaan akhi tadi, mengapa ana mantap untuk menikah dengan si fulan, karena ana mengharapkan ridho Allah yang tidak akan turun melainkan dengan adanya ridho orang tua, mereka meridhoi si fulan untuk menjadi suami ana bahkan merekalah yang memilihkannya untuk ana, dan perlu akhi ketahui.. bahwasanya ana telah memikirkan secara matang sebelum menerima khitbah, sebelumnya ana telah berkomunikasi dan berta’aruf dengan si fulan melalui telpon maupun sms, dan dari interaksi tersebut ana yakin insya Allah dia orang yang baik dan agamanya lebih baik daripada ana. Satu hal lagi akh...”
Ryan belum memberikan respon apapun, walau batinnya sudah tidak sabar ingin menyampaikan sesuatu yang penting kepada Ira, namun untuk sementara dia simpan dahulu.
“Satu hal lagi akh yang insya Allah dapat memuaskan batin antum.. Dulu antum pernah meminta ana untuk menikah dengan lelaki yang padanya ana memiliki kecendrungan, Alhamdulillah akh... terhadap si fulan ana memiliki kecendrungan, sungguh untuk melupakan akhi merupakan perkara yang luar biasa sulit, tapi Alhamdulillah akhirnya hati ana luluh juga dan sekarang ana telah mampu untuk melupakan akhi, dan dengan begitu ana berharap akhi bisa mengiklashkan ana menikah dengan lelaki lain, seperti yang pernah akhi ikrarkan”
Ryan seakan tak percaya, perkataan tersebut keluar dari lisan Ira, lalu masuk melalui gendang telinganya untuk kemudian menuju hatinya, hati yang baru saja sembuh tersebut mau tak mau harus menerima pecutan kembali. Untunglah akalnya masih fit dan kecerdasannya belum beranjak untuk meninggalkan Ryan lagi.
Ryan sadar dia harus menunaikan janjinya kepada Ira, tak mengapa pikirnya, bukankah dia sudah berkomitmen seandainya harus memilih, dia akan memilih Allah dengan menerima takdirnya, sudah seharusnya.
“Baiklah ukh, jika memang ukhti telah memiliki kecendrungan kepadanya, ana bisa mengikhlaskan anti tuk menikah dengan lelaki lain dan ana pegang omongan anti!!”
Huff.. berat sekali rasanya aku harus mengatakan ini.
“Alhamdulillah dengan begitu ana menjadi lega, tapi.. terlepas dari itu semua ana ingin bertanya pada anti mengenai hadits Rasulullah yang bersabda : ridho Allah tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka Allah tergantung pada kemurkaan orang tua. Apakah benar hadits tersebut bersifat mutlak ukh?“
“Maksud antum?”
“Apakah benar ridho dan murka Allah selalu tergantung pada ridho dan murka orang tua?”
Tak ada jawaban dari Ira.
“Tidak selalu ukh. Tidak selalu Allah menggantungkan ridho dan murka-Nya kepada ridho dan murka orang tua. Sekarang ana bertanya pada ukhti, apakah Allah akan menurunkan ridho-Nya kepada sahabat Mush’ab bin Umair andaikan saja dia mengikuti kehendak ibundanya yakni Khunais binti Malik yang terkenal berkepribadian kuat dan pendiriannya tidak dapat ditawar dan diganggu gugat, untuk kembali pada kekafiran, sedangkan hal tersebut tentu saja akan mendatangkan ridho ibundanya. Apakah hal tersebut akan mendatangkan ridho Allah ukh? Tentu tidak ukh”
Keheningan masih menyelimuti diri Ira, dia diam dan menyimak.
“Bukankah Allah berfirman dalam surat Al-Ankabut ayat 8: dan Kami wajibkan kepada manusia (berbuat) kebajikan kepada orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu maka janganlah kamu mengikutinya. Hanya kepada-Ku lah kembalimu, lalu Aku kabarkan padamu apa yang telah kamu kerjakan.”
“Bukankah dengan apa yang ana lakukan, ana telah melaksanakan perintah Allah dalam surat yang baru saja akhi baca, toh orang tua ana tidak menyuruh ana untuk mempersekutukan Allah, jadi dimana letak salahnya?”
“Masya Allah ukh, ana sama sekali tidak bermaksud untuk mengatakan orang tua anti menyuruh anti untuk mempersekutukan Allah, tidak sama sekali ukh, afwan jika perkataan ana kurang berkenan dihati anti, tapi inti dari ayat tersebut ialah saat kita mematuhi perintah orang tua kita, kita lihat terlebih dahulu konteksnya ukh, apakah perintah tersebut tidak bertentangan dengan perintah Allah lainnya, baik yang terdapat pada Al-qur’an maupun sunah”
“Hmm.. jadi menurut akhi ana tidak mengindahkan perintah Allah lainnya? Atau bahkan ana melanggar perintah Allah lainnya? Bisa akhi tunjukan perintah Allah mana yang akhi maksud..”
“Bismillah.. Allah berfirman pada surat An-Nisa ayat 59: hai orang-orang yang beriman patuhilah Allah, Rasul, dan pemimpin diantara kalian. Abi ukhti merupakan pemimpin dalam keluarga ukhti dan wajib hukumnya bagi ukhti untuk mematuhi perintah beliau, tapi ukh, ketahuilah.. ulil amri menempati kedudukan ketiga dalam hirarki kepatuhan, setelah Allah dan Rasul-Nya. Konsekuensinya apa? Ukhti wajib mematuhi perintah ulil amri yakni abi ukhti, selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Sekarang ana bertanya apakah bersesuaian dengan perintah Allah dan Rasul-Nya apabila ada seorang ayah melarang putrinya untuk menikah dengan seorang lelaki, sementara musabab pelarangan tersebut diluar faktor agama? Bukankah masih pada ayat yang sama Allah berfirman: apabila kamu berselisih pendapat akan suatu hal, maka kembalikanlah hal tersebut pada Allah dan Rasul-Nya jika kamu betul-betul beriman pada Allah dan hari akhir. Maksudnya ayat tersebut apa ukh? Tak lain seolah-olah Allah ingin mengatakan: wahai orang-orang beriman jikalau kalian berselisih pendapat terhadap suatu hal, dimana hal tersebut kelak akan berimbas terhadap kepatuhan kalian pada para pemimpin kalian, maka kembalikanlah perselisihan tersebut pada Allah melalui kitab-Nya yakni Al-Quran dan Rasulullah melalui sunahnya. Jadikanlah Al-quran dan As-sunah sebagai acuan atau parameter bagi kalian untuk menentukan siapa yang lebih benar.”
“Tapi akh!?..”
“Afwan ukh, izinkan ana menyelesaikan pembicaraan ana terlebih dahulu... pasti anti ingin mempertanyakan kembali perintah Allah yang ana maksud. Sekarang ana tanya kepada ukhti, sudahkah ukhti dan keluarga memperlakukan ana dan si fulan secara adil? Sudahkah ukhti dan keluarga berlaku adil pada saat mempertimbangkan khitbah ana dan si fulan? Sudahkah itu ukh? Bukankah Allah memerintahkan kepada kita melalui firman-Nya pada Surat Al-Maidah ayat 8: berbuat adillah, itu lebih dekat kepada taqwa, bertaqwalah...”
Kebisuan tercipta sejenak...
bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar