Minggu, 07 Februari 2010

"Ketika Harus Memilih II" (lanjutan)

“Ya ukhti, sesungguhnya didalam islam kita diajarkan untuk mengedepankan etika tabayyun (klarifikasi/ check and recheck). Pada saat ukhti dan keluarga menerima khitbah dari si fulan sudahkah ukhti melakukan tabayyun atas latar belakang dia dan keluarga?”

“Tentu saja sudah akh. Orang tua ana telah mengenal baik si fulan dan keluarganya, dia orang yang baik dan berasal dari keluarga baik-baik, dan hal tersebut pulalah yang menjadi dasar pertimbangan ana dan keluarga menerima khitbahnya.”

“Justru disitu sangat terlihat jelas ukhti dan keluarga tidak berlaku adil terhadap ana dan si fulan.”

“Tidak adil gimana?!” Ira keheranan.

“Ukh.. Sesungguhnya ana heran... mengapa pada saat keluarga ukhti menolak ana, tanpa melakukan tabayyun secara menyeluruh, mereka menolak ana, tetapi pada saat keluarga ukhti menerima khitbah si fulan, mereka melakukan tabayyun terlebih dahulu. Tidak layakkah ukh ana mendapat perlakuan yang sama?! Ukh.. ana tidak akan mempertanyakan hal ini seandainya saja ana tidak mempunyai kapasitas yang sama dengan si fulan, bukankah ana dan si fulan merupakan dua lelaki yang pada kami ukhti memiliki kecendrungan. Seandainya saja ukhti tidak mencintai ana dan menerima khitbah ana secara pribadi.. takkan ana bertanya tentang keadilan.”

Ryan tak mendengar suara apapun dari ujung telpon sana, dia tidak tahu hal apa yang saat ini sedang berkecamuk di hati dan pikiran Ira.

“Sudahkah ukhti tanyakan kepada abi sebelum ukhti menerima khitbah si fulan: wahai ayahanda, sesungguhnya ayahanda telah menerima khitbah si fulan, tak lain karena ayahanda telah mengenal dan melakukan proses tabayyun atas diri fulan dan keluarga, sudahkah ayahanda melakukan hal yang sama terhadap Ryan? Jika belum hendaknya ayahanda lakukan juga proses tabayyun terhadap diri Ryan dan keluarga, hendaklah ayahanda menjadi pemimpin yang adil, karena duhai ayahanda, disebabkan rasa sayang yang teramat besar dari ananda untuk ayahanda, ketahuilah ayahanda bahwa setiap kita adalah pemimpin, dan akan dimintakan pertanggung jawabkan atas kepemimpinannya, untuk itu ayahanda... lakukanlah juga proses tabayyun terhadap diri Ryan dan keluarga, dan apabila setelah proses tersebut ayahanda tetap merasa bahwa Ryan tidak pantas untuk ananda, maka dengan kelapangan dada dan mengucapkan bismillah ananda mantap menerima khitbah si fulan.”

Hiks..Hiks.. Hanya suara tersebut yang terdengar dari Ira, Ryan menebak mungkin Ira sedang menangis.

“Wahai ukhti.. beranikah ukhti mengucapkan kepada ana ucapan berikut ini: Demi Allah akh, ana haqul yakin, seandainya saja keluarga ana melakukan tabayyun terhadap antum, maka hasilnya akan sama saja, mereka tetap akan menolak antum. Beranikah ukhti mengucapkan hal tersebut? Ukh.. ana yakin pada saat ukhti menerima ana.. tidaklah fisik ana yang menjadi faktor ketertarikan ukhti, karena ana tahu, bahwa banyak ikhwan-ikhwan lain yang ukhti tolak lamarannya jauh lebih baik fisiknya daripada ana, dan tidak pula ukhti tertarik pada kekayaan ana, karena berapa banyak ikhwan yang jauh lebih mapan dari ana, ukhti tolak pinangannya. Ana yakin ukhti menerima ana insya Allah karena agama ana, karena ana paham ukhti bukanlah wanita jahil yang menjadikan fisik dan kekayaan sebagai faktor utama. Pertanyaan ana selanjutnya, sudahkah abi ukhti memposisikan diri sebagai orang tua yang bijak, yang mau merangkul ana untuk diajak bicara dari hati ke hati, mengayomi ana dan memberikan nasehat kepada ana jika ada sikap ana yang tidak berkenan dihati beliau, mau mendengar penjelasan atau klarifikasi ana atas apa yang terjadi, memberi ana kesempatan untuk membela diri, jika itu hanya sebuah kesalah pahaman saja, tidak memvonis ana hanya dengan melihat sikap ana sekilas dan untuk selanjutnya berdasarkan prasangka belaka, karena sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dusta. Sudahkah hal tersebut dilakukan ukh?!” Uneg-uneg yang sedari dulu disimpan Ryan kini keluar, sedari dulu ingin disampaikannya.

“Ukhti, Allah memerintahkan kita untuk menjadi seorang muslim yang kaffah, tidak fair apabila kita mengikuti perintah Allah yang satu sementara perintah lainnya kita nafikan, ukhti telah mengikuti hadits Rasulullah mengenai ridho orang tua, tetapi sudahkah ukhti memperhatikan dalil lainnya? Hendaklah kita bertahkim pada hukum Allah baik yang mengenakan maupun tidak, baik yang menguntungkan kepentingan kita maupun tidak, jangan setengah-setengah ukh dalam bertahkim terhadap hukum Allah. Allah berfirman melalui Surat An-Nur ayat 48-51: Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh. Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku dzalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang dzalim. Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung... Tentunya ukhti tak ingin bukan? Jika hanya menjadi seorang muslim tanpa harus mencapai derajat sebagai seorang mukmin. Bukankah Allah pernah mencela bani Israel melalui Surat Al-Baqarah ayat 85: Apakah kamu beriman pada sebagian kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat mereka dikembalikan pada siksa yang sangat berat”

“Cukup akh.. cukup.. ana tidak kuat lagi mendengarnya” tangis yang tadi berusaha untuk dibendung Ira, meledak, membahana menerjang arung perasaannya. “Mengapa akh, mengapa baru sekarang antum katakan hal ini pada ana? Mengapa tidak dari dulu saja akh? Mengapa pada saat ana menawarkan kepada akhi untuk berpisah, mengapa akhi mengiyakan, kenapa akhi tidak berusaha tuk mencegahnya dan mengatakan tidak akh, mengapa?! Allahummaghfirlana, sakit sekali rasanya akh.”

“Ukh..” entah mengapa tiba-tiba sebutir air bening turun dari mata Ryan, Ryan menangis. Ryan menyeka air matanya. “Ukh.. pernahkah ukhti memberi ana kesempatan untuk mengatakannya? Adakah ukhti bertanya dan berdiskusi kepada ana sebelum ukhti menerima khitbah? Karena tahukah ukhti.. tanpa ukhti sadari jauh didalam lubuk hati ukhti, sebenarnya ukhti tahu bahwa ana tidak akan setuju, untuk itu ukhti selalu ingin menghindar untuk membahasnya dan mengambil keputusan sendiri. Ketahuilah bahwa hingga saat ini, hanya ada dua orang wanita yang sanggup memaksa ana meneteskan air mata untuk mereka, yang pertama umi dan kedua adalah ukhti, dan dari apa yang ana katakan itu, ana yakin ukhti pasti mengerti bagaimana istimewanya posisi ukhti dihati ana”

“Akhi..” Ira kembali menangis, “Allahummaghfirlana, allahummaghfirlana, ya Allah tunjukan kesalahan apa yang telah kami lakukan pada-Mu ya Robbana, hingga kami harus menanggung semua ini, Allahummaghfirlana.”

Dua anak manusia itu sama-sama menangis, setangguh apapun mereka, tampaknya saat ini Allah tengah mengibaskan sayap-Nya untuk menghembuskan angin kasih sayang, hingga tanpa terasa hal tersebut telah menyentuh sisi manusiawi Ryan dan Ira, mereka-pun menangis.

“Tahukah akhi.. pada saat ana menawarkan perpisahan bagi kita, sesungguhnya ana berharap akhi tidak mengiyakan tawaran tersebut. Ana seorang wanita akh, dan karena hal tersebut ana terlalu malu untuk mengatakan yang sejujurnya, bahwa ana... ah sudahlah akh. Lagipula ana telah melakukan sholat istikharah dan dari sholat tersebut hati ana cendrung untuk mengikuti keinginan keluarga.”

Benar juga jika ada yang mengatakan bahwa wanita itu tercipta dari Sembilan perasaan dan satu akal, sementara lelaki tercipta dari Sembilan akal dan satu perasaan. Berkata Ryan didalam hati.

“Ukhti.. ukhti.. fiqih mahzab mana yang mengatakan bahwa istikharah itu merupakan media ikhtiar? Bukan ukh, bukan.. sesungguhnya itu merupakan media tawakal, media yang digunakan jika kita telah berikhtiar semampunya. Sudahkah ukhti berikhtiar secara maksimal? Ukh.. dari dulu hingga saat ini ana tidak pernah meminta ukhti untuk memilih antara ana atau keluarga ukhti, tidak pernah ukh.. tidak pernah sama sekali terlintas dihati dan pikiran ana apalagi sampai mengatakannya.. yang ana inginkan ialah ukhti berada disamping ana, bersama-sama ana berjuang untuk meyakinkan keluarga ukhti, sudahkah ikhtiar tersebut dilakukan? Lalu tidaklah valid hasil dari istikharah ukhti jika sebelumnya ukhti telah memiliki kecendrungan terhadap salah satu pilihan, ukhti harus netral dan membiarkan Allah memberikan keputusannya dihati ukhti, ukhti wajib menyerahkan dan bertawakal kepada Allah atas pilihan tersebut, dengan begitu insya Allah hasil dari istikharah ukhti bisa shahih. Tidak selamanya ungkapan hati menjadi pembenaran atas segala perkara. Hati bisa dimintakan fatwa dalam permasalahan yang bersifat umum dan mungkin tidak dijelaskan secara detail perbedaan dan batasannya dalam nash-nash al-Qur’an dan sunnah. Tegasnya, suara hati tidak boleh mengalahkan petunjuk dalil yang jelas tertera dalam Al-Qur‘an dan sunnah. Bila ada fatwa yang jelas berlandaskan dalil syar’i maka wajib setiap muslim untuk mengutamakannya, meskipun hal itu tidak membuat hatinya puas," demikian dijelaskan dalam kitab Al-Wafi Imam An-Nawawi, ya ukhti. Ana memahami ukhti seorang wanita, yang mungkin lebih mengedepankan perasaan, sehingga ukhti tidak bersikap netral, bukankah telah terdoktrin didalam diri ukhti bahwa kebahagiaan orang tua adalah segala-galanya, dan ridho Allah tergantung pada ridho orang tua, jika telah begitu, bagaimana mungkin ukhti bisa bersikap netral.”

Kebimbangan menerpa Ira, tanggapan yang harus diberikan.

“Afwan akh, waktu kita untuk bicara mungkin tinggal beberapa menit lagi, ana harus bersiap untuk berangkat mengajar. Atas apa yang telah akhi sampaikan, ana ucapkan terima kasih, namun mengingat keadaan saat ini, ana sebaiknya gimana?”

“Jika ukhti tetap mantap untuk menikah dengan si fulan, mulailah saat ini berusaha lebih keras lagi untuk belajar mencintai si fulan, karena jika tidak.. akan bertambah panjang daftar orang yang akan terdzalimi, yang pertama adalah ukhti karena mengorbankan perasaan dan membohongi diri sendiri, kedua ana, karena tidak diperlakukan secara adil dan ketiga mungkin si fulan, karena amat sangat dzalim jika ukhti mencintai dan menikahi lelaki yang berbeda, dan jika ukhti ragu, mintalah petunjuk Allah melalui istikharah, tapi ingat ukhti harus netral sebelumnya, serahkan semuanya kepada Allah, tinggalkanlah yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu, ingat ukh.. keputusan ukhti akan berpengaruh tidak saja bagi urusan dunia ukhti tetapi juga akhirat ukhti, ukhti saat ini telah menjadi seorang mukallaf, apapun yang akan ukhti lakukan di dunia ini akan ukhti pertanggung jawabkan di akhirat kelak, pertanggung jawaban tersebut bukan kepada abi ukhti tetapi kepada Allah, harap diperhatikan tatkala Allah berfirman pada penutup Surat Al-Ankabut ayat 8: Hanya kepada-Ku lah kembalimu, lalu Aku kabarkan padamu apa yang telah kamu kerjakan, lalu ukh..” Sekilas Ryan menerawang ke relung masa silam, saat dia dan Ira dipertemukan untuk pertama kalinya, saat semerbak duniawi dan wangi ukhrawi menebar dan menuntun mereka untuk membangun sebuah taman.. yakni pernikahan, namun sayang.. kembang-kembang yang akan ditanami sudah terlanjur layu sebelum waktunya.

“Patut untuk diketahui bahwasanya dahulu ana mencintai dan ingin menikahi ukhti karena Allah, agama ukhti-lah yang menjadi kunci untuk membuka pintu hati ana yang selalu tertutup rapat, dan ana yakin ukhti pun demikian halnya, sehingga kita dulu pernah dipertemukan dan sepakat untuk bersatu dalam tali pernikahan karena Allah, untuk itu ana ingin kita-pun sepakat untuk berpisah karena Allah, inilah yang menjadi niat ana untuk bicara kepada ukhti pada kesempatan kali ini, ana ingin memastikan bahwa kita saling bertemu, mencintai dan berpisah karena Allah, sesungguhnya salah satu golongan yang mendapat naungan Allah di hari kiamat kelak yang tiada nanungan selain naungan-Nya pada hari itu ialah orang-orang yang saling membenci dan mencintai karena Allah, kemudian sepakat bertemu dan berpisah karena Allah. Apabila perpisahan yang menjadi takdir-Nya, maka keridhoan hati untuk menerima hal tersebut tanda bahwa kita berpisah karena-Nya. Amin.. Allahumma amin. Satu hal lagi ukh yang ingin ana katakan, jika diberi kesempatan ana ingin mengisahkan cerita kita dan menjadikannya sebuah novel mungkin, kiranya nanti dapat dijadikan ibroh bagi mereka yang akan menikah, memilih jodoh, dan juga bagi orang tua yang ingin menikahkan putra-putrinya, dan kemaren ana sempat menuliskan sebuah syair untuk ukhti, telah ana kirim via email ukhti, mungkin syair tersebut merupakan kata-kata terakhir dari ana untuk ukhti sebelum menikah. Terakhir ana ingin meminta maaf kepada ukhti dan keluarga jika ada sikap dan perbuatan atau juga lisan ana yang tidak berkenaan dihati ukhti dan keluarga, akhirul qalam, subanakallahumma wa bihamdika asyhadualla ilaha illa anta, astghfiruka, astaghfiruka, astaghfiruka ya Allah wa ‘atubuilaik, Assalamu’alaikum.”

“Tits” bunyi telepon terputus.

“Wa’alaikum salam warahmatullah wa barakatuh ya akhi”

Ira tertegun, tak menyangka harus memulai paginya seperti ini, dalam ketertegunannya hati Ira berucap,

Akhi Ryan.. bagaimana mungkin akhi ingin memperdebatkan dalil-dalil dengan ana, tak seimbang rasanya, sementara jika saja akhi tahu bahwa.. akhi adalah ustadz favorit ana, itulah yang membuat ana dengan hati yang mantap menerima akhi dan ingin sekali menjadi istri akhi, tapi .. kenangan cuma tinggal kenangan.. mudahkah bagi akhi untuk melupakan semua kenangan kita? Tak pernah terbayangkan Allah mempertemukan ana dengan lelaki yang selama ini ana inginkan untuk menjadi imam ana, tak lain adalah akhi.. namun.. Ya Allah perih sekali rasanya.. Kuatkanlah hamba.. Akhi sadarkah, bahwa bukan akhi seorang, bukan akh.. Disini-pun ana terluka dengan hebatnya..

Ira memaksakan diri untuk sejenak melupakan apa yang baru saja dialaminya, dia ingin bersiap-siap untuk berangkat mengajar, namun sebelumnya menyempatkan diri untuk membuka laptopnya dan penasaran akan syair terakhir yang dikirimkan Ryan ke e-mailnya, begitu jaringan internet tersambung, e-mail-pun terbuka, membaca dengan pelan dan seksama syair tersebut, kemudian tanpa aba-aba napasnya sesak dan air matanya kembali tertumpah dalam hati dia hanya mampu berkata,

Ryan..

My last word

Dear My Lord :
May I ask You something?
Is She never really had a chance, on that fateful moonlit night?
Sacrificed without a fight, and be a victim of her circumstance?
Now that I’ve become aware and I’ve exposed this tragedy..
Cause a sadness grows inside of me, forgive me My Lord and I beg Your mercy, when my heart said : “it all seem so unfair”

Dear irA :
Always beyond in my head the mosque we ever come together, but you know? Sadly all the grass was overgrown..
Now.. I can only said: “in loving memory of our love, so innocent and know nothing” I felt so empty as I cried, like part of me had died.
You wasn’t given me any choice when I heard desperation stole your voice..
I’ve been given so much more in life, I hope.. I got wife and I got child..
But enough... I had to suffer one last time, to grieve for you and ... Say : “GOODBYE MY DEAR”

Dear My Brothers (Ikhwan) and Sisters (Akhwat):
I know what it’s like to lose someone You love, cause this felt just the same at me now..

Inspired from Dream Theater’s lyric..

BTH, 05 Juli 2009.

“Barrakallahulaka wa Baraka ‘alaika, wa jama’a baynakuma fi khair Ya Ukhti Ya Akhi..”


Ttd



Ryan..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar