Oleh : ukhtina Aci Tankguh
Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh…
Sabtu pagi yang cerah, matahari mulai menduduki singgasananya, menyinari seisi bumi dengan kehangatan cinta dari Sang Ilahi… Langit nan biru menambah keindahan hari ini, 20 Februari 2010…
Demi menepati janji pada sahabat semua, kurelakan jari jemari ini menari di atas keyboard tuk sekedar membagikan sedikit ilmu yang aku dapatkan pada SEMINAR (lebih tepatnya seh taujih, coz biasanya SEMINAR kan diadain di ruangan yang gimana gitu, nah ini di Masjid.. Walopun masjidnya full AC dan nyaman sangad…) dengan tema yang sangat menarik >> Temukan Calonnya, Gapai Cinta-Nya… Ada juga yang bilang temanya itu >> Kejar Calonnya, Gapai Cinta-Nya, nah kalo tema yang satu ini sempet disindir ma Moderatornya, “Saya khawatir setelah SEMINAR ini akan banyak terjadi kejar-kejaran antara ikhwan dan akhwat di seputaran masjid…” Hehe, bisa aja.. Emang berani gitu?!
Mau tau sapa yang jadi pembicaranya??? Sapa lagi yang bisa menarik minat ratusan ikhwan dan akhwat Palembang segala usia tuk berkumpul dalam Masjid Al Aqobah 1 PT. PUSRI di hari Ahad, 14 Februari 2010, kalo bukan penulis kenamaan yang hampir semua bukunya Best Seller itu, penulis buku “NIKMATNYA PACARAN, Setelah Pernikahan” yang mampu menggetarkan tiap hati pemuda-pemudi ketika mendengar judulnya… Sapa seh yang ga bergetar hatinya pas ngedenger kata NIKMATNYA PACARAN?? Walaupun diakhiri dengan sepenggal kata Setelah Pernikahan, ^__^
Salim A Fillah, itulah nama pembicara di SEMINAR itu… Oya, aku belum nyebutin SEMINAR apa ya?? Maaf deh, kelupaan… SEMINAR Pendidikan Pra dan Pasca Nikah, wuiiih seru ni SEMINAR… Bayangin aja saking menariknya SEMINAR ini, yang dateng ke sana bukan hanya yang telah ‘cukup’ usia tapi juga anak-anak usia sekolah, anak SMP contohnya… Kata mereka, “Lah ini kan SEMINAR Pra Nikah, aku kan juga uda masuk usia Pra Nikah loh mb.” ..Iya juga seh, salah lagi deh… Ckckck, anak jaman sekarang dah pada pinter ngomong ya… Diajarin murabbinya tuh, makanya jadi pada pinter… Hehe…
Hmmm… Kepanjangan ni mukaddimahnya, langsung aja ke topik bahasannya ya… Aduh, jadi bingung ni mau mulai dari mana?? Kita mulai dari, apa seh sebenernya pernikahan itu, seperti apa, dan bagaimana cara mempersiapkan diri sebelum memutuskan untuk menikah…???
Pernikahan adalah sesuatu yang suci, sakral dan bernilai ibadah, karena pernikahan adalah salah satu dari sekian pintu yang digunakan untuk meraih keridhaanNya.. Pernikahan juga merupakan ikatan suci antara dua insan, di mana mereka saling mendukung dan mendampingi antara satu dan lainnya demi menggapai keridhaan Rabb-nya.. “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kalian mengingat (kebesaran ALLAH).” (QS. 51: 49)
Menikah itu tidak semudah ataupun sesulit yang kita bayangkan, nah loh gimana ceritanya tuh… Banyak orang yang tidak mau menikah karena ia takut untuk menikah, takut tidak bisa bertahan dengan pasangannya, takut pasangannya tidaklah sama seperti yang dibayangkan sebelum menikah, takut tidak bisa menghidupi keluarga dengan baik, takut tidak terpenuhinya semua keinginan yang telah ia rancang, takut ini takut itu dan takut segalanya… Ada juga yang menganggap menikah itu mudah, dengan hanya bermodalkan niat tanpa ada persiapan-persiapan yang harusnya ia miliki sebelum memutuskan untuk menikah… Lalu apa aja seh persiapan sebelum menikah itu???
1. Ruhiyah
Kenapa ruhiyah menjadi hal pertama yang harus dipersiapkan sebelum menikah?? Karena ketika kita belum menikah kita hanya disibukkan dengan diri sendiri dan keluarga kita, masalah kita pun tak sekompeks seperti halnya orang yang telah menikah. Maka dari itu kita harus memperhatikan hal satu ini, sebelum menikah kita harus meluruskan niat kita, untuk apa seh kita menikah?? Menikah itu haruslah dengan motivasi untuk beribadah kepada-Nya. Tidak salah, tidak salah sama sekali jika kita menikah disebabkan alasan psikis karena saling mencintai kemudian sepakat untuk menikah atau karena alasan biologis berupa dorongan syahwat pun tidak salah, namun jangan jadikan hal-hal tersebut sebagai satu-satunya alasan untuk menikah, terlepas dari kehendak untuk beribadah kepada-Nya. Berapakah lamanya perasaan cinta yang mampu bersemai dihati sepasang kekasih tanpa nilai ketaqwaan didalamnya dan seberapa mampukah gejolak syahwat diredam hanya karena tuntunan pemenuhan biologis semata. Sudah menjadi tabiat dasar manusia yang tidak pernah puas akan kesenangan dan kenikmatan, sampai-sampai Rasulullah bersabda adalah bani adam yang apabila diberi kepadanya sebuah lembah yang penuh emas, maka pasti dia akan meminta lembah lainnya berisi emas juga. Agar tendensi ketidak puasan tersebut mampu untuk dikendalikan, tak lain hanya dengan menggunakan rambu-rambu syariat dimana salah satunya ialah dengan menjadikan niat menikah dimotivasi akan keinginan untuk beribadah kepada-Nya sehingga mampu melahirkan sifat qana’ah atau kecukupan hati. Bukankah tujuan menikah ialah menciptakan ketenangan dan perasaan cinta serta kasih (sakinah, mawadah, warahmah) antara suami istri. Tidaklah ketenangan hati mampu dicapai kecuali dengan mengingat Allah dan tidaklah seseorang bisa mengingat Allah secara sempurna kecuali dia tengah beribadah kepada-Nya, sedangkan pemilik sesungguh-Nya dari perasaan cinta dan kasih ialah Allah SWT sehingga menjadi hak-Nya untuk memberikan perasaan tersebut kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya dan tentu saja menjadi hak-Nya juga untuk mencabut perasaan tersebut kapan saja Dia mau. Lalu apa yang bisa kita lakukan agar Allah SWT sudi untuk senantiasa menjadikan perasaan cinta dan kasih bersemayam dihati kita? Tentu saja dengan membuat Dia ridho melalui ibadah kepada-Nya… (Ngutip kata-kata di note-nya temen,…)
2. Ilmiah atau Ilmu Pengetahuan
Nah hal satu ini juga ga kalah penting dari yang pertama, seperti halnya kita akan memasuki dunia baru, kita harus tau apa saja seh yang ada di dunia itu, kemungkinan-kemungkinan apa saja yang akan tejadi selama kita di dunia baru itu, dan banyak lagi yang perlu kita ketahui sebelum kita memasuki dunia baru tersebut… Dalam sebuah pernikahan, kita harus tau banyak hal terkait tentang pernikahan… Carilah ilmu-ilmu berkenaan dengan pernikahan, bagaimana menjadi suami/istri yang baik, fiqh-fiqh, cara berkomunikasi efektif dengan pasangan, cara mendidik anak, de el el…
Berkaitan dengan cara berkomunikasi ini, ana punya catatan yang cukup menarik yang bisa kita pelajari bersama tentang perbedaan unik antara ikhwan dan akhwat dalam berkomunikasi…
- Single Tasking
Otak wanita memiliki Corpus Callosum, yaitu sekelompok saraf yang menghubungkan otak kanan dan kiri. Saraf inilah yang menghubungkan komunikasi di antara kedua belahan otak. Koneksi yang lebih kuat antara bagian-bagian otak yang berlainan meningkatkan kemampuan WANITA untuk melakukan MULTI TASKING atau beberapa tugas sekaligus.
Pada pria, saraf ini mempunyai ukuran 25% lebih kecil daripada wanita. Inilah sebab mengapa LAKI-LAKI UMUMNYA SINGLE TASKING : hanya bisa mengerjakan satu urusan pada satu saat.
- Berorientasi Solusi
Setiap tindakan kita atas suatu masalah ditentukan oleh level aman, yakni persepsi tentang seberapa parah dampak yang akan timbul. Level aman terhadap masalah bagi seorang WANITA lebih rendah, tetapi baginya yang terpenting adalah merasa DIDENGARKAN DAN DIPAHAMI. Orientasinya proses itu.
Level aman terhadap masalah bagi seorang laki-laki memang lebih tinggi. Tetapi baginya, masalah itu harus dipecahkan oleh dirinya sendiri, jadi laki-laki memang tidak mudah panik. Mungkin bagi wanita hal tersebut terkesan menggampangkan masalah. Dibalik ketidakpanikan, dalam diri LAKI-LAKI tertancap kuat sebuah persepsi bahwa setiap masalah harus berujung dengan SOLUSI.
Kita ambil satu cerita yang cukup menarik, suatu hari seorang istri bercerita tentang apa yang ia kerjakan seharian kepada sang suami, “Bang, aku capek banget nie, dari tadi aku ngurus anak-anak, nyuci baju, masak, semuanya deh… Huffh, bener-bener capek!”. Suaminya lantas berpikir, apa ya solusi untuk masalah dari istrinya ini. Dan dengan santainya ia mengatakan “Insyah Allah bulan depan kalo abang punya uang lebih kita akan pake jasa pembantu.” Terang saja si istri berpikir dalam hati, “hmm… Jadi selama ini aku dianggap pembantu ya?” Padahal maksud sih istri ia hanya ingin mencari telinga yang mau mendengarkannya, bukan berarti ia meminta dicarikan solusi dari permasalahannya. Kata Salim A Fillah, “Jika kita mau memahami tingkah laku sang istri dan menjadi pendengar terbaiknya, insyah Allah kita bisa menghemat banyak anggaran untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dan rahasia keluarga kita tak sampai ke telinga orang lain (karena sang istri merasa tak didengar di rumahnya sendiri).”
- Memilih DIAM Jika dihadapkan Masalah atau Pilihan Sulit
Ingat apa yang dialami Ibrahim as ketika diminta Allah meninggalkan anak dan istrinya di lembah tak bertuan, tak bertanaman, tak bermanusia, di dekat rumah Allah yang mulia? Perasaan sebagai bapak dan suami yang harus memimpin, melindungi dan menafkahi bergumul dengan perasaan sebagai hamba dan Nabi yang harus mentaati Allah. Maka dia tak sanggup bicara, hanya DIAM. Bahkan ketika Hajar bertanya tiga kali kepadanya, dia tetap tak bicara.
- Memerlukan Ruang Menyendiri dalam Kondisi Tertekan
Ketika Muhammad, lelaki yang banyak menyendiri memikirkan ummat itu mendapat wahyu pertama, dia shock. Seolah beban separuh bumi untuk mengubah nasib ummat manusia diletakkan di pundaknya seorang diri. Ketika pulang Beliau jatuh berulang kali, sesampainya di rumah ia berkeringat dingin, pucat pasi, menggigil dan pias. Dia berkata, “Selimuti aku, selimuti aku.. Selimuti aku!”
Kehebatan Khadijah sebagai istri adalah bahwa melihat kepanikan itu dia tak ikut panik dan tak bertanya, “Ada apa?” Dia langsung menyelimuti dan memberi ruang menyendiri kepada Muhammad untuk menenangkan diri.
Terkadang istri bermaksud baik untuk mendukung suaminya, dengan menanyakan apa yang menjadi permasalahan pada suaminya. Tapi sang suami berteriak dalam hati, “Bisa tolong biarkan aku sendiri gak sih? Percaya sajalah! Kalaupun ada yang ketinggalan, percayalah bahwa nanti aku akan menemukan solusinya! Kalaupun ada suatu masalah akibat keteledoran di sini, nanti akan kita cari solusinya di sana!”
Seorang lelaki lebih memilih menyendiri untuk menyelesaikan permasalahannya ketimbang menceritakan masalahnya kepada orang lain, sangat berbeda dengan perempuan yang dengan senang hati menceritakan apa yang terjadi padanya ke orang lain. Dia hanya ingin sedikit meringankan bebannya dengan berbagi ke orang lain, terkadang perempuan beranggapan lelaki itu seperti halnya dia. Sehingga ia senantiasa mengharap sang suami mau menceritakan permasalahan yang ia hadapi kepada dirinya, sama seperti yang ia lakukan.
- Menghitung dan Menimbang dalam Hubungan
Seorang wanita tidak menghitung. Ia akan memberi dan terus memberi sebagaimana pada saatnya. Ia menuntut untuk menerima dan terus menerima. Seorang laki-laki menghitung, “Saya sudah sekian kali memberi, boleh dong saya ambil kesempatan kali ini untuk diri saya.”
Seorang wanita tidak menimbang. Baginya satu kebaikan adalah satu kebaikan. Besar atau kecil tidak dipertimbangkan. Sementara laki-laki menimbang, “Jika saya sudah memberi kebaikan sebesar ini, saya berhak melakukan tiga kesalahan kecil tanpa disalahkan.”
- Memerlukan Jeda-jeda “Mandiri” untuk Menjaga Hubungan
Seorang wanita seperti gelombang. Kemampuannya mencintai seseorang naik dan turun sesuai apa yang dirasakannya dalam hubungan. Sebaliknya, seorang laki-laki seperti karet gelang. Ia secara otomatis berubah-ubah antara membutuhkan kedekatan dan kemandirian. Dan ketika dia mengambil jeda untuk melakukan kegiatannya sendiri yang tak berhubungan dengan orang lain, sebenarnya di situ akan dia temukan kebutuhan untuk mendekat kembali.
Maksudnya, ketika seorang lelaki merasa hubungannya dengan orang lain mengalami hal yang cukup menjenuhkan. Biasanya mereka akan mencari ruang untuk diri sendiri, misalnya ia berkumpul dengan teman-temannya, mencari sedikit hiburan dan ketika ia merasa lebih baik, ia akan kembali mendekat.
- Berkomunikasi dengan Kalimat Langsung
Kecerdasan menangkap makna, perempuan biasanya lebih tinggi sehingga kalimat tak langsung yang sering mereka gunakan sulit dipahami laki-laki. Untuk berkomunikasi dengan laki-laki: kalimat “Mau nggak bawain belanjaan?” lebih baik daripada “Belanjaannya masih di motor loh” atau “Minggu besok kita pergi yuk!” lebih baik daripada “Sudah lama loh kita nggak jalan-jalan.” Atau “Maukah kau menjemput anak-anak?” lebih baik daripada “Anak-anak harus dijemput dan aku masih banyak kerjaan.”
KEBUTUHAN EMOSI YANG UNIK
Laki-laki dan perempuan memiliki kebutuhan emosi yang berbeda. Wanita membutuhkan perhatian, pengertian, hormat, kesetiaan, penegasan dan jaminan. Sementara pria membutuhkan kepercayaan, penerimaan, penghargaan, kekaguman, persetujuan dan dorongan.
Kesalahan Wanita Sehingga Pria Merasa Tidak Dicintai
- Mencoba memperbaiki tingkah lakunya atau menolongnya dengan menawarkan nasehat yang baik yang tidak diminta. --} Pria merasa tidak dipercaya
- Mencoba mengubah atau menguasai tingkah laku dengan menyampaikan kesalahan atau perasaan negatif –nadanya memanipulasi dan menghukum-. --} Pria merasa tidak diterima
- Tidak menghargai yang dilakukan pria padanya, tetapi mengeluh mengenai apa yang tidak dilakukan oleh pria kepadanya. --} Pria merasa tidak dihargai
- Membetulkan tingkah lakunya dan memberitahu apa yang seharusnya, seolah-olah ia anak kecil. --} Pria merasa tidak dikagumi
- Perasaan kecewa diungkapkan tak langsung dengan pertanyaan retoris, “Mengapa kau melakukan itu?” --} Pria merasa tidak disetujui
- Ketika pria membuat keputusan atau mengambil inisiatif, wanita sering mengecamnya.
--} Pria merasa tidak didorong dan justru dikecilkan hatinya.
Kesalahan Pria Sehingga Wanita Merasa Tidak Dicintai
- Tidak mendengarkan, mudah terbagi perhatiannya, tidak mengajukan pertanyaan yang penuh minat atau perhatian. --} Wanita merasa tidak diperhatikan/dipedulikan
- Mengartikan perasaan secara harfiah, ia menganggap wanita perlu penyelesaian, karena itu ia memberinya solusi. --} Wanita merasa tidak dimengerti
- Mendengarkan, tapi kemudian marah dan menyalahkan (karena memang sebenarnya salah) atau karena membuatnya kecewa dan patah semangat.
--} Wanita merasa tidak dihormati
- Menganggap banyak hal penting lain (pekerjaan, anak-anak) harus diselesaikan daripada berlama-lama mendengarkan istri tanpa menemukan solusi.
--} Wanita merasa sang suami tidak setia
- Bila wanita marah, pria menjelaskan mengapa pria benar dan mengapa seharusnya wanita tidak boleh kecewa. --} Wanita merasa tidak dihargai atau pria tidak tegas menghargainya
- Setelah mendengarkan, tidak mengatakan apa-apa atau pergi begitu saja atau malah tertidur. --} Wanita tidak merasa mendapatkan jaminan
Hal-hal tersebut di atas terkadang terabaikan oleh kita sehingga mengakibatkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dalam kehidupan berumah tangga. Untuk itu sedini mungkin kita belajar memahami karakteristik lawan jenis kita, apa yang mereka inginkan ketika merasa sedih, apa yang dapat membuatnya menjadi seseorang yang dihargai, de el el…
Dalam kehidupan berumah tangga akan banyak hal tejadi yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, kita harus siap dengan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Kita tidak boleh hanya mengharapkan sesuatu dari pasangan kita tanpa berharap dapat memberikan sesuatu kepadanya. Jangan pula hanya disibukkan untuk mengurusi kemauan, tanpa menyibukkan diri untuk mencapai kemampuan kita dalam berumah tangga. Dan cintailah suami ataupun istrimu sebagaimana ia ingin dicintai, perilakukanlah ia sebagaimana ia ingin diperlakukan… (Salim A Fillah)
3. Jasadiyah
Ini juga perlu dipersiapkan sebelum kita menikah, terkadang kita mengabaikan faktor satu ini. Biasanya ketika masih bujangan atau gadis, kita akan makan apapun yang kita ingin makan, makan kapan pun kita ingin makan, tanpa mempedulikan apakah makanan itu baik untuk tubuh kita atau malah merusak sebagian fungsi organ tubuh kita. Kita juga jarang menyempatkan diri untuk olahraga, apalagi akhwat (pengakuan diri, hehe) jarang sekali membagi waktunya yang padat itu untuk sekedar mengolahragakan diri… Maka dari itu, mulai dari sekarang sempatkanlah waktu untuk olahraga, walaupun cuma setengah jam (lumayan lama ya, 15 menit juga bolehlah… ^^), atur pola makan (jangan makan siang pada saat mau makan malam, atau sarapan di penghujung Dhuha, makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang…), perhatikan makanan yang dimakan (makanlah makanan yang bergizi, sehat dan baik untuk tubuh kita. Jangan hanya makan ‘makanan kampus’, ‘makanan anak kost’, ataupun ‘makanan musafir’. Karena kita akan dimintai pertanggungjwaban atas apa yang kita makan, yang kelak akan berimbas pada keturunan kita.. Waspadalah! Waspadalah!)…
4. Finansial
Hal satu ini juga gak kalah penting untuk dipersiapkan, walaupun bukan hal yang utama namun juga merupakan hal yang penting… Khususnya untuk ikhwan nie, bukan berarti akhwat lantas cuek dengan hal ini ya… Aku punya sedikit cuplikan dari cerpen seorang teman, http://www.facebook.com/notes/ale-anwar-gmg/cerpen-pengaman-pernikahan-i-pra-nikah/293862875748
“Disamping mental untuk mengaplikasikan ilmu yang telah mereka miliki, para ikhwan juga wajib menyiapkan mental lain terkait kesiapan mereka untuk menikah, yaitu mental survive dan pantang menyerah untuk mencari maisyah. Itulah yang dimaksud dengan KESIAPAN BERMATERI. “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf (QS Al-Baqarah : 233)”
Materi tentu saja penting, walaupun materi bukan segala-galanya, tapi segala-galanya akan sulit bergerak jika tidak ada materi, namun seandainya kita menjadikan materi sebagai patokan kesiapan seorang ikhwan untuk menikah, maka hal tersebut menjadi sangat relative. Sekarang coba tanyakan pada dirimu, kira-kira materi apa ya yang minimal harus dimiliki sebelum seorang ikhwan memutuskan bahwa dirinya telah siap untuk menikah?” Apakah sudah ada rumah meskipun masih ngontrak? Mobil? Motor?
Hmmm… Coba kita melihat satu contoh kehidupan rumah tangga pada masa Rasulullah, yaitu kehidupan rumah tangga Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra. Pada saat Ali bin Abi Thalib menikahi Fatimah, harta apa yang dimiliki oleh Ali? Hanya baju perang saja. Hanya itulah yang dimiliki oleh Ali. Apakah Fatimah protes lalu menuntut lebih dari Ali? Adakah Rasulullah keberatan untuk melepaskan putri kesayangannya menikah dengan Ali? Fatimah sadar sebagai seorang suami Ali sudah berusaha keras untuk melaksanakan kewajibannya dalam memberikan nafkah dan Ali sudah berikhtiar semampunya untuk itu, namun bukankah untuk masalah hasil merupakan urusan Allah? Masalah hasil sudah diluar kewenangan Ali. Allah lebih melihat pada proses sebab masalah hasil adalah hak-Nya.
Cukuplah mental survive dan pantang menyerah serta giat bekerja dari seorang ikhwan menjadi pertanda bahwa dia telah memiliki KESIAPAN BERMATERI. Lalu menjadi pertanyaan yang krusial adalah, bagaimana cara kita menilai bahwa seorang ikhwan telah memiliki mental survive dan pantang menyerah serta giat bekerja? Cara menilainya ialah dengan melihat kegigihannya dalam bekerja. Mengetahui usaha-usaha apa saja yang telah dilakukannya dalam mencari nafkah, meskipun hasil dari kegigihan dan usahanya tersebut belum membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan. Itulah cara menilainya. Perlu digaris bawahi, bahwa kita katakan “belum” membuahkan hasil yang diharapkan. Kita tidak menggunakan frase kata “tidak” membuahkan hasil seperti yang diharapkan, tapi frase kata “belum”. Maksudnya apa? Mengapa kita menggunakan frase kata “belum”? Tiada lain ingin menyampaikan pesan positif bahwa untuk mendapatkan hasil seperti yang diharapkan itu hanya masalah waktu. Bukan masalah ketidak mampuan sang ikhwan apalagi kemustahilan, karena dia telah memiliki modal dasar yang paling fundamental dan berharga dalam mencari maisyah yakni MENTAL SURVIVE DAN PANTANG MENYERAH. Akan sangat berbeda ceritanya jika ia seorang yang telah memiliki kemapanan materi dan rupanya kemapanan tersebut diperolehnya karena bantuan orang tua mungkin atau warisan, sehingga belum bisa disebut sebagai ikhwan yang memiliki mental survive dan pantang menyerah sebab belum teruji. Bukankah Allah telah berjanji bahwa dia akan memampukan hamba-Nya yang miskin apabila hamba-Nya tersebut ingin menikah? (QS An-Nur : 32) Dan tidaklah janji tersebut akan ditunaikan oleh Allah kecuali bagi hamba-hamba-Nya yang mau berikhtiar untuk mewujudkannya. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (QS Ar-Ra’d : 11). Lalu siapakah hamba-Nya yang pantas untuk mendapatkan janji mampu dari-Nya? Tentu saja hanya bagi hamba-hamba-Nya yang mempunyai mental survive dan pantang menyerah, sebab hal tersebut merupakan representasi ikhtiar yang sesungguhnya.
5. Sosial
Sosial?? Apaan nie maksudnya?? Maksudnya, kita harus mempersiapkan diri dengan segala perubahan yang akan terjadi ketika kita menikah, bertambahnya peran kita setelah menikah (yang dulunya hanya sebagai seorang anak, cucu, adik, kakak, murid ataupun teman, kini kita akan bertambah peran menjadi seorang istri/suami, menjadi menantu, adik/kakak ipar, menjadi ayah/ibu, menjadi paman/bibi). Apalagi ketika kita telah tinggal terpisah dengan orang tua, kita harus mampu bermasyarakat dengan baik, menjadi tetangga yang baik untuk tetangga kita (paling tidak 40 rumah ke kanan, kiri, depan dan belakang), kita harus memiliki keinginan dan usaha untuk mengubah masyarakat ke arah yang lebih baik, bukankah seorang Muslim yang paling baik adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain, jangan sampai kita hanya disibukkan dengan urusan kita sendiri sehingga tidak mempedulikan orang-orang di sekitar kita…
Itulah beberapa hal yang harus kita persiapkan sebelum memutuskan untuk menikah, insyah Allah jika kita telah menyiapkan hal tersebut di atas kita akan lebih matang dalam menjalani kehidupan berumah tangga (amiiin). Ingatlah orang yang nantinya akan mendampingi kita dalam mengarungi samudera kehidupan ini bukanlah malaikat yang tanpa cacat, bukan pula bidadari yang senantiasa nampak ‘cantik’. Ia hanya insan biasa yang pastinya memiliki banyak kekurangan di samping ia memiliki berjuta kelebihan yang seakan tertutup karena kekurangan yang ia miliki. Bersabarlah jika si dia tidaklah sebaik seperti yang kita harapkan sebelumnya, karena itu akan jauh lebih baik bagimu. Bersyukurlah, jika ternyata dia pun jauh lebih baik dari yang pernah kita pikirkan, itu akan membuatmu ditambahkan kenikmatan yang lebih dari-Nya. Bersiaplah dengan segala perubahan yang nantinya akan kau temukan dari si dia, baik itu perubahan ke arah lebih baik ataupun kebaikannya memudar karena sesuatu…
Hmmm… Lumayan panjang ya bahasannya, ternyata benar kata seorang senior di kampusku “Selusuh-lusuhnya catatan akan jauh lebih baik daripada setajam-tajamnya ingatan seseorang, karena ingatan seseorang itu bisa terhapus karena kita tidak hanya memikirkan satu hal saja dalam hidup ini, ada banyak hal yang kompleks yang pernah, sedang dan akan kita pikirkan.” Jadi walaupun catatanku berantakan, dengan tulisan ala dokter itu jauh lebih baik dari ingatan yang tajam. Maka dari itu, kalo lagi dengerin taujih jangan males nulis ya, biar ilmunya nempel teruuuus… (inget tuh Ci, INGET!!!)
Mungkin cuma itu saja yang bisa aku tuangkan dalam catatanku ini, mohon maaf jikala ada kesalahan dan kekhilafan di dalamnya (sok resmi amat ya?? Hehe)…
Semoga Bermanfaat!
Palembang Darussalam, 20 February 2010
Desi Dahlianti (Ukhtina Aci Tankguh)
^___^
Minggu, 21 Februari 2010
Senin, 15 Februari 2010
Cinta yang terlupakan
Oleh : Pipit Fiharsi
Bismillah,,
Seorang wanita terbaring lemas di atas sebuah tempat tidur,
keringat bercucuran mengalir dan membasahi wajahnya yang terlihat pucat dan lemas. Tenaganya terkuras setelah bertempur keras diantara hidup dan mati.
kelelahan itu tidak lama terpancar diwajahnya, sesaat setelah seorang wanita berpakaian dinas putih memperlihatkan seorang bayi mungil yang masih merah kepadanya dan berkata,
“Alhamdulillah anak ibu lahir dengan selamat dan sempurna ”.
Ia pun tersenyum lembut bersama aliran air mata di pipinya,
“Alhamdulillah ya Allah….alhamdulillah…., terima kasih ibu bidan”.
Seketika itu lenyaplah seluruh rasa sakit dan lemas ditubuhnya.
Kawan,
Itulah sekilas gambaran perjuangan keras ibu saat melahirkan
kita. Bukan sekedar gambaran perjuangan, namun juga gambaran cinta yang tulus tanpa pamrih. Wajarlah jika Rasulullah meletakan Ibu sebagai orang pertama dimana kita harus memberikan penghormatan kepadanya.
Hal ini bahkan di tegaskan oleh sabda Rasulullah:
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata,
“Datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata,
‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali ?’
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’
Orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi ?’
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallammenjawab, ‘Ibumu!’
Ia berta lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’,
Orang tersebut bertanya kembali,
‘Kemudian siapa lagi, ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab, ‘Bapakmu’ “
[Hadits Riwayat Bukhari (AL-Ftah 10/401) No. 5971, Muslim 2548]
Kawan,
Sekarang tanyalah pada diri kita, disela-sela kesibukan kita.
Sudah sejauh manakah perhatian dan cinta kasih kita kepada Ibu??
Bahkan kadang kita lupa bahwa dalam tumbuh besarnya kita sampai saat ini ada perasan keringatnya. kita lupa, dalam berhasilnya kita
saat ini adalah karena untaian do’a dan tangisnya.
Kawan,
Ditengah kesibukan kita, sudahkah kita menyapa Ibu walau hanya sekedar menelepon beberapa saat??
Pernahkah secara khusus kita membeli pulsa semata-mata untuk menanyakan kabar dan keadaan ibu tercinta kita?
Kawan,
Betapa mudahnya terkadang kita melupakan Ibu dengan
kehadiran orang lain di sisi kita. Betapa mudahnya dengan alasan kesibukan pekerjaan, kita lupakan perasan keringat, air mata dan terutama do’a dari seorang wanita yang memiliki cinta tanpa pamrih untuk kita.
Padahal Allah pun telah menyatakan:
“Kami perintahkan kepada manusia supaya beruntuk baik kepada kedua
orang tuanya, ibu mengandung degan susah payah, dan melahirkan degan susahpayah (pula)
(QS. Al-Ahqaf : 15).
Imam Adz-Dzhabai dalam kitab Al-Kabair pun berkata :
“Ibumu telah mengandungmu di dalam perut selama sembilan bulan
seolah-olah sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yg
hampir saja menghilangkan nyawanya. Dan dia telah menyusuimu dari
teteknya, dan ia hilangkan rasa kantuk krn menjagamu. Dan dia cuci
kotoranmu dgn tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas diri serta atas
makanannya. Dia jadikan pangkuan sebagai ayunan bagimu. Dia telah
memberikannmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh
tampak dari kesusahan yg luar biasa dan panjang sekali kesedihan dan
dia keluarkan harta untuk membayar dokter yg mengobatimu dan seandai
dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya
kamu hidup dengan suara yg paling keras.
Kawan,
Sadar atau tidak sadar, di sana ada seorang wanita yang selalu
mengkhawatirkan kita, dan selalu bertanya dalam hatinya “bagaimana ya
keadaan anakku hari ini?” Ia sangat khawatir dan ingin selalu tahu
keadaan anaknya setiap saat. Betapapun di saat itu tak sedikit pun kita
teringat akan keadannya.
di sana ada seorang wanita yang
selalu melantunkan doanya untuk kita, dan selalu berharap agar kita
selalu dalam keberhasilan. Ia sangat khawatir akan sesuatu kegagalan
jika menimpa anaknya.
sadarkah kita akan hal itu??
Kawan,
Betapa indahnya kehidupan ini apabila setiap hari kita mampu mencium
tangan ibu sebagai tanda hormat dan meminta restu sebelum menjalankan rutinitas kita. Dan betapa indahnya perjalanan hidup, apabila kita mampu menelpon dan menanyakan keadaan ibu kita walaupun ia berada jauh di sana.
Dan betapa bahagianya ibu kita mendengar kabar anaknya dalam keadaan sehat, betapapun kita belum mampu memberikan harta yang berlimpah kepadanya.
tak ada batas untuk kita selalu berbakti dan mencintai orangtua kita. Rasulullah telah mengatakan bahwa walaupun orangtua kita telah tiada, kita masih mampu menunjukkan bakti kita kepada mereka.
Karena kata beliau segala amal manusia akan terputus setelah
kematian kecuali salah satunya adalah do’a anak yang sholeh kepada
orang tuanya. Do’a kita akan sampai kepada orang tua kita yang telah
meninggal dunia, dengan satu syarat yaitu kita menjadi anak yang
sholeh.
Maka ada sebuah pertanyaan yang patut dan harus kita jawab, sudahkah kita berusaha menjadi anak sholeh bagi mereka?
Kawan,
Begitulah keagungan Islam mengatur cinta dan kasih sayang.
Cinta kepada Ibu misalnya, hingga sampai mampu menembus batas
antara kehidupan dunia dan akhirat.
Jangan lupa lantunkan do’a yang telah Rasulullah contohkan
“Rabbighfirlii…wali waalidaiya warham huma kamaa rabbayani shogiira,
“Ya Tuhanku ampunilah dosaku, dan dosa kedua orang tuaku dan
kasih sayangilah mereka, sebagaimana mereka mengasihiku di waktu
kecilku.”
Sebagai bukti kasih sayang kepada siapa seharusnya
kita mencintai.
Bismillah,,
Seorang wanita terbaring lemas di atas sebuah tempat tidur,
keringat bercucuran mengalir dan membasahi wajahnya yang terlihat pucat dan lemas. Tenaganya terkuras setelah bertempur keras diantara hidup dan mati.
kelelahan itu tidak lama terpancar diwajahnya, sesaat setelah seorang wanita berpakaian dinas putih memperlihatkan seorang bayi mungil yang masih merah kepadanya dan berkata,
“Alhamdulillah anak ibu lahir dengan selamat dan sempurna ”.
Ia pun tersenyum lembut bersama aliran air mata di pipinya,
“Alhamdulillah ya Allah….alhamdulillah…., terima kasih ibu bidan”.
Seketika itu lenyaplah seluruh rasa sakit dan lemas ditubuhnya.
Kawan,
Itulah sekilas gambaran perjuangan keras ibu saat melahirkan
kita. Bukan sekedar gambaran perjuangan, namun juga gambaran cinta yang tulus tanpa pamrih. Wajarlah jika Rasulullah meletakan Ibu sebagai orang pertama dimana kita harus memberikan penghormatan kepadanya.
Hal ini bahkan di tegaskan oleh sabda Rasulullah:
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata,
“Datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata,
‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali ?’
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’
Orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi ?’
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallammenjawab, ‘Ibumu!’
Ia berta lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’,
Orang tersebut bertanya kembali,
‘Kemudian siapa lagi, ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab, ‘Bapakmu’ “
[Hadits Riwayat Bukhari (AL-Ftah 10/401) No. 5971, Muslim 2548]
Kawan,
Sekarang tanyalah pada diri kita, disela-sela kesibukan kita.
Sudah sejauh manakah perhatian dan cinta kasih kita kepada Ibu??
Bahkan kadang kita lupa bahwa dalam tumbuh besarnya kita sampai saat ini ada perasan keringatnya. kita lupa, dalam berhasilnya kita
saat ini adalah karena untaian do’a dan tangisnya.
Kawan,
Ditengah kesibukan kita, sudahkah kita menyapa Ibu walau hanya sekedar menelepon beberapa saat??
Pernahkah secara khusus kita membeli pulsa semata-mata untuk menanyakan kabar dan keadaan ibu tercinta kita?
Kawan,
Betapa mudahnya terkadang kita melupakan Ibu dengan
kehadiran orang lain di sisi kita. Betapa mudahnya dengan alasan kesibukan pekerjaan, kita lupakan perasan keringat, air mata dan terutama do’a dari seorang wanita yang memiliki cinta tanpa pamrih untuk kita.
Padahal Allah pun telah menyatakan:
“Kami perintahkan kepada manusia supaya beruntuk baik kepada kedua
orang tuanya, ibu mengandung degan susah payah, dan melahirkan degan susahpayah (pula)
(QS. Al-Ahqaf : 15).
Imam Adz-Dzhabai dalam kitab Al-Kabair pun berkata :
“Ibumu telah mengandungmu di dalam perut selama sembilan bulan
seolah-olah sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yg
hampir saja menghilangkan nyawanya. Dan dia telah menyusuimu dari
teteknya, dan ia hilangkan rasa kantuk krn menjagamu. Dan dia cuci
kotoranmu dgn tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas diri serta atas
makanannya. Dia jadikan pangkuan sebagai ayunan bagimu. Dia telah
memberikannmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh
tampak dari kesusahan yg luar biasa dan panjang sekali kesedihan dan
dia keluarkan harta untuk membayar dokter yg mengobatimu dan seandai
dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya
kamu hidup dengan suara yg paling keras.
Kawan,
Sadar atau tidak sadar, di sana ada seorang wanita yang selalu
mengkhawatirkan kita, dan selalu bertanya dalam hatinya “bagaimana ya
keadaan anakku hari ini?” Ia sangat khawatir dan ingin selalu tahu
keadaan anaknya setiap saat. Betapapun di saat itu tak sedikit pun kita
teringat akan keadannya.
di sana ada seorang wanita yang
selalu melantunkan doanya untuk kita, dan selalu berharap agar kita
selalu dalam keberhasilan. Ia sangat khawatir akan sesuatu kegagalan
jika menimpa anaknya.
sadarkah kita akan hal itu??
Kawan,
Betapa indahnya kehidupan ini apabila setiap hari kita mampu mencium
tangan ibu sebagai tanda hormat dan meminta restu sebelum menjalankan rutinitas kita. Dan betapa indahnya perjalanan hidup, apabila kita mampu menelpon dan menanyakan keadaan ibu kita walaupun ia berada jauh di sana.
Dan betapa bahagianya ibu kita mendengar kabar anaknya dalam keadaan sehat, betapapun kita belum mampu memberikan harta yang berlimpah kepadanya.
tak ada batas untuk kita selalu berbakti dan mencintai orangtua kita. Rasulullah telah mengatakan bahwa walaupun orangtua kita telah tiada, kita masih mampu menunjukkan bakti kita kepada mereka.
Karena kata beliau segala amal manusia akan terputus setelah
kematian kecuali salah satunya adalah do’a anak yang sholeh kepada
orang tuanya. Do’a kita akan sampai kepada orang tua kita yang telah
meninggal dunia, dengan satu syarat yaitu kita menjadi anak yang
sholeh.
Maka ada sebuah pertanyaan yang patut dan harus kita jawab, sudahkah kita berusaha menjadi anak sholeh bagi mereka?
Kawan,
Begitulah keagungan Islam mengatur cinta dan kasih sayang.
Cinta kepada Ibu misalnya, hingga sampai mampu menembus batas
antara kehidupan dunia dan akhirat.
Jangan lupa lantunkan do’a yang telah Rasulullah contohkan
“Rabbighfirlii…wali waalidaiya warham huma kamaa rabbayani shogiira,
“Ya Tuhanku ampunilah dosaku, dan dosa kedua orang tuaku dan
kasih sayangilah mereka, sebagaimana mereka mengasihiku di waktu
kecilku.”
Sebagai bukti kasih sayang kepada siapa seharusnya
kita mencintai.
Sabtu, 13 Februari 2010
Cerpen : Pengaman Pernikahan II (Pasca-Nikah)
Oleh : Erjie Al-Batamiy
Alya dan ibundanya ingin menuntaskan malam dengan berdiskusi masalah pernikahan. Mulai dari masalah pada fase pra-nikah hingga masalah pada fase pasca-nikah. Tertangkup segenggam asa pada diri ibunda agar putri tercinta bisa lebih memahami dan siap menghadapi liku pernikahan.
“Malam terasa semakin akrab ya ananda dan tampaknya abi juga masih lama pulang dari masjidnya. Baiklah akan bunda bahas sekalian aja mengenai pengaman pasca-pernikahan.”
Alya tampak antusias.
“Jika tadi saat berbicara mengenai persiapan pra-nikah, bunda mengilustrasikan pernikahan sebagai sebuah perahu, maka kali ini saat berbicara mengenai pengaman pasca-pernikahan, bunda akan mengilustrasikan pernikahan bagai sebuah rumah yang terdiri dari pondasi dasar, lalu dinding dan atap, kemudian pernak-pernik seperti pagar ataupun taman. Bicara mengenai pengaman pasca-pernikahan sebenarnya sama saja kita tengah membicarakan hal-hal yang menjadi pondasi dasar, struktur maupun estetika pada sebuah pernikahan islami yang digambarkan bagai sebuah bangunan, dan hal yang menjadi pondasi dasar dari bangunan tersebut ialah ketaqwaan. Hendaklah pasangan suami istri mampu menjadikan ketaqwaan sebagai pondasi dasar pernikahan mereka. Adanya ketaqwaan mampu melahirkan ketenangan jiwa pada masing-masing diri suami maupun istri karena masing-masing dari mereka sama-sama cinta dan takut kepada Allah. Dengan begitu masing-masing akan berusaha menjaga diri dari perbuatan buruk atau tercela, baik yang terjadi di dalam maupun luar rumah sehingga hal-hal menyimpang yang mampu menciptakan kisruh dalam rumah tangga dapat diminimalisir. Bukankah kisruh dalam rumah tangga selalu disebabkan oleh hal-hal tercela yang dilakukan baik oleh suami atau istri maupun kedua-duanya? lalu bagaimana tidak padam api kekisruhan tersebut jika suami istri selalu mampu dan kompak untuk menghadirkan mata air ketaqwaan yang mampu mematikan api kekisruhan serta segar lagi menyejukan suasana”
…SAAT BERBICARA MENGENAI PENGAMAN PASCA-PERNIKAHAN, BUNDA AKAN MENGILUSTRASIKAN PERNIKAHAN BAGAI SEBUAH RUMAH YANG TERDIRI DARI PONDASI DASAR, LALU DINDING DAN ATAP, KEMUDIAN PERNAK-PERNIK SEPERTI PAGAR ATAUPUN TAMAN…
…HENDAKLAH PASANGAN SUAMI ISTRI MAMPU MENJADIKAN KETAQWAAN SEBAGAI PONDASI DASAR PERNIKAHAN MEREKA…
…BAGAIMANA TIDAK PADAM API KEKISRUHAN TERSEBUT JIKA SUAMI ISTRI SELALU MAMPU DAN KOMPAK UNTUK MENGHADIRKAN MATA AIR KETAQWAAN YANG MAMPU MEMATIKAN API KEKISRUHAN SERTA SEGAR LAGI MENYEJUKAN SUASANA…
“Hm.. Jika dikaitkan dengan masalah pernikahan, Alya menjadi bertambah mengerti bunda akan sabda Rasulullah yang memerintahkan kita untuk selalu menjaga ketaqwaan kapanpun waktunya, baik saat masih belum menikah maupun sesudahnya dan dimanapun kita berada, baik saat didalam maupun diluar rumah”
“Betul sekali ananda. Definisi mahsyur dari ketaqwaan menurut para ulama ialah menjalankan perintah Allah SWT sesuai dengan kemampuan yang kita miliki dan menjauhi larangan-Nya tanpa terkecuali. Hal tersebut berlaku kapanpun waktunya dan dimanapun kita berada. Untuk itu wahai anandaku, mengapa sedari awal saat berbicara mengenai masalah pernikahan, bunda memulainya dengan niat ibadah sebagai awal persiapan sebelum menikah, karena tanpa niat awal menikah untuk beribadah kepada-Nya, akan sulit walaupun bukannya tidak mungkin bagi pasangan suami istri menghadirkan nilai-nilai ketaqwaan apabila mereka berumah tangga kelak, yang tentunya nilai-nilai tersebut harus dimulai dari diri suami dan istri terlebih dahulu. Allah memerintahkan kita sebagai orang beriman untuk masuk islam atau menjadi seorang muslim yang kaffah. Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan / kaffah (QS Al-Baqarah : 208). Dengan begitu telah menjadi keharusan bagi kita untuk menjadi seorang muslim yang total, jangan setengah-setengah, termasuk dalam hal ketaqwaan. Menikah hanya mampu menyempurnakan separuh agama seseorang, namun setengahnya lagi perlu disempurnakan melalui?” Bunda berinteraksi dengan Alya.
“Dengan ketaqwaan bunda” Mudah Alya menjawabnya karena telah menjadi hapalan diluar kepala (dhabatus sadr) akan hadits Rasulullah SAW yang berbunyi bahwa dengan menikah berarti seseorang telah menyempurnakan separuh agamanya, untuk itu hendaklah mereka menyempurnakan separuhnya lagi dengan bertaqwa.
…DEFINISI MAHSYUR DARI KETAQWAAN MENURUT PARA ULAMA IALAH MENJALANKAN PERINTAH ALLAH SWT SESUAI DENGAN KEMAMPUAN YANG KITA MILIKI DAN MENJAUHI LARANGAN-NYA TANPA TERKECUALI. HAL TERSEBUT BERLAKU KAPANPUN WAKTUNYA DAN DIMANAPUN KITA BERADA…
…KARENA TANPA NIAT AWAL MENIKAH UNTUK BERIBADAH KEPADA-NYA, AKAN SULIT WALAUPUN BUKANNYA TIDAK MUNGKIN BAGI PASANGAN SUAMI ISTRI MENGHADIRKAN NILAI-NILAI KETAQWAAN APABILA MEREKA BERUMAH TANGGA KELAK…
…MENIKAH HANYA MAMPU MENYEMPURNAKAN SEPARUH AGAMA SESEORANG, NAMUN SETENGAHNYA LAGI PERLU DISEMPURNAKAN MELALUI?...
“Betul, tiada lain dengan ketaqwaan. Allah telah menjelaskan bahwa pasangan kita adalah pakaian bagi kita. Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka (QS Al-Baqarah : 187), sedang pakaian sendiri pada umumnya berfungsi sebagai penutup aurat, dan pakaian yang indah khususnya sebagai perhiasan. Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan (Al A’raf : 26). Betapa bahagianya seseorang bila memiliki pasangan yang mampu menjadi pakaian untuk menutupi aib dan kekurangannya. Betapa bangganya seseorang dan bukan untuk suatu keujuban apabila memiliki pasangan yang mampu menjadi pakaian indah baginya sehingga pakaian tersebut bagaikan perhiasan yang selalu melekat padanya, sedangkan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah?” sambil tersenyum kembali ibunda mengajak dialog Alya.
“Wanita sholehah” Respon spontan Alya.
…SEHINGGA PAKAIAN TERSEBUT BAGAIKAN PERHIASAN YANG SELALU MELEKAT PADANYA, SEDANGKAN SEBAIK-BAIKNYA PERHIASAN DUNIA ADALAH?...
“Dan dalam hal ini lebih spesifik lagi ialah istri sholehah. Sesungguhnya Allah itu Maha Indah lagi mencintai keindahan. Dia hanya cinta kepada keindahan, dan tiadalah keindahan hakiki dimata Allah melainkan ketaqwaan. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu (QS Al Hujurat : 13). Ingatlah anandaku, dikarenakan pasangan kita adalah pakaian bagi kita, sedang sebaik-baiknya pakaian ialah pakaian taqwa (QS Al-A’raf : 26), bisa dikatakan bahwa sebaik-baiknya pasangan ialah pasangan yang bertaqwa. Itulah mengapa bunda katakan bahwa ketaqwaan menempati urutan pertama untuk keharmonisan sebuah rumah tangga”
…DIKARENAKAN PASANGAN KITA ADALAH PAKAIAN BAGI KITA, SEDANG SEBAIK-BAIKNYA PAKAIAN IALAH PAKAIAN TAQWA (QS AL-A’RAF : 26), BISA DIKATAKAN BAHWA SEBAIK-BAIKNYA PASANGAN IALAH PASANGAN YANG BERTAQWA…
Ketaqwaan… ketaqwaan… ketaqwaan… Alya coba untuk mengingat terus dengan melafalkannya dalam hati.
“Mukmin sejati kata Rasulullah ialah orang yang mampu menjaga lisan dan tangannya dengan baik sehingga orang-orang merasa aman dari kejahatan yang mungkin timbul atas keduanya. Tahukah ananda bahwa kejahatan lisan yang dimaksud oleh Rasulullah ialah representasi dari kejahatan yang akan menimbulkan luka batin atau tekanan psikis, sedangkan kejahatan tangan sendiri merupakan representasi dari kejahatan yang akan menimbulkan cedera fisik. Lihatlah betapa Rasulullah SAW telah terlebih dahulu memberikan rambu-rambu untuk mengantisipasi terjadinya kejahatan psikis dan fisik, dimana kejahatan tersebut salah satunya sering terjadi dalam kehidupan berumah tangga, sehingga oleh negara melahirkan Undang-undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Tidaklah seseorang mampu menjaga lisan dan tangannya dengan baik kecuali orang tersebut ialah seorang muttaqin. Dan sejalan dengan hal tersebut, perlu untuk diingat kembali bahwa hanya lelaki bertaqwalah yang mampu untuk menjawab kebutuhan akan rasa aman yang hakiki dari seorang wanita. Lagi-lagi ketaqwaan ananda.”
Tergambar jelas di pikiran Alya kepada pria seperti apa akan dia tambatkan hatinya. Dirinya mantap pada pria yang bertaqwa.
“Ada satu hal lagi yang menjadi konsekuensi apabila pasangan suami istri telah sepakat untuk menanamkan ketaqwaan sebagai pondasi rumah tangga. Konsekuensinya adalah mereka akan menjadikan Allah sebagai hakim atas semua permasalahan rumah tangga mereka. Nabi Muhammad sebagai saksi atas pelaksanaan syariatnya, sedang Al-Qur’an dan As-Sunah sebagai kitab rujukannya”
…MEREKA AKAN MENJADIKAN ALLAH SEBAGAI HAKIM ATAS SEMUA PERMASALAHAN RUMAH TANGGA MEREKA. NABI MUHAMMAD SEBAGAI SAKSI ATAS PELAKSANAAN SYARIATNYA, SEDANG AL-QUR’AN DAN AS-SUNAH SEBAGAI KITAB RUJUKANNYA…
“Maksudnya bunda?” Alya ingin lebih diperjelas.
“Maksudnya ialah tatkala pasangan suami istri dihadapkan pada perbedaan pendapat, maka dengan mantap mereka akan menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunah sebagai rujukan untuk menentukan pendapat siapa yang layak diambil. Manakala mereka membutuhkan solusi atas permasalahan rumah tangga, maka dengan yakin mereka akan menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunah sebagai referensi pertama dan utama untuk menemukan solusi. Dengan begitu tidak ada yang merasa paling betul sendiri. Tidak ada arogansi dalam kepemimpinan suami dalam rumah tangga. Suami tidak akan memberikan perintah yang bersifat dogmatis dengan pola perintah pokoknya kamu harus begini, pokoknya kamu harus begitu. Tapi pola kepemimpinan yang bersifat bijak lagi mencerdaskan, dengan merujuk pada Al-Qur’an dan As-Sunah, sementara istri juga tidak menjadi orang yang keras kepala terhadap perintah suami. Apabila perintah tersebut telah sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunah, maka dengan lapang dada dan yakin sang istri mengatakan saya dengarkan dan akan saya patuhi. Jauh dari sikap angkuh dan egois. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dzalim (QS Al-Maidah : 45). Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, Kami mendengar dan kami patuh. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS An-Nur : 51)”
…TATKALA PASANGAN SUAMI ISTRI DIHADAPKAN PADA PERBEDAAN PENDAPAT, MAKA DENGAN MANTAP MEREKA AKAN MENJADIKAN AL-QUR’AN DAN AS-SUNAH SEBAGAI RUJUKAN UNTUK MENENTUKAN PENDAPAT SIAPA YANG LAYAK DIAMBIL…
…MANAKALA MEREKA MEMBUTUHKAN SOLUSI ATAS PERMASALAHAN RUMAH TANGGA, MAKA DENGAN YAKIN MEREKA AKAN MENJADIKAN AL-QUR’AN DAN AS-SUNAH SEBAGAI REFERENSI PERTAMA DAN UTAMA UNTUK MENEMUKAN SOLUSI…
“Na’udzubillahi min dzalik…” Untuk kesekian kalinya Alya mengucapkan ta’awudz.
“Sesungguhnya menjadi murka Allah atas orang-orang yang masih menyisakan kesombongan dihatinya, sedang bentuk kesombongan sendiri sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW ialah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Jangan sampai sikap menolak kebenaran akan suatu hal dalam masalah rumah tangga menjadikan hati suami atau istri tersusupi sikap sombong. Dan tentunya standar yang digunakan untuk menentukan sebuah kebenaran ialah Al-Qur’an dan As-Sunah. Itu baru fair”
“Dengan begitu hak dan kewajiban masing-masing pasangan akan selalu terkelola dengan baik. Masing-masing mengerti posisinya dan peranan apa yang harus dilakoni dalam berumah tangga. Sebab keadilan menjadi keseharian, maka kedzaliman-pun kan lekang dibawa hanyut oleh alur kehidupan”
…SEBAB KEADILAN MENJADI KESEHARIAN, MAKA KEDZALIMAN-PUN KAN LEKANG DIBAWA HANYUT OLEH ALUR KEHIDUPAN…
“Subhanallah, putri bunda semakin cerdas saja. Betul sekali, keadilan-lah yang sedang bunda bicarakan. Tapi perlu diingat juga ananda, Rasulullah pernah bersabda bahwa wanita itu tercipta dari tulang rusuk pria, maka telah menjadi tabiat dasarnya untuk bengkok. Jika dibiarkan saja maka dia akan terus bengkok, namun jika terlalu keras dan terburu-buru meluruskannya, maka dia akan patah. Haruslah dengan lembut dan pelan-pelan dalam meluruskannya. Tahukah ananda bagian mana yang paling keras dan susah untuk diluruskan menurut Rasulullah?”
…JIKA DIBIARKAN SAJA MAKA DIA AKAN TERUS BENGKOK, NAMUN JIKA TERLALU KERAS DAN TERBURU-BURU MELURUSKANNYA, MAKA DIA AKAN PATAH. HARUSLAH DENGAN LEMBUT DAN PELAN-PELAN DALAM MELURUSKANNYA…
…TAHUKAH ANANDA BAGIAN MANA YANG PALING KERAS DAN SUSAH UNTUK DILURUSKAN MENURUT RASULULLAH?...
Alya belum mempunyai ilmunya. Belum mampu menjawabnya. Sejurus kemudian bunda dengan lembut mengelus-elus ubun-ubun Alya. Dengan penuh keanggunan bunda berujar,
“Bagian inilah yang paling keras untuk diluruskan wahai ananda”
Tahulah Alya maksud ibunda. Alya jadi mengerti bahwa bagian yang paling keras untuk diluruskan dari tulang rusuk ialah bagian atasnya, sedang yang dimaksud bagian atas pada diri wanita ialah kepala mereka. Pantas saja tadi bunda mengingatkan Alya untuk berhati-hati agar tidak menjadi orang yang keras kepala untuk menerima kebenaran dari perintah suami.
“Itulah pondasi dasar dari sebuah bangunan rumah tangga, yakni ketaqwaan. Lalu bagian berikutnya yang perlu ada dalam bangunan rumah tangga untuk melindungi pemiliki rumah dari mata-mata atau lirikan pihak lain yang menghembuskan bisikan was-was, dan menjaga empunya rumah dari intervensi pihak ketiga yang mungkin hadir hanya untuk sebuah kekisruhan, dimana hal tersebut akan datang dari segala penjuru, baik depan, belakang, samping, maupun atas. Tiada lain yang dibutuhkan oleh pemilik rumah tersebut ialah dinding yang tebal dan atap yang baik, yang mampu melindungi rahasia dan hal privasi pemilik rumah dari mata-mata atau bisikan-bisikan buruk pihak lainnya. Dinding dan atap yang bunda maksudkan ialah kepercayaan”
…MELINDUNGI PEMILIKI RUMAH DARI MATA-MATA ATAU LIRIKAN PIHAK LAIN YANG MENGHEMBUSKAN BISIKAN WAS-WAS, DAN MENJAGA EMPUNYA RUMAH DARI INTERVENSI PIHAK KETIGA YANG MUNGKIN HADIR HANYA UNTUK SEBUAH KEKISRUHAN, DIMANA HAL TERSEBUT AKAN DATANG DARI SEGALA PENJURU, BAIK DEPAN, BELAKANG, SAMPING, MAUPUN ATAS…
…DINDING DAN ATAP YANG BUNDA MAKSUDKAN IALAH KEPERCAYAAN…
Setelah ketaqwaan lalu yang kedua adalah kepercayaan Alya bergumam.
“Hendaklah suami dan istri saling memberikan kepercayaan terhadap pasangan. Adanya nilai-nilai ketaqwaan dalam kehidupan berumah tangga, insya Allah akan lebih memudahkan lahirnya sikap saling percaya antara suami dan istri. Kenapa demikian? Karena dengan adanya sikap taqwa dimasing-masing pihak baik suami maupun istri, maka akan terbentuk sebuah penilaian di hati. Suami akan menyaksikan dengan mata dan hatinya bahwa istrinya adalah seorang yang bertaqwa, begitu juga sebaliknya. Sehingga dari penilaian tersebut terciptalah suatu lafal dihati mereka yaitu pasanganku adalah orang yang bertaqwa, dikarenakan ketaqwaannya, insya Allah pasanganku akan mampu menjaga diri dari prilaku yang tercela. Tumbuh keyakinan dihatinya bahwa dengan ketaqwaan berarti pasanganku akan selalu menjaga Allah dengan menjaga amalan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Disebabkan pasanganku telah menjaga Allah, maka aku yakin Allah pun akan menjaga dia. Tercipta kemantapan batinnya, bahwa dengan ketaqwaan maka pasanganku akan selamat dari sifat kemunafikan. Insya Allah perkataannya bukanlah dusta. Janjinya selalu ditepati dan tatkala amanah kepercayaan telah kuberikan padanya, maka tak sekalipun dia menyia-nyiakannya apalagi mengkhianatinya. Itulah dinding dan atap kepercayaan wahai anandaku. Jika dinding tersebut kokoh sedang atapnya perkasa menjulang, maka akan sulit bagi setan baik dari golongan jin maupun manusia untuk memprovokasi ketentramannya. Tak jua bisikan atau hasutan mampu merobohkannya. Segala penjuru akan terjaga dari penglihatan mata-mata kedengkian.”
…ADANYA NILAI-NILAI KETAQWAAN DALAM KEHIDUPAN BERUMAH TANGGA, INSYA ALLAH AKAN LEBIH MEMUDAHKAN LAHIRNYA SIKAP SALING PERCAYA ANTARA SUAMI DAN ISTRI…
…TUMBUH KEYAKINAN DIHATINYA BAHWA DENGAN KETAQWAAN BERARTI PASANGANKU AKAN SELALU MENJAGA ALLAH DENGAN MENJAGA AMALAN PERINTAH-NYA DAN MENJAUHI LARANGAN-NYA. DISEBABKAN PASANGANKU TELAH MENJAGA ALLAH, MAKA AKU YAKIN ALLAH PUN AKAN MENJAGA DIA…
…TERCIPTA KEMANTAPAN BATINNYA, BAHWA DENGAN KETAQWAAN MAKA PASANGANKU AKAN SELAMAT DARI SIFAT KEMUNAFIKAN. INSYA ALLAH PERKATAANNYA BUKANLAH DUSTA. JANJINYA SELALU DITEPATI DAN TATKALA AMANAH KEPERCAYAAN TELAH KUBERIKAN PADANYA, MAKA TAK SEKALIPUN DIA MENYIA-NYIAKANNYA APALAGI MENGKHIANATINYA…
“Betapa pentingnya arti sebuah kepercayaan ya bunda. Mungkin lebih berharga daripada emas dan permata.”
“Jangan sampai kepercayaan pudar karena kedustaan, lalu hilang karena pengingkaran, kemudian lenyap tak berbekas karena pengkhianatan. Jangan sampai hal itu terjadi anandaku, karena akan sulit bagi kita untuk memperolehnya kembali. Bahkan dulu abi pernah berkata pada bunda. Abi pernah berkata, wahai istriku sesungguhnya tiadalah orang yang paling kupercaya didunia ini melainkan dirimu, sebab aku bersaksi bahwa dirimu termasuk seorang yang bertaqwa. Mungkin saja kesaksianku salah karena kejahilan dan kedhaifankun sebagai manusia biasa, namun ku tetap pada kesaksianku. Oleh karena itu wahai istriku, seandainya aku mendengar dari orang lain tentang keburukan-keburukanmu, maka aku akan tetap melakukan tabayyun atas informasi tersebut. Kutanyakan kepada mereka untuk berkata apa adanya atas apa yang mereka lihat dan dengar atas dirimu, lalu hal tersebut akan kutanyakan langsung padamu. Apapun yang engkau katakan mengenai hal tersebut, maka perkataan itulah yang aku ambil sebagai pegangan. Apabila perkataanmu berisi sangkalan sedang sangkalan tersebut adalah sebuah kebenaran, semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik daripada yang engkau kerjakan, namun seandainya sangkalan tersebut adalah sebuah kedustaan, maka biarlah Allah yang memutuskan hal apa yang pantas engkau terima wahai istriku. Aku bertawakal pada-Nya. Insya Allah tiada kuasa setan untuk mempengaruhiku. Sesungguhnya setan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya (QS An-Nahl : 99). Itulah prinsip abi dan bunda-pun berprinsip demikian. Betapa besar nilai sebuah kepercayaan telah diberikan abi kepada bunda, lalu bagaimana mungkin bunda sanggup mengkhianati kepercayaan tersebut. Begitu juga sebaliknya, abi juga takut menyia-nyiakan amanah yang telah bunda berikan kepadanya. Abi dan bunda sepakat bahwa pengkhianatan akan sebuah kepercayaan hanya akan membawa kemurkaan Allah. Untuk itu abi dan bunda saling menjaga dan mengingatkan. Agar murka Allah tak mendatangi. Jika telah begitu, maka rangkaian batu, pasir dan semen sebuah dinding dan atap kepercayaan akan luar biasa kokoh dan tak mudah goyah.”
…JANGAN SAMPAI KEPERCAYAAN PUDAR KARENA KEDUSTAAN, LALU HILANG KARENA PENGINGKARAN, KEMUDIAN LENYAP TAK BERBEKAS KARENA PENGKHIANATAN. JANGAN SAMPAI HAL ITU TERJADI ANANDAKU, KARENA AKAN SULIT BAGI KITA UNTUK MEMPEROLEHNYA KEMBALI…
…APABILA PERKATAANMU BERISI SANGKALAN SEDANG SANGKALAN TERSEBUT ADALAH SEBUAH KEBENARAN, SEMOGA ALLAH MEMBERIKAN BALASAN YANG LEBIH BAIK DARIPADA YANG ENGKAU KERJAKAN…
…NAMUN SEANDAINYA SANGKALAN TERSEBUT ADALAH SEBUAH KEDUSTAAN, MAKA BIARLAH ALLAH YANG MEMUTUSKAN HAL APA YANG PANTAS ENGKAU TERIMA WAHAI ISTRIKU. AKU BERTAWAKAL PADANYA…
“Masya Allah bunda, Alya jadi iri. Kompak sekali bunda dan abi ya” Alya berdoa semoga Allah sudi untuk memberikannya suami yang bisa selalu kompak dengannya kelak.
“Harus kompak dong sayang. Kan partner sejati.” Bunda tak bosan-bosannya menyemangati Alya.
“Jadi pondasinya ialah ketaqwaan sedang dinding dan atapnya adalah kepercayaan, kemudian apalagi bunda?”
“Setelah kita membicarakan pondasi dan dinding serta atap rumah, sesungguhnya kita telah bicara masalah yang paling esensial dari sebuah rumah. Setelah masalah esensi baru saatnya kita membicarakan masalah pernak-pernik, seperti dinding rumah maunya berwarna apa, lalu bentuk pagarnya gimana. Apakah ingin membuat taman didepan rumah. Terus kira-kira tumbuhan yang akan ditanami apa saja. Itulah pernak pernik dalam rumah tangga. Itulah masalah furu’ setelah ushul. Cukup penting walau bukan prioritas pertama, namun jangan diremehkan karena akan memberikan sentuhan keindahan akan tampilan rumah tangga.”
…SETELAH MASALAH ESENSI BARU SAATNYA KITA MEMBICARAKAN MASALAH PERNAK-PERNIK, SEPERTI DINDING RUMAH MAUNYA BERWARNA APA, LALU BENTUK PAGARNYA GIMANA…
…ITULAH MASALAH FURU’ SETELAH USHUL. CUKUP PENTING WALAU BUKAN PRIORITAS PERTAMA, NAMUN JANGAN DIREMEHKAN KARENA AKAN MEMBERIKAN SENTUHAN KEINDAHAN AKAN TAMPILAN RUMAH TANGGA…
“Pernak-pernik yang bunda maksud apa tuh bunda?” Alya bertanya manja.
“Pernak-pernik dalam rumah tangga ialah komunikasi antar pasangan. Memang bukan prioritas utama, namun cukup penting dan tidak bisa dinafikan. Adanya komunikasi akan menciptakan sikap saling pengertian antara suami dan istri. Suami akan mengerti apa maunya istri, begitu juga sebaliknya. Istri akan lebih belajar untuk memahami suami, sedang suami akan terus berusaha untuk mengerti istri. Adanya komunikasi yang intens antar suami istri, insya Allah akan mampu meminimalisir adanya kesalah pahaman atau mis-komunikasi. Bisa ananda bayangkan, betapa bahagianya pasangan yang mampu mengkomunikasikan keinginan masing-masing pihak. Komunikasikan semua hal, termasuk hal yang detil dan mungkin dianggap remeh, karena jika tidak dikomunikasikan maka hal tersebut bisa jadi besar dan membahayakan”
“Semua hal bunda?”
…PERNAK-PERNIK DALAM RUMAH TANGGA IALAH KOMUNIKASI ANTAR PASANGAN…
…ADANYA KOMUNIKASI AKAN MENCIPTAKAN SIKAP SALING PENGERTIAN ANTARA SUAMI DAN ISTRI. SUAMI AKAN MENGERTI APA MAUNYA ISTRI, BEGITU JUGA SEBALIKNYA. ISTRI AKAN LEBIH BELAJAR UNTUK MEMAHAMI SUAMI, SEDANG SUAMI AKAN TERUS BERUSAHA UNTUK MENGERTI ISTRI…
…KOMUNIKASIKAN SEMUA HAL, TERMASUK HAL YANG DETIL DAN MUNGKIN DIANGGAP REMEH, KARENA JIKA TIDAK DIKOMUNIKASIKAN MAKA HAL TERSEBUT BISA JADI BESAR DAN MEMBAHAYAKAN…
“Ya, terhadap semua hal. Misalnya suami ingin istrinya selalu memakai jilbab dengan warna itu atau warna itu, sedangkan istri mungkin lebih senang jika suaminya mengenakan kemeja atau terlihat rapi. Suami senangnya kalo dimasakin nasi goreng yang pedas, sementara istri senangnya kalo suami pulang dibawain sate atau martabak. Itulah contoh-contoh kecilnya ananda. Komunikasikan semuanya sebagai pernak pernik rumah untuk memberikan sentukan estetika sehingga melahirkan sinkronisasi keindahan.”
Perputaran dunia semakin menuju pada keheningan malam. Tak lama lagi abi akan pulang dari Masjid Al-Fath, sementara bunda sebentar lagi akan menyelesaikan tausiyah kepada Alya.
“Sesungguhnya adanya komunikasi antar suami istri merupakan bentuk penerapan dari budaya musyawarah yang sangat dianjurkan dalam islam. Allah berfirman : Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah (QS Ali Imron : 159). Para ulama memberikan subangsih pemikirannya atas kemanfaatan musyawarah, seperti ucapan Hasan Al-Basri, tiada suatu kaum yang melakukan musyawarah kecuali urusan mereka mendapatkan petunjuk. Lalu ucapan Al-Qurthubi, Kekeliruan dengan musyawarah lebih maslahat dibandingkan dengan kebenaran yang diambil secara individual. Jadi berkomunikasilah ananda kelak. Komunikasi akan berdampak pada keterbukaan diri dan keterbukaan diri akan melahirkan sikap saling pengertian.”
…KOMUNIKASI AKAN BERDAMPAK PADA KETERBUKAAN DIRI DAN KETERBUKAAN DIRI AKAN MELAHIRKAN SIKAP SALING PENGERTIAN…
“Contoh keteladanan akan budaya musyawarah misalnya bunda?”
“Lihatlah contoh-contoh komunikasi atau musyawarah kenabian. Nabi Ibrahim yang memusyawarahkan terlebih dahulu perihal mimpinya untuk menyembelih putra tercinta Ismail. Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu (QS Ash Shaffat : 102). Musyawarah Nabi Muhammad untuk berbagi pekerjaan rumah, sebab beliau ingin mengajarkan bahwa tugas rumah, seperti memasak, mencuci membersihkan rumah bukanlah kewajiban istri semata, melainkan kewajiban bersama dengan suami. Betapa indahnya bukan? Adanya komunikasi akan menimbulkan tiga kemungkinan. Pertama suami mengikuti kemauan istri. Kedua istri yang mengikuti kemauan suami, atau yang ketiga, kombinasi antara keinginan suami dan maunya istri. Silahkan saja dilakukan selama tidak bertentangan dengan hukum-hukum Allah. Keridhoaan mengikuti keinginan atau saran pasangan insya Allah akan melahirkan sifat saling mengalah, menghormati, dan berkorban. Insya Allah pernikahannya penuh berkah. Lihat juga contoh yang dilakukan oleh sahabat, dalam hal ini Abu Darda. Abu Darda adalah salah seorang sahabat yang mempunyai sifat serius dan terkenal sebagai ahli hikmah, namun ternyata dia juga memiliki sisi-sisi keromatisan. Dia pernah berkata kepada istrinya, wahai istriku ada sesuatu hal yang ingin aku sepakati dengan dirimu, yaitu apabila engkau melihat aku marah, maka aku minta janganlah engkau menyangkal perkataanku saat itu, sekalipun menurutmu perkataan tersebut kurang benar, dan pendapatmu lah yang benar. Untuk saat itu mengalahlah untuk mengiyakan perkataanku, sebab aku sedang emosi dan sulit berpikir jernih untuk menilai kesalahanku, lalu setelah emosiku reda, beritahukanlah kepadaku dengan santun tentang kesalahanku. Insya Allah aku akan bisa menerimanya sebab akal ku sudah berfungsi secara optimal dan aku pun akan melakukan hal yang sama terhadapmu jika engkau sedang marah wahai istriku.”
…ADANYA KOMUNIKASI AKAN MENIMBULKAN TIGA KEMUNGKINAN. PERTAMA SUAMI MENGIKUTI KEMAUAN ISTRI. KEDUA ISTRI YANG MENGIKUTI KEMAUAN SUAMI, ATAU YANG KETIGA, KOMBINASI ANTARA KEINGINAN SUAMI DAN MAUNYA ISTRI. SILAHKAN SAJA DILAKUKAN SELAMA TIDAK BERTENTANGAN DENGAN HUKUM-HUKUM ALLAH…
…KERIDHOAAN MENGIKUTI KEINGINAN ATAU SARAN PASANGAN INSYA ALLAH AKAN MELAHIRKAN SIFAT SALING MENGALAH, MENGHORMATI, DAN BERKORBAN. INSYA ALLAH PERNIKAHANNYA PENUH BERKAH…
“Subhanallah bunda, indah sekali ya”
“Itulah islam ananda. Peganglah tiga hal yang telah bunda sebutkan tadi yakni ketaqwaan dan kepercayaan sebagai pondasi, dinding dan atapnya, lalu komunikasi sebagai pernak perniknya. Tidaklah sesuatu layak disebut rumah jika hanya memiliki pernak-pernik seperti taman dan pagar, tanpa ada pondasi, dinding dan atapnya, namun tidaklah dikatakan indah sebuah rumah yang hanya memiliki pondasi, dinding dan atap saja, tanpa diwarnai cat dindingnya. Tanpa ada pagar maupun tamannya. Jadi semuanya tetap penting ananda”
Kesimpulan akhir sang bunda.
…PEGANGLAH TIGA HAL YANG TELAH BUNDA SEBUTKAN TADI YAKNI KETAQWAAN DAN KEPERCAYAAN SEBAGAI PONDASI, DINDING DAN ATAPNYA, LALU KOMUNIKASI SEBAGAI PERNAK PERNIKNYA…
…TIDAKLAH SESUATU LAYAK DISEBUT RUMAH JIKA HANYA MEMILIKI PERNAK-PERNIK SEPERTI TAMAN DAN PAGAR, TANPA ADA PONDASI, DINDING DAN ATAPNYA, NAMUN TIDAKLAH DIKATAKAN INDAH SEBUAH RUMAH YANG HANYA MEMILIKI PONDASI, DINDING DAN ATAP SAJA, TANPA DIWARNAI CAT DINDINGNYA. TANPA ADA PAGAR MAUPUN TAMANNYA. JADI SEMUANYA TETAP PENTING ANANDA…
“Insya Allah kalaupun ada konflik, maka bukanlah konflik yang berarti, melainkan hanya riak-riak sebagai garam kehidupan berumah tangga dan insya Allah akan cepat terselesaikan. Peganglah ketiga hal itu”
“Puas sekali rasanya Alya malam ini bunda, menerima kulian munakahah dari bunda” Malam terasa sempurna bagi Alya.
“Semoga semua apa yang telah bunda sampaikan bisa menjadi bekal kelak bagi ananda. Ingatlah ananda, bahwa pasangan kita adalah cermin diri kita. Jika kita hitam, maka cermin akan memantulkan bayangan bahwa kita hitam. Begitu juga jika kita bertaqwa, insya Allah bayangan yang terpantul adalah orang yang bertaqwa. Itulah pasangan kita. Maka taqwakan diri terlebih dahulu jika ingin mendapatkan pasangan yang bertaqwa. Sholehkan diri dulu jika ingin mendapatkan pasangan yang sholeh. Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula) (QS An-Nur : 26). Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin (QS An-Nur : 3)”
…INGATLAH ANANDA, BAHWA PASANGAN KITA ADALAH CERMIN DIRI KITA…
“Insya Allah apa yang bunda sampaikan akan betul-betul Alya pahami dan amalkan. Terima kasih bunda” Spontan Alya memeluk ibundanya.
Mereka bahagia menghabiskan malam itu. Dari kejauhan tampak abi sedang menuju kerumah untuk kembali bercengkrama diperaduan keluarga. Alya dan bunda menunggu kedatang abi dengan senangnya. Setelah sampai didepan rumah abi mengajak keduanya masuk kerumah dan melanjutkan peran masing-masing mereka sebagai sebuah keluarga sakinah, mawadah wa rahmah.
Note :
Semoga cerita yang singkat ini mampu memberikan inspirasi bagi kita semua, baik bagi ikhwan dan akhwat sekalian, juga tentunya bagi penulis. Amin.
Dan semoga tidak terhenti sebagai wacana semata, melainkan ditindak lanjuti menjadi sebuah amalan. Amin.
Simaklah perkataan Imam Al-Ghazali :
“Celakalah orang awam jika tidak berilmu. Celakalah orang berilmu jika tidak beramal, celakalah orang yang beramal jika tidak ikhlash” Na’udzubillahi min dzalik.
Alya dan ibundanya ingin menuntaskan malam dengan berdiskusi masalah pernikahan. Mulai dari masalah pada fase pra-nikah hingga masalah pada fase pasca-nikah. Tertangkup segenggam asa pada diri ibunda agar putri tercinta bisa lebih memahami dan siap menghadapi liku pernikahan.
“Malam terasa semakin akrab ya ananda dan tampaknya abi juga masih lama pulang dari masjidnya. Baiklah akan bunda bahas sekalian aja mengenai pengaman pasca-pernikahan.”
Alya tampak antusias.
“Jika tadi saat berbicara mengenai persiapan pra-nikah, bunda mengilustrasikan pernikahan sebagai sebuah perahu, maka kali ini saat berbicara mengenai pengaman pasca-pernikahan, bunda akan mengilustrasikan pernikahan bagai sebuah rumah yang terdiri dari pondasi dasar, lalu dinding dan atap, kemudian pernak-pernik seperti pagar ataupun taman. Bicara mengenai pengaman pasca-pernikahan sebenarnya sama saja kita tengah membicarakan hal-hal yang menjadi pondasi dasar, struktur maupun estetika pada sebuah pernikahan islami yang digambarkan bagai sebuah bangunan, dan hal yang menjadi pondasi dasar dari bangunan tersebut ialah ketaqwaan. Hendaklah pasangan suami istri mampu menjadikan ketaqwaan sebagai pondasi dasar pernikahan mereka. Adanya ketaqwaan mampu melahirkan ketenangan jiwa pada masing-masing diri suami maupun istri karena masing-masing dari mereka sama-sama cinta dan takut kepada Allah. Dengan begitu masing-masing akan berusaha menjaga diri dari perbuatan buruk atau tercela, baik yang terjadi di dalam maupun luar rumah sehingga hal-hal menyimpang yang mampu menciptakan kisruh dalam rumah tangga dapat diminimalisir. Bukankah kisruh dalam rumah tangga selalu disebabkan oleh hal-hal tercela yang dilakukan baik oleh suami atau istri maupun kedua-duanya? lalu bagaimana tidak padam api kekisruhan tersebut jika suami istri selalu mampu dan kompak untuk menghadirkan mata air ketaqwaan yang mampu mematikan api kekisruhan serta segar lagi menyejukan suasana”
…SAAT BERBICARA MENGENAI PENGAMAN PASCA-PERNIKAHAN, BUNDA AKAN MENGILUSTRASIKAN PERNIKAHAN BAGAI SEBUAH RUMAH YANG TERDIRI DARI PONDASI DASAR, LALU DINDING DAN ATAP, KEMUDIAN PERNAK-PERNIK SEPERTI PAGAR ATAUPUN TAMAN…
…HENDAKLAH PASANGAN SUAMI ISTRI MAMPU MENJADIKAN KETAQWAAN SEBAGAI PONDASI DASAR PERNIKAHAN MEREKA…
…BAGAIMANA TIDAK PADAM API KEKISRUHAN TERSEBUT JIKA SUAMI ISTRI SELALU MAMPU DAN KOMPAK UNTUK MENGHADIRKAN MATA AIR KETAQWAAN YANG MAMPU MEMATIKAN API KEKISRUHAN SERTA SEGAR LAGI MENYEJUKAN SUASANA…
“Hm.. Jika dikaitkan dengan masalah pernikahan, Alya menjadi bertambah mengerti bunda akan sabda Rasulullah yang memerintahkan kita untuk selalu menjaga ketaqwaan kapanpun waktunya, baik saat masih belum menikah maupun sesudahnya dan dimanapun kita berada, baik saat didalam maupun diluar rumah”
“Betul sekali ananda. Definisi mahsyur dari ketaqwaan menurut para ulama ialah menjalankan perintah Allah SWT sesuai dengan kemampuan yang kita miliki dan menjauhi larangan-Nya tanpa terkecuali. Hal tersebut berlaku kapanpun waktunya dan dimanapun kita berada. Untuk itu wahai anandaku, mengapa sedari awal saat berbicara mengenai masalah pernikahan, bunda memulainya dengan niat ibadah sebagai awal persiapan sebelum menikah, karena tanpa niat awal menikah untuk beribadah kepada-Nya, akan sulit walaupun bukannya tidak mungkin bagi pasangan suami istri menghadirkan nilai-nilai ketaqwaan apabila mereka berumah tangga kelak, yang tentunya nilai-nilai tersebut harus dimulai dari diri suami dan istri terlebih dahulu. Allah memerintahkan kita sebagai orang beriman untuk masuk islam atau menjadi seorang muslim yang kaffah. Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan / kaffah (QS Al-Baqarah : 208). Dengan begitu telah menjadi keharusan bagi kita untuk menjadi seorang muslim yang total, jangan setengah-setengah, termasuk dalam hal ketaqwaan. Menikah hanya mampu menyempurnakan separuh agama seseorang, namun setengahnya lagi perlu disempurnakan melalui?” Bunda berinteraksi dengan Alya.
“Dengan ketaqwaan bunda” Mudah Alya menjawabnya karena telah menjadi hapalan diluar kepala (dhabatus sadr) akan hadits Rasulullah SAW yang berbunyi bahwa dengan menikah berarti seseorang telah menyempurnakan separuh agamanya, untuk itu hendaklah mereka menyempurnakan separuhnya lagi dengan bertaqwa.
…DEFINISI MAHSYUR DARI KETAQWAAN MENURUT PARA ULAMA IALAH MENJALANKAN PERINTAH ALLAH SWT SESUAI DENGAN KEMAMPUAN YANG KITA MILIKI DAN MENJAUHI LARANGAN-NYA TANPA TERKECUALI. HAL TERSEBUT BERLAKU KAPANPUN WAKTUNYA DAN DIMANAPUN KITA BERADA…
…KARENA TANPA NIAT AWAL MENIKAH UNTUK BERIBADAH KEPADA-NYA, AKAN SULIT WALAUPUN BUKANNYA TIDAK MUNGKIN BAGI PASANGAN SUAMI ISTRI MENGHADIRKAN NILAI-NILAI KETAQWAAN APABILA MEREKA BERUMAH TANGGA KELAK…
…MENIKAH HANYA MAMPU MENYEMPURNAKAN SEPARUH AGAMA SESEORANG, NAMUN SETENGAHNYA LAGI PERLU DISEMPURNAKAN MELALUI?...
“Betul, tiada lain dengan ketaqwaan. Allah telah menjelaskan bahwa pasangan kita adalah pakaian bagi kita. Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka (QS Al-Baqarah : 187), sedang pakaian sendiri pada umumnya berfungsi sebagai penutup aurat, dan pakaian yang indah khususnya sebagai perhiasan. Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan (Al A’raf : 26). Betapa bahagianya seseorang bila memiliki pasangan yang mampu menjadi pakaian untuk menutupi aib dan kekurangannya. Betapa bangganya seseorang dan bukan untuk suatu keujuban apabila memiliki pasangan yang mampu menjadi pakaian indah baginya sehingga pakaian tersebut bagaikan perhiasan yang selalu melekat padanya, sedangkan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah?” sambil tersenyum kembali ibunda mengajak dialog Alya.
“Wanita sholehah” Respon spontan Alya.
…SEHINGGA PAKAIAN TERSEBUT BAGAIKAN PERHIASAN YANG SELALU MELEKAT PADANYA, SEDANGKAN SEBAIK-BAIKNYA PERHIASAN DUNIA ADALAH?...
“Dan dalam hal ini lebih spesifik lagi ialah istri sholehah. Sesungguhnya Allah itu Maha Indah lagi mencintai keindahan. Dia hanya cinta kepada keindahan, dan tiadalah keindahan hakiki dimata Allah melainkan ketaqwaan. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu (QS Al Hujurat : 13). Ingatlah anandaku, dikarenakan pasangan kita adalah pakaian bagi kita, sedang sebaik-baiknya pakaian ialah pakaian taqwa (QS Al-A’raf : 26), bisa dikatakan bahwa sebaik-baiknya pasangan ialah pasangan yang bertaqwa. Itulah mengapa bunda katakan bahwa ketaqwaan menempati urutan pertama untuk keharmonisan sebuah rumah tangga”
…DIKARENAKAN PASANGAN KITA ADALAH PAKAIAN BAGI KITA, SEDANG SEBAIK-BAIKNYA PAKAIAN IALAH PAKAIAN TAQWA (QS AL-A’RAF : 26), BISA DIKATAKAN BAHWA SEBAIK-BAIKNYA PASANGAN IALAH PASANGAN YANG BERTAQWA…
Ketaqwaan… ketaqwaan… ketaqwaan… Alya coba untuk mengingat terus dengan melafalkannya dalam hati.
“Mukmin sejati kata Rasulullah ialah orang yang mampu menjaga lisan dan tangannya dengan baik sehingga orang-orang merasa aman dari kejahatan yang mungkin timbul atas keduanya. Tahukah ananda bahwa kejahatan lisan yang dimaksud oleh Rasulullah ialah representasi dari kejahatan yang akan menimbulkan luka batin atau tekanan psikis, sedangkan kejahatan tangan sendiri merupakan representasi dari kejahatan yang akan menimbulkan cedera fisik. Lihatlah betapa Rasulullah SAW telah terlebih dahulu memberikan rambu-rambu untuk mengantisipasi terjadinya kejahatan psikis dan fisik, dimana kejahatan tersebut salah satunya sering terjadi dalam kehidupan berumah tangga, sehingga oleh negara melahirkan Undang-undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Tidaklah seseorang mampu menjaga lisan dan tangannya dengan baik kecuali orang tersebut ialah seorang muttaqin. Dan sejalan dengan hal tersebut, perlu untuk diingat kembali bahwa hanya lelaki bertaqwalah yang mampu untuk menjawab kebutuhan akan rasa aman yang hakiki dari seorang wanita. Lagi-lagi ketaqwaan ananda.”
Tergambar jelas di pikiran Alya kepada pria seperti apa akan dia tambatkan hatinya. Dirinya mantap pada pria yang bertaqwa.
“Ada satu hal lagi yang menjadi konsekuensi apabila pasangan suami istri telah sepakat untuk menanamkan ketaqwaan sebagai pondasi rumah tangga. Konsekuensinya adalah mereka akan menjadikan Allah sebagai hakim atas semua permasalahan rumah tangga mereka. Nabi Muhammad sebagai saksi atas pelaksanaan syariatnya, sedang Al-Qur’an dan As-Sunah sebagai kitab rujukannya”
…MEREKA AKAN MENJADIKAN ALLAH SEBAGAI HAKIM ATAS SEMUA PERMASALAHAN RUMAH TANGGA MEREKA. NABI MUHAMMAD SEBAGAI SAKSI ATAS PELAKSANAAN SYARIATNYA, SEDANG AL-QUR’AN DAN AS-SUNAH SEBAGAI KITAB RUJUKANNYA…
“Maksudnya bunda?” Alya ingin lebih diperjelas.
“Maksudnya ialah tatkala pasangan suami istri dihadapkan pada perbedaan pendapat, maka dengan mantap mereka akan menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunah sebagai rujukan untuk menentukan pendapat siapa yang layak diambil. Manakala mereka membutuhkan solusi atas permasalahan rumah tangga, maka dengan yakin mereka akan menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunah sebagai referensi pertama dan utama untuk menemukan solusi. Dengan begitu tidak ada yang merasa paling betul sendiri. Tidak ada arogansi dalam kepemimpinan suami dalam rumah tangga. Suami tidak akan memberikan perintah yang bersifat dogmatis dengan pola perintah pokoknya kamu harus begini, pokoknya kamu harus begitu. Tapi pola kepemimpinan yang bersifat bijak lagi mencerdaskan, dengan merujuk pada Al-Qur’an dan As-Sunah, sementara istri juga tidak menjadi orang yang keras kepala terhadap perintah suami. Apabila perintah tersebut telah sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunah, maka dengan lapang dada dan yakin sang istri mengatakan saya dengarkan dan akan saya patuhi. Jauh dari sikap angkuh dan egois. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dzalim (QS Al-Maidah : 45). Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, Kami mendengar dan kami patuh. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS An-Nur : 51)”
…TATKALA PASANGAN SUAMI ISTRI DIHADAPKAN PADA PERBEDAAN PENDAPAT, MAKA DENGAN MANTAP MEREKA AKAN MENJADIKAN AL-QUR’AN DAN AS-SUNAH SEBAGAI RUJUKAN UNTUK MENENTUKAN PENDAPAT SIAPA YANG LAYAK DIAMBIL…
…MANAKALA MEREKA MEMBUTUHKAN SOLUSI ATAS PERMASALAHAN RUMAH TANGGA, MAKA DENGAN YAKIN MEREKA AKAN MENJADIKAN AL-QUR’AN DAN AS-SUNAH SEBAGAI REFERENSI PERTAMA DAN UTAMA UNTUK MENEMUKAN SOLUSI…
“Na’udzubillahi min dzalik…” Untuk kesekian kalinya Alya mengucapkan ta’awudz.
“Sesungguhnya menjadi murka Allah atas orang-orang yang masih menyisakan kesombongan dihatinya, sedang bentuk kesombongan sendiri sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW ialah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Jangan sampai sikap menolak kebenaran akan suatu hal dalam masalah rumah tangga menjadikan hati suami atau istri tersusupi sikap sombong. Dan tentunya standar yang digunakan untuk menentukan sebuah kebenaran ialah Al-Qur’an dan As-Sunah. Itu baru fair”
“Dengan begitu hak dan kewajiban masing-masing pasangan akan selalu terkelola dengan baik. Masing-masing mengerti posisinya dan peranan apa yang harus dilakoni dalam berumah tangga. Sebab keadilan menjadi keseharian, maka kedzaliman-pun kan lekang dibawa hanyut oleh alur kehidupan”
…SEBAB KEADILAN MENJADI KESEHARIAN, MAKA KEDZALIMAN-PUN KAN LEKANG DIBAWA HANYUT OLEH ALUR KEHIDUPAN…
“Subhanallah, putri bunda semakin cerdas saja. Betul sekali, keadilan-lah yang sedang bunda bicarakan. Tapi perlu diingat juga ananda, Rasulullah pernah bersabda bahwa wanita itu tercipta dari tulang rusuk pria, maka telah menjadi tabiat dasarnya untuk bengkok. Jika dibiarkan saja maka dia akan terus bengkok, namun jika terlalu keras dan terburu-buru meluruskannya, maka dia akan patah. Haruslah dengan lembut dan pelan-pelan dalam meluruskannya. Tahukah ananda bagian mana yang paling keras dan susah untuk diluruskan menurut Rasulullah?”
…JIKA DIBIARKAN SAJA MAKA DIA AKAN TERUS BENGKOK, NAMUN JIKA TERLALU KERAS DAN TERBURU-BURU MELURUSKANNYA, MAKA DIA AKAN PATAH. HARUSLAH DENGAN LEMBUT DAN PELAN-PELAN DALAM MELURUSKANNYA…
…TAHUKAH ANANDA BAGIAN MANA YANG PALING KERAS DAN SUSAH UNTUK DILURUSKAN MENURUT RASULULLAH?...
Alya belum mempunyai ilmunya. Belum mampu menjawabnya. Sejurus kemudian bunda dengan lembut mengelus-elus ubun-ubun Alya. Dengan penuh keanggunan bunda berujar,
“Bagian inilah yang paling keras untuk diluruskan wahai ananda”
Tahulah Alya maksud ibunda. Alya jadi mengerti bahwa bagian yang paling keras untuk diluruskan dari tulang rusuk ialah bagian atasnya, sedang yang dimaksud bagian atas pada diri wanita ialah kepala mereka. Pantas saja tadi bunda mengingatkan Alya untuk berhati-hati agar tidak menjadi orang yang keras kepala untuk menerima kebenaran dari perintah suami.
“Itulah pondasi dasar dari sebuah bangunan rumah tangga, yakni ketaqwaan. Lalu bagian berikutnya yang perlu ada dalam bangunan rumah tangga untuk melindungi pemiliki rumah dari mata-mata atau lirikan pihak lain yang menghembuskan bisikan was-was, dan menjaga empunya rumah dari intervensi pihak ketiga yang mungkin hadir hanya untuk sebuah kekisruhan, dimana hal tersebut akan datang dari segala penjuru, baik depan, belakang, samping, maupun atas. Tiada lain yang dibutuhkan oleh pemilik rumah tersebut ialah dinding yang tebal dan atap yang baik, yang mampu melindungi rahasia dan hal privasi pemilik rumah dari mata-mata atau bisikan-bisikan buruk pihak lainnya. Dinding dan atap yang bunda maksudkan ialah kepercayaan”
…MELINDUNGI PEMILIKI RUMAH DARI MATA-MATA ATAU LIRIKAN PIHAK LAIN YANG MENGHEMBUSKAN BISIKAN WAS-WAS, DAN MENJAGA EMPUNYA RUMAH DARI INTERVENSI PIHAK KETIGA YANG MUNGKIN HADIR HANYA UNTUK SEBUAH KEKISRUHAN, DIMANA HAL TERSEBUT AKAN DATANG DARI SEGALA PENJURU, BAIK DEPAN, BELAKANG, SAMPING, MAUPUN ATAS…
…DINDING DAN ATAP YANG BUNDA MAKSUDKAN IALAH KEPERCAYAAN…
Setelah ketaqwaan lalu yang kedua adalah kepercayaan Alya bergumam.
“Hendaklah suami dan istri saling memberikan kepercayaan terhadap pasangan. Adanya nilai-nilai ketaqwaan dalam kehidupan berumah tangga, insya Allah akan lebih memudahkan lahirnya sikap saling percaya antara suami dan istri. Kenapa demikian? Karena dengan adanya sikap taqwa dimasing-masing pihak baik suami maupun istri, maka akan terbentuk sebuah penilaian di hati. Suami akan menyaksikan dengan mata dan hatinya bahwa istrinya adalah seorang yang bertaqwa, begitu juga sebaliknya. Sehingga dari penilaian tersebut terciptalah suatu lafal dihati mereka yaitu pasanganku adalah orang yang bertaqwa, dikarenakan ketaqwaannya, insya Allah pasanganku akan mampu menjaga diri dari prilaku yang tercela. Tumbuh keyakinan dihatinya bahwa dengan ketaqwaan berarti pasanganku akan selalu menjaga Allah dengan menjaga amalan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Disebabkan pasanganku telah menjaga Allah, maka aku yakin Allah pun akan menjaga dia. Tercipta kemantapan batinnya, bahwa dengan ketaqwaan maka pasanganku akan selamat dari sifat kemunafikan. Insya Allah perkataannya bukanlah dusta. Janjinya selalu ditepati dan tatkala amanah kepercayaan telah kuberikan padanya, maka tak sekalipun dia menyia-nyiakannya apalagi mengkhianatinya. Itulah dinding dan atap kepercayaan wahai anandaku. Jika dinding tersebut kokoh sedang atapnya perkasa menjulang, maka akan sulit bagi setan baik dari golongan jin maupun manusia untuk memprovokasi ketentramannya. Tak jua bisikan atau hasutan mampu merobohkannya. Segala penjuru akan terjaga dari penglihatan mata-mata kedengkian.”
…ADANYA NILAI-NILAI KETAQWAAN DALAM KEHIDUPAN BERUMAH TANGGA, INSYA ALLAH AKAN LEBIH MEMUDAHKAN LAHIRNYA SIKAP SALING PERCAYA ANTARA SUAMI DAN ISTRI…
…TUMBUH KEYAKINAN DIHATINYA BAHWA DENGAN KETAQWAAN BERARTI PASANGANKU AKAN SELALU MENJAGA ALLAH DENGAN MENJAGA AMALAN PERINTAH-NYA DAN MENJAUHI LARANGAN-NYA. DISEBABKAN PASANGANKU TELAH MENJAGA ALLAH, MAKA AKU YAKIN ALLAH PUN AKAN MENJAGA DIA…
…TERCIPTA KEMANTAPAN BATINNYA, BAHWA DENGAN KETAQWAAN MAKA PASANGANKU AKAN SELAMAT DARI SIFAT KEMUNAFIKAN. INSYA ALLAH PERKATAANNYA BUKANLAH DUSTA. JANJINYA SELALU DITEPATI DAN TATKALA AMANAH KEPERCAYAAN TELAH KUBERIKAN PADANYA, MAKA TAK SEKALIPUN DIA MENYIA-NYIAKANNYA APALAGI MENGKHIANATINYA…
“Betapa pentingnya arti sebuah kepercayaan ya bunda. Mungkin lebih berharga daripada emas dan permata.”
“Jangan sampai kepercayaan pudar karena kedustaan, lalu hilang karena pengingkaran, kemudian lenyap tak berbekas karena pengkhianatan. Jangan sampai hal itu terjadi anandaku, karena akan sulit bagi kita untuk memperolehnya kembali. Bahkan dulu abi pernah berkata pada bunda. Abi pernah berkata, wahai istriku sesungguhnya tiadalah orang yang paling kupercaya didunia ini melainkan dirimu, sebab aku bersaksi bahwa dirimu termasuk seorang yang bertaqwa. Mungkin saja kesaksianku salah karena kejahilan dan kedhaifankun sebagai manusia biasa, namun ku tetap pada kesaksianku. Oleh karena itu wahai istriku, seandainya aku mendengar dari orang lain tentang keburukan-keburukanmu, maka aku akan tetap melakukan tabayyun atas informasi tersebut. Kutanyakan kepada mereka untuk berkata apa adanya atas apa yang mereka lihat dan dengar atas dirimu, lalu hal tersebut akan kutanyakan langsung padamu. Apapun yang engkau katakan mengenai hal tersebut, maka perkataan itulah yang aku ambil sebagai pegangan. Apabila perkataanmu berisi sangkalan sedang sangkalan tersebut adalah sebuah kebenaran, semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik daripada yang engkau kerjakan, namun seandainya sangkalan tersebut adalah sebuah kedustaan, maka biarlah Allah yang memutuskan hal apa yang pantas engkau terima wahai istriku. Aku bertawakal pada-Nya. Insya Allah tiada kuasa setan untuk mempengaruhiku. Sesungguhnya setan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya (QS An-Nahl : 99). Itulah prinsip abi dan bunda-pun berprinsip demikian. Betapa besar nilai sebuah kepercayaan telah diberikan abi kepada bunda, lalu bagaimana mungkin bunda sanggup mengkhianati kepercayaan tersebut. Begitu juga sebaliknya, abi juga takut menyia-nyiakan amanah yang telah bunda berikan kepadanya. Abi dan bunda sepakat bahwa pengkhianatan akan sebuah kepercayaan hanya akan membawa kemurkaan Allah. Untuk itu abi dan bunda saling menjaga dan mengingatkan. Agar murka Allah tak mendatangi. Jika telah begitu, maka rangkaian batu, pasir dan semen sebuah dinding dan atap kepercayaan akan luar biasa kokoh dan tak mudah goyah.”
…JANGAN SAMPAI KEPERCAYAAN PUDAR KARENA KEDUSTAAN, LALU HILANG KARENA PENGINGKARAN, KEMUDIAN LENYAP TAK BERBEKAS KARENA PENGKHIANATAN. JANGAN SAMPAI HAL ITU TERJADI ANANDAKU, KARENA AKAN SULIT BAGI KITA UNTUK MEMPEROLEHNYA KEMBALI…
…APABILA PERKATAANMU BERISI SANGKALAN SEDANG SANGKALAN TERSEBUT ADALAH SEBUAH KEBENARAN, SEMOGA ALLAH MEMBERIKAN BALASAN YANG LEBIH BAIK DARIPADA YANG ENGKAU KERJAKAN…
…NAMUN SEANDAINYA SANGKALAN TERSEBUT ADALAH SEBUAH KEDUSTAAN, MAKA BIARLAH ALLAH YANG MEMUTUSKAN HAL APA YANG PANTAS ENGKAU TERIMA WAHAI ISTRIKU. AKU BERTAWAKAL PADANYA…
“Masya Allah bunda, Alya jadi iri. Kompak sekali bunda dan abi ya” Alya berdoa semoga Allah sudi untuk memberikannya suami yang bisa selalu kompak dengannya kelak.
“Harus kompak dong sayang. Kan partner sejati.” Bunda tak bosan-bosannya menyemangati Alya.
“Jadi pondasinya ialah ketaqwaan sedang dinding dan atapnya adalah kepercayaan, kemudian apalagi bunda?”
“Setelah kita membicarakan pondasi dan dinding serta atap rumah, sesungguhnya kita telah bicara masalah yang paling esensial dari sebuah rumah. Setelah masalah esensi baru saatnya kita membicarakan masalah pernak-pernik, seperti dinding rumah maunya berwarna apa, lalu bentuk pagarnya gimana. Apakah ingin membuat taman didepan rumah. Terus kira-kira tumbuhan yang akan ditanami apa saja. Itulah pernak pernik dalam rumah tangga. Itulah masalah furu’ setelah ushul. Cukup penting walau bukan prioritas pertama, namun jangan diremehkan karena akan memberikan sentuhan keindahan akan tampilan rumah tangga.”
…SETELAH MASALAH ESENSI BARU SAATNYA KITA MEMBICARAKAN MASALAH PERNAK-PERNIK, SEPERTI DINDING RUMAH MAUNYA BERWARNA APA, LALU BENTUK PAGARNYA GIMANA…
…ITULAH MASALAH FURU’ SETELAH USHUL. CUKUP PENTING WALAU BUKAN PRIORITAS PERTAMA, NAMUN JANGAN DIREMEHKAN KARENA AKAN MEMBERIKAN SENTUHAN KEINDAHAN AKAN TAMPILAN RUMAH TANGGA…
“Pernak-pernik yang bunda maksud apa tuh bunda?” Alya bertanya manja.
“Pernak-pernik dalam rumah tangga ialah komunikasi antar pasangan. Memang bukan prioritas utama, namun cukup penting dan tidak bisa dinafikan. Adanya komunikasi akan menciptakan sikap saling pengertian antara suami dan istri. Suami akan mengerti apa maunya istri, begitu juga sebaliknya. Istri akan lebih belajar untuk memahami suami, sedang suami akan terus berusaha untuk mengerti istri. Adanya komunikasi yang intens antar suami istri, insya Allah akan mampu meminimalisir adanya kesalah pahaman atau mis-komunikasi. Bisa ananda bayangkan, betapa bahagianya pasangan yang mampu mengkomunikasikan keinginan masing-masing pihak. Komunikasikan semua hal, termasuk hal yang detil dan mungkin dianggap remeh, karena jika tidak dikomunikasikan maka hal tersebut bisa jadi besar dan membahayakan”
“Semua hal bunda?”
…PERNAK-PERNIK DALAM RUMAH TANGGA IALAH KOMUNIKASI ANTAR PASANGAN…
…ADANYA KOMUNIKASI AKAN MENCIPTAKAN SIKAP SALING PENGERTIAN ANTARA SUAMI DAN ISTRI. SUAMI AKAN MENGERTI APA MAUNYA ISTRI, BEGITU JUGA SEBALIKNYA. ISTRI AKAN LEBIH BELAJAR UNTUK MEMAHAMI SUAMI, SEDANG SUAMI AKAN TERUS BERUSAHA UNTUK MENGERTI ISTRI…
…KOMUNIKASIKAN SEMUA HAL, TERMASUK HAL YANG DETIL DAN MUNGKIN DIANGGAP REMEH, KARENA JIKA TIDAK DIKOMUNIKASIKAN MAKA HAL TERSEBUT BISA JADI BESAR DAN MEMBAHAYAKAN…
“Ya, terhadap semua hal. Misalnya suami ingin istrinya selalu memakai jilbab dengan warna itu atau warna itu, sedangkan istri mungkin lebih senang jika suaminya mengenakan kemeja atau terlihat rapi. Suami senangnya kalo dimasakin nasi goreng yang pedas, sementara istri senangnya kalo suami pulang dibawain sate atau martabak. Itulah contoh-contoh kecilnya ananda. Komunikasikan semuanya sebagai pernak pernik rumah untuk memberikan sentukan estetika sehingga melahirkan sinkronisasi keindahan.”
Perputaran dunia semakin menuju pada keheningan malam. Tak lama lagi abi akan pulang dari Masjid Al-Fath, sementara bunda sebentar lagi akan menyelesaikan tausiyah kepada Alya.
“Sesungguhnya adanya komunikasi antar suami istri merupakan bentuk penerapan dari budaya musyawarah yang sangat dianjurkan dalam islam. Allah berfirman : Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah (QS Ali Imron : 159). Para ulama memberikan subangsih pemikirannya atas kemanfaatan musyawarah, seperti ucapan Hasan Al-Basri, tiada suatu kaum yang melakukan musyawarah kecuali urusan mereka mendapatkan petunjuk. Lalu ucapan Al-Qurthubi, Kekeliruan dengan musyawarah lebih maslahat dibandingkan dengan kebenaran yang diambil secara individual. Jadi berkomunikasilah ananda kelak. Komunikasi akan berdampak pada keterbukaan diri dan keterbukaan diri akan melahirkan sikap saling pengertian.”
…KOMUNIKASI AKAN BERDAMPAK PADA KETERBUKAAN DIRI DAN KETERBUKAAN DIRI AKAN MELAHIRKAN SIKAP SALING PENGERTIAN…
“Contoh keteladanan akan budaya musyawarah misalnya bunda?”
“Lihatlah contoh-contoh komunikasi atau musyawarah kenabian. Nabi Ibrahim yang memusyawarahkan terlebih dahulu perihal mimpinya untuk menyembelih putra tercinta Ismail. Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu (QS Ash Shaffat : 102). Musyawarah Nabi Muhammad untuk berbagi pekerjaan rumah, sebab beliau ingin mengajarkan bahwa tugas rumah, seperti memasak, mencuci membersihkan rumah bukanlah kewajiban istri semata, melainkan kewajiban bersama dengan suami. Betapa indahnya bukan? Adanya komunikasi akan menimbulkan tiga kemungkinan. Pertama suami mengikuti kemauan istri. Kedua istri yang mengikuti kemauan suami, atau yang ketiga, kombinasi antara keinginan suami dan maunya istri. Silahkan saja dilakukan selama tidak bertentangan dengan hukum-hukum Allah. Keridhoaan mengikuti keinginan atau saran pasangan insya Allah akan melahirkan sifat saling mengalah, menghormati, dan berkorban. Insya Allah pernikahannya penuh berkah. Lihat juga contoh yang dilakukan oleh sahabat, dalam hal ini Abu Darda. Abu Darda adalah salah seorang sahabat yang mempunyai sifat serius dan terkenal sebagai ahli hikmah, namun ternyata dia juga memiliki sisi-sisi keromatisan. Dia pernah berkata kepada istrinya, wahai istriku ada sesuatu hal yang ingin aku sepakati dengan dirimu, yaitu apabila engkau melihat aku marah, maka aku minta janganlah engkau menyangkal perkataanku saat itu, sekalipun menurutmu perkataan tersebut kurang benar, dan pendapatmu lah yang benar. Untuk saat itu mengalahlah untuk mengiyakan perkataanku, sebab aku sedang emosi dan sulit berpikir jernih untuk menilai kesalahanku, lalu setelah emosiku reda, beritahukanlah kepadaku dengan santun tentang kesalahanku. Insya Allah aku akan bisa menerimanya sebab akal ku sudah berfungsi secara optimal dan aku pun akan melakukan hal yang sama terhadapmu jika engkau sedang marah wahai istriku.”
…ADANYA KOMUNIKASI AKAN MENIMBULKAN TIGA KEMUNGKINAN. PERTAMA SUAMI MENGIKUTI KEMAUAN ISTRI. KEDUA ISTRI YANG MENGIKUTI KEMAUAN SUAMI, ATAU YANG KETIGA, KOMBINASI ANTARA KEINGINAN SUAMI DAN MAUNYA ISTRI. SILAHKAN SAJA DILAKUKAN SELAMA TIDAK BERTENTANGAN DENGAN HUKUM-HUKUM ALLAH…
…KERIDHOAAN MENGIKUTI KEINGINAN ATAU SARAN PASANGAN INSYA ALLAH AKAN MELAHIRKAN SIFAT SALING MENGALAH, MENGHORMATI, DAN BERKORBAN. INSYA ALLAH PERNIKAHANNYA PENUH BERKAH…
“Subhanallah bunda, indah sekali ya”
“Itulah islam ananda. Peganglah tiga hal yang telah bunda sebutkan tadi yakni ketaqwaan dan kepercayaan sebagai pondasi, dinding dan atapnya, lalu komunikasi sebagai pernak perniknya. Tidaklah sesuatu layak disebut rumah jika hanya memiliki pernak-pernik seperti taman dan pagar, tanpa ada pondasi, dinding dan atapnya, namun tidaklah dikatakan indah sebuah rumah yang hanya memiliki pondasi, dinding dan atap saja, tanpa diwarnai cat dindingnya. Tanpa ada pagar maupun tamannya. Jadi semuanya tetap penting ananda”
Kesimpulan akhir sang bunda.
…PEGANGLAH TIGA HAL YANG TELAH BUNDA SEBUTKAN TADI YAKNI KETAQWAAN DAN KEPERCAYAAN SEBAGAI PONDASI, DINDING DAN ATAPNYA, LALU KOMUNIKASI SEBAGAI PERNAK PERNIKNYA…
…TIDAKLAH SESUATU LAYAK DISEBUT RUMAH JIKA HANYA MEMILIKI PERNAK-PERNIK SEPERTI TAMAN DAN PAGAR, TANPA ADA PONDASI, DINDING DAN ATAPNYA, NAMUN TIDAKLAH DIKATAKAN INDAH SEBUAH RUMAH YANG HANYA MEMILIKI PONDASI, DINDING DAN ATAP SAJA, TANPA DIWARNAI CAT DINDINGNYA. TANPA ADA PAGAR MAUPUN TAMANNYA. JADI SEMUANYA TETAP PENTING ANANDA…
“Insya Allah kalaupun ada konflik, maka bukanlah konflik yang berarti, melainkan hanya riak-riak sebagai garam kehidupan berumah tangga dan insya Allah akan cepat terselesaikan. Peganglah ketiga hal itu”
“Puas sekali rasanya Alya malam ini bunda, menerima kulian munakahah dari bunda” Malam terasa sempurna bagi Alya.
“Semoga semua apa yang telah bunda sampaikan bisa menjadi bekal kelak bagi ananda. Ingatlah ananda, bahwa pasangan kita adalah cermin diri kita. Jika kita hitam, maka cermin akan memantulkan bayangan bahwa kita hitam. Begitu juga jika kita bertaqwa, insya Allah bayangan yang terpantul adalah orang yang bertaqwa. Itulah pasangan kita. Maka taqwakan diri terlebih dahulu jika ingin mendapatkan pasangan yang bertaqwa. Sholehkan diri dulu jika ingin mendapatkan pasangan yang sholeh. Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula) (QS An-Nur : 26). Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin (QS An-Nur : 3)”
…INGATLAH ANANDA, BAHWA PASANGAN KITA ADALAH CERMIN DIRI KITA…
“Insya Allah apa yang bunda sampaikan akan betul-betul Alya pahami dan amalkan. Terima kasih bunda” Spontan Alya memeluk ibundanya.
Mereka bahagia menghabiskan malam itu. Dari kejauhan tampak abi sedang menuju kerumah untuk kembali bercengkrama diperaduan keluarga. Alya dan bunda menunggu kedatang abi dengan senangnya. Setelah sampai didepan rumah abi mengajak keduanya masuk kerumah dan melanjutkan peran masing-masing mereka sebagai sebuah keluarga sakinah, mawadah wa rahmah.
Note :
Semoga cerita yang singkat ini mampu memberikan inspirasi bagi kita semua, baik bagi ikhwan dan akhwat sekalian, juga tentunya bagi penulis. Amin.
Dan semoga tidak terhenti sebagai wacana semata, melainkan ditindak lanjuti menjadi sebuah amalan. Amin.
Simaklah perkataan Imam Al-Ghazali :
“Celakalah orang awam jika tidak berilmu. Celakalah orang berilmu jika tidak beramal, celakalah orang yang beramal jika tidak ikhlash” Na’udzubillahi min dzalik.
Hari Valentine : Budaya Sampah
Oleh : Abinya Ismail
Kalau kita membuka lembaran-lembaran budaya islam, maka kita tidak akan mendapatkan kaum muslimin dalam keadaan terhina seperti sekarang ini. Bahkan kita akan dapatkan kisah-kisah yang membuat decak kagum. Kaum muslimin senantiasa menjadi pemimpin dunia.
Akan tetapi sekarang, generasi islambukan memimpin tapi di pimpin. Bukan mendikte tapi di dikte. Bukan pemain tapi di mainkan. Budaya Valentine sebagai buktinya. Budaya ini lahir dimana, punya agama apa dan bagaimana konsekuensi yang merayakannya.
Ada beberapa versi timbulnya perayaan valentine ini :
1) Perayaan Lupercalia merupakan rangkaian upacara pensucian pada Agaa Romawi kuno dari tanggal 13-18 Februari. Dua hari pertama persembahan untuk Dewi cinta bernama Juno Februata. Pada tanggal 14 ini pemuda berkumpul untuk memilih parah gadis dengan cara di undi. Selanjutnya karena sudah turun temurun para pemuda agama Nashrani kesulitan untuk merubahnya. Bertepatan dengan tanggal 14 Februari adalah kematian Santo Valentinus seorang pastur di Roma yang dianggap suci. Maka Paus Gelasius II tahun 14 Februari untuk memperingati kematian Valentinus, sehingga agama Nashrani semakin dekat di hati romawi kuno.
2) Kaisar Claudius II memerintahkan agar menangkap dan memenjarakan Santo Valentinus, karena telah berani menyatakan Tuhannya adalah Isa Al Masih dan menolak mengakui Tuhannya orang romawi kuno. Hingga kematiannya pada tanggal 14 Februari, manusia bersimpati padanya dengan memperingati kematiannya.
3) Kaisar Claudius II menganggap bahwa tentara bujangan itu lebih kuat dan perkasa dari pada tentara yang menikah. Maka dia melarang para tentara untuk menikah. Santo Valentinus diam-diam menikahkan para pemuda. Akhirnya dia ditangkap dan di eksekusi pada tanggal 14 Februari 269M.
Dari sejarahnya saja kita tau bahwa Valentine day atau hari Valentin adalah bukan dari agama Islam. Orang Islam punya agama sendiri, orang Nashrani memiliki agama sendiri, Romawi kuno memiliki agama sendiri, kenapa kita sibuk ikut merayakan agama mereka?????
Kalau kita ikut merayakan agama Nashrani, maka kita akan digolongkan sebagai nashrani, demikian juga kepada agama yang lainnya. Nabi Muhammmad SAW bersabda : "Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut" [HR.Tirmidzi].
Merayakan Valentine bearti ikut bersimpati kepada Valentinus yang mengatakan Isa Al Masih sebagai Tuhan. Apakah ini bukan mengiring kepada pemurtadan dan kekafiran?? Masihkah ini di anggap sesuatu yang biasa dan ditolerir???
Merayakan Valentine berarti kita ikut bersimpati dengan kematian pastur nashrani. Apa kepentingan kita dengan mereka, sehingga menjadikan kematiannya sebagai hari raya?? Akhirnya kami akan menutup nasehat ini dengan Firman Allah yang artinya : "HAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN, JANGANLAH KALIAN MENGAMBIL YAHUDI DAN NASHRANI SEBAGAI PEMIMPINMU, SEBAGIAN MEREKA MENJADI PEMIMPIN BAGI SEBAGIAN YANG LAIN. BARANG SIAPA DIANTARA KALIAN YANG MENGAMBIL MEREKA SEBAGAI PEMIMPIN, MAKA DIA TERMASUK GOLONGAN MEREKA. SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG-ORANG YANG ZALIM" [QS.Al Maidah : 50]
Kesimpulannya, Valentine day adalah BUDAYA SAMPAH yang di adobsi dari orang-orang kafir.
Kalau kita membuka lembaran-lembaran budaya islam, maka kita tidak akan mendapatkan kaum muslimin dalam keadaan terhina seperti sekarang ini. Bahkan kita akan dapatkan kisah-kisah yang membuat decak kagum. Kaum muslimin senantiasa menjadi pemimpin dunia.
Akan tetapi sekarang, generasi islambukan memimpin tapi di pimpin. Bukan mendikte tapi di dikte. Bukan pemain tapi di mainkan. Budaya Valentine sebagai buktinya. Budaya ini lahir dimana, punya agama apa dan bagaimana konsekuensi yang merayakannya.
Ada beberapa versi timbulnya perayaan valentine ini :
1) Perayaan Lupercalia merupakan rangkaian upacara pensucian pada Agaa Romawi kuno dari tanggal 13-18 Februari. Dua hari pertama persembahan untuk Dewi cinta bernama Juno Februata. Pada tanggal 14 ini pemuda berkumpul untuk memilih parah gadis dengan cara di undi. Selanjutnya karena sudah turun temurun para pemuda agama Nashrani kesulitan untuk merubahnya. Bertepatan dengan tanggal 14 Februari adalah kematian Santo Valentinus seorang pastur di Roma yang dianggap suci. Maka Paus Gelasius II tahun 14 Februari untuk memperingati kematian Valentinus, sehingga agama Nashrani semakin dekat di hati romawi kuno.
2) Kaisar Claudius II memerintahkan agar menangkap dan memenjarakan Santo Valentinus, karena telah berani menyatakan Tuhannya adalah Isa Al Masih dan menolak mengakui Tuhannya orang romawi kuno. Hingga kematiannya pada tanggal 14 Februari, manusia bersimpati padanya dengan memperingati kematiannya.
3) Kaisar Claudius II menganggap bahwa tentara bujangan itu lebih kuat dan perkasa dari pada tentara yang menikah. Maka dia melarang para tentara untuk menikah. Santo Valentinus diam-diam menikahkan para pemuda. Akhirnya dia ditangkap dan di eksekusi pada tanggal 14 Februari 269M.
Dari sejarahnya saja kita tau bahwa Valentine day atau hari Valentin adalah bukan dari agama Islam. Orang Islam punya agama sendiri, orang Nashrani memiliki agama sendiri, Romawi kuno memiliki agama sendiri, kenapa kita sibuk ikut merayakan agama mereka?????
Kalau kita ikut merayakan agama Nashrani, maka kita akan digolongkan sebagai nashrani, demikian juga kepada agama yang lainnya. Nabi Muhammmad SAW bersabda : "Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut" [HR.Tirmidzi].
Merayakan Valentine bearti ikut bersimpati kepada Valentinus yang mengatakan Isa Al Masih sebagai Tuhan. Apakah ini bukan mengiring kepada pemurtadan dan kekafiran?? Masihkah ini di anggap sesuatu yang biasa dan ditolerir???
Merayakan Valentine berarti kita ikut bersimpati dengan kematian pastur nashrani. Apa kepentingan kita dengan mereka, sehingga menjadikan kematiannya sebagai hari raya?? Akhirnya kami akan menutup nasehat ini dengan Firman Allah yang artinya : "HAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN, JANGANLAH KALIAN MENGAMBIL YAHUDI DAN NASHRANI SEBAGAI PEMIMPINMU, SEBAGIAN MEREKA MENJADI PEMIMPIN BAGI SEBAGIAN YANG LAIN. BARANG SIAPA DIANTARA KALIAN YANG MENGAMBIL MEREKA SEBAGAI PEMIMPIN, MAKA DIA TERMASUK GOLONGAN MEREKA. SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG-ORANG YANG ZALIM" [QS.Al Maidah : 50]
Kesimpulannya, Valentine day adalah BUDAYA SAMPAH yang di adobsi dari orang-orang kafir.
Kamis, 11 Februari 2010
Aku Tak Sendiri
Oleh : Adz Dzikr
Aku, terlahir dari keluarga yang serba ada, serba cukup,
bagiku ini adalah karunia dan nikmat yang telah Allah berikan untukku dan keluarga.
Serba ada, karena memang semuanya telah ada di Dunia ini,
Kami sekeluarga tidak pernah yang namanya kelaparan, ataupun harus menunggu belas kasihan orang lain untuk memberi kami sesuap nasi. Karena hal itu aku sangat menyukai melatunkan Qur’an Surat Ar-Rahman.
“Dan nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Kini aku hidup bersama Ibu dan adikku yang berusia 2,5 tahun.
Ayahku, telah meniggal tiga tahun lalu, meninggal yang dikarenakan penyakit yang telah bertahun-tahun dideritanya.
Kini aku menjadi tulang punggung keluarga.
ibuku juga tidak begitu khawatir akan kondisi ekonomi keluarga yang telah di tinggal pergi Ayah. Karena dari dulu ibu juga membuka kios dagangan kecil-kecilan di rumah. Tak pernah mengeluh, ataupun berkeluh kesah.
Karena Ibu sangat yakin akan adanya Sang Maha Pemberi rezeki. Selepas sekolah aku langsung membantu ibu untuk jualan, tak ada waktu bermain bagiku, bagiku hidup hanyalah sebuah permainan
Siang itu, seperti biasa aku melayani orang yang datang utuk membeli bensin dikios kecilku, berhimpitan dengan beberapa rumah tetangga di pinggir jalan, lalu lalang kendaraan menjadi pemandanga sehari-hari bagi kami sekeluarga. Pada saat itu entah mengapa adikku rewel sejak pagi, ibuku pun mampu membuat adikku tertidur, dan karena mungkin kecapek’an, ibuku pun tertidur. Sampai pada suatu peristiwa, yang mungkin tidak akan pernah aku lupa.
Salah seorang Pembeli dengan tidak sengaja membuang puntung rokok di sekitar kiosku, dan puntung rokok itu jatuh tepat di sisi dua drum, yang berisi minyak tanah dan bensin, Karena di sekitar drum itu masih ada genangan bensin di bawahnya, maka api dengan cepat menjalar ke sisi drum, dan teriknya matahari di siang itu di hiasi dengan ledakkan dua drum tersebut, gumpalan asap hitam pekat dari ledakan dan gelombang api besar menyambar apa saja yang ada didekatnya, tidak terkecuali kios dan rumah-rumah yang ada di sebelahnya. Belum sempat hilang dari keterkejutanku, aku bertindak cepat keluar rumah dan tidak sempat menyelamatkan ibu dan adikku yang terlelap dikamar. Karena api dengan cepat membesar.
Di antara deru api yang membesar hebat, teriakan ibu dan tangisan adikku hanya sebentar terdengar dan sayup-sayup hilang dikalahkan gemuruh api dan ledakan-ledakan yang berasal dari botol dan drum bensin lainnya. Dalam tempo hitungan menit, api membakar hangus dua bangunan kios dan rumah. Tak kuasa aku menahan kepanikan yang begitu hebat dari dalam diri untuk memasuki rumah dan menolong ibu dan adikku. Tubuhku meronta tapi Aku hanya terkujur kaku ditahan oleh tetangga sekitar untuk tidak dulu memasuki rumah. Dalam beberapa menit pemadam kebakaran berhasil meredakan api, dan tidak sampai terlalu menyempret ke rumah-rumah lainnya. api mulai mereda hanya asap hitam pekat masih membuat pandangan mata terhalang.
Begitu dipastikan aman, aku memasuki puing-puing rumah yang tadinya kayu-kayu dan triplek tersusun rapi, dengan seketika berubah menjadi hiasan-hiasan hitam dengan asap putih kecil ke udara. Dengan peralahan langkah-langkah kecilku, melihat-melihat sisi-sisi ruang rumah, aku belum juga melihat adanya tanda-tanda ibu dn adikku berada, dan ketika sampai di kamar mandi, aku terkejut hebat melihat dua jasad terkujur kaku di dalamnya, dengan posisi ibu mendekap yang melindungi adikku dengan badanya. Pengorbanan ibu yang luar biasa batinku, subhanallah… aku pun tersungkur menangis sejadi-jadinya, dan memulai membalikkan jasad ibuku, sungguh aku tak melihat luka bakar yang serius ditubuh sang ibu, wajahnya tersenyum dan bercahaya, dan anehnya jasadnya harum, keharuman yang belum pernah sama sekali ku cium sebelumnya.
"Sesungguhnya bila seorang yang beriman hendak meninggal dunia dan memasuki kehidupan akhirat, ia didatangi oleh segerombol malaikat dari langit. Wajah mereka putih bercahaya bak matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari surga. Selanjutnya mereka akan duduk sejauh mata memandang dari orang tersebut. Pada saat itulah Malaikat Maut 'alaihissalam menghampirinya dan duduk didekat kepalanya. Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata:
"Wahai jiwa yang baik, bergegas keluarlah dari ragamu menuju kepada ampunan dan keridhaan Allah". Segera ruh orang mukmin itu keluar dengan begitu mudah dengan mengalir bagaikan air yang mengalir dari mulut guci. Begitu ruhnya telah keluar, segera Malaikat maut menyambutnya. Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat Maut, para malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang tidak membiarkanya sekejappun berada di tangan Malaikat Maut. Para malaikat segera mengambil ruh orang mukmin itu dan membungkusnya dengan kain kafan dan wewangian yang telah mereka bawa dari surga. Dari wewangian ini akan tercium semerbak bau harum, bagaikan bau minyak misik yang paling harum yang belum pernah ada di dunia. Selanjutnya para malaikat akan membawa ruhnya itu naik ke langit. Tidaklah para malaikat itu melintasi segerombolan malaikat lainnya, melainkan mereka akan bertanya: "Ruh siapakah ini, begitu harum." Malaikat pembawa ruh itupun menjawab: Ini adalah arwah Fulan bin Fulan (disebut dengan namanya yang terbaik yang dahulu semasa hidup di dunia ia pernah dipanggil dengannya)."
(HR Imam Ahmad, dan Ibnu Majah)
Tangisan bercampur dengan kebahagiaan, karena kepergian ibu dengan kondisi yang baik, adik yang belum berdosa, membuatku yakin akan takdir Allah memanggil mereka karena Allah, begitu mencitai mereka, semoga Allah mengumpulkan keluarga di Jannah-Nya, dan ku berharap, aku dapat bertemu mereka kembali…
Derai-derai kecil menyelimuti radangnya hati akan kekuatan menempuh segala coba’an, kini aku tak punya keluarga, satu persatu orang – orang yang ku cintai pergi meninggalkanku…, tapi hal ini lah yang membuatku kuat dan tetap bertahan pada keyakinanku akan takdir Tuhan akan selalu baik untuk hamba-hamba-Nya. Aku yakin aku tak sendiri, karena aku masih punya Allah yang selalu menemaniku dan menjagaku, di setiap saat, dimanapun, dan kapanpun.
Cucuran air mata hanya ku tumpahkan pada setiap di sepertiga malam terakhirku.
Hanya kepada-Mu aku mengadu Ya Rabb
Hanya kepada-Mu ku meminta Ya Qohhar
Ku pinta akan kasih dan cinta-Mu kepada Ayah, Ibu, dan Adikku disisi-Mu,
Ku pinta Engkau berkenan mengampuni segala dosa-dosanya,
Ku pinta Engkau mengumpulkan kami kembali di surge-Mu..
Satu harapan yang terpatri dari dalam diriku
Ku meminta pada-Mu
Untuk menghadirkan seorang untuk menemaniku
Menemani langkah-langkahku
Jikapun tidak,
Aku ingin selalu berada dalam naugan-Mu,
Tetap merasa dekat dengan-Mu
Temani aku Ya Rabb.
Temani aku Ya Khobiir.
Temani aku Ya Mujiib.
Jangan biarkan aku sendiri disini
Jangan palingkan wajah-Mu
Untuk terus menatapku
Yakinkanku bahwa Aku tak sendiri
Yakinkanku bahwa Kau selalu bersamku
Yakinkanku bahwa Aku tak sendiri
--
Aku, terlahir dari keluarga yang serba ada, serba cukup,
bagiku ini adalah karunia dan nikmat yang telah Allah berikan untukku dan keluarga.
Serba ada, karena memang semuanya telah ada di Dunia ini,
Kami sekeluarga tidak pernah yang namanya kelaparan, ataupun harus menunggu belas kasihan orang lain untuk memberi kami sesuap nasi. Karena hal itu aku sangat menyukai melatunkan Qur’an Surat Ar-Rahman.
“Dan nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Kini aku hidup bersama Ibu dan adikku yang berusia 2,5 tahun.
Ayahku, telah meniggal tiga tahun lalu, meninggal yang dikarenakan penyakit yang telah bertahun-tahun dideritanya.
Kini aku menjadi tulang punggung keluarga.
ibuku juga tidak begitu khawatir akan kondisi ekonomi keluarga yang telah di tinggal pergi Ayah. Karena dari dulu ibu juga membuka kios dagangan kecil-kecilan di rumah. Tak pernah mengeluh, ataupun berkeluh kesah.
Karena Ibu sangat yakin akan adanya Sang Maha Pemberi rezeki. Selepas sekolah aku langsung membantu ibu untuk jualan, tak ada waktu bermain bagiku, bagiku hidup hanyalah sebuah permainan
Siang itu, seperti biasa aku melayani orang yang datang utuk membeli bensin dikios kecilku, berhimpitan dengan beberapa rumah tetangga di pinggir jalan, lalu lalang kendaraan menjadi pemandanga sehari-hari bagi kami sekeluarga. Pada saat itu entah mengapa adikku rewel sejak pagi, ibuku pun mampu membuat adikku tertidur, dan karena mungkin kecapek’an, ibuku pun tertidur. Sampai pada suatu peristiwa, yang mungkin tidak akan pernah aku lupa.
Salah seorang Pembeli dengan tidak sengaja membuang puntung rokok di sekitar kiosku, dan puntung rokok itu jatuh tepat di sisi dua drum, yang berisi minyak tanah dan bensin, Karena di sekitar drum itu masih ada genangan bensin di bawahnya, maka api dengan cepat menjalar ke sisi drum, dan teriknya matahari di siang itu di hiasi dengan ledakkan dua drum tersebut, gumpalan asap hitam pekat dari ledakan dan gelombang api besar menyambar apa saja yang ada didekatnya, tidak terkecuali kios dan rumah-rumah yang ada di sebelahnya. Belum sempat hilang dari keterkejutanku, aku bertindak cepat keluar rumah dan tidak sempat menyelamatkan ibu dan adikku yang terlelap dikamar. Karena api dengan cepat membesar.
Di antara deru api yang membesar hebat, teriakan ibu dan tangisan adikku hanya sebentar terdengar dan sayup-sayup hilang dikalahkan gemuruh api dan ledakan-ledakan yang berasal dari botol dan drum bensin lainnya. Dalam tempo hitungan menit, api membakar hangus dua bangunan kios dan rumah. Tak kuasa aku menahan kepanikan yang begitu hebat dari dalam diri untuk memasuki rumah dan menolong ibu dan adikku. Tubuhku meronta tapi Aku hanya terkujur kaku ditahan oleh tetangga sekitar untuk tidak dulu memasuki rumah. Dalam beberapa menit pemadam kebakaran berhasil meredakan api, dan tidak sampai terlalu menyempret ke rumah-rumah lainnya. api mulai mereda hanya asap hitam pekat masih membuat pandangan mata terhalang.
Begitu dipastikan aman, aku memasuki puing-puing rumah yang tadinya kayu-kayu dan triplek tersusun rapi, dengan seketika berubah menjadi hiasan-hiasan hitam dengan asap putih kecil ke udara. Dengan peralahan langkah-langkah kecilku, melihat-melihat sisi-sisi ruang rumah, aku belum juga melihat adanya tanda-tanda ibu dn adikku berada, dan ketika sampai di kamar mandi, aku terkejut hebat melihat dua jasad terkujur kaku di dalamnya, dengan posisi ibu mendekap yang melindungi adikku dengan badanya. Pengorbanan ibu yang luar biasa batinku, subhanallah… aku pun tersungkur menangis sejadi-jadinya, dan memulai membalikkan jasad ibuku, sungguh aku tak melihat luka bakar yang serius ditubuh sang ibu, wajahnya tersenyum dan bercahaya, dan anehnya jasadnya harum, keharuman yang belum pernah sama sekali ku cium sebelumnya.
"Sesungguhnya bila seorang yang beriman hendak meninggal dunia dan memasuki kehidupan akhirat, ia didatangi oleh segerombol malaikat dari langit. Wajah mereka putih bercahaya bak matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari surga. Selanjutnya mereka akan duduk sejauh mata memandang dari orang tersebut. Pada saat itulah Malaikat Maut 'alaihissalam menghampirinya dan duduk didekat kepalanya. Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata:
"Wahai jiwa yang baik, bergegas keluarlah dari ragamu menuju kepada ampunan dan keridhaan Allah". Segera ruh orang mukmin itu keluar dengan begitu mudah dengan mengalir bagaikan air yang mengalir dari mulut guci. Begitu ruhnya telah keluar, segera Malaikat maut menyambutnya. Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat Maut, para malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang tidak membiarkanya sekejappun berada di tangan Malaikat Maut. Para malaikat segera mengambil ruh orang mukmin itu dan membungkusnya dengan kain kafan dan wewangian yang telah mereka bawa dari surga. Dari wewangian ini akan tercium semerbak bau harum, bagaikan bau minyak misik yang paling harum yang belum pernah ada di dunia. Selanjutnya para malaikat akan membawa ruhnya itu naik ke langit. Tidaklah para malaikat itu melintasi segerombolan malaikat lainnya, melainkan mereka akan bertanya: "Ruh siapakah ini, begitu harum." Malaikat pembawa ruh itupun menjawab: Ini adalah arwah Fulan bin Fulan (disebut dengan namanya yang terbaik yang dahulu semasa hidup di dunia ia pernah dipanggil dengannya)."
(HR Imam Ahmad, dan Ibnu Majah)
Tangisan bercampur dengan kebahagiaan, karena kepergian ibu dengan kondisi yang baik, adik yang belum berdosa, membuatku yakin akan takdir Allah memanggil mereka karena Allah, begitu mencitai mereka, semoga Allah mengumpulkan keluarga di Jannah-Nya, dan ku berharap, aku dapat bertemu mereka kembali…
Derai-derai kecil menyelimuti radangnya hati akan kekuatan menempuh segala coba’an, kini aku tak punya keluarga, satu persatu orang – orang yang ku cintai pergi meninggalkanku…, tapi hal ini lah yang membuatku kuat dan tetap bertahan pada keyakinanku akan takdir Tuhan akan selalu baik untuk hamba-hamba-Nya. Aku yakin aku tak sendiri, karena aku masih punya Allah yang selalu menemaniku dan menjagaku, di setiap saat, dimanapun, dan kapanpun.
Cucuran air mata hanya ku tumpahkan pada setiap di sepertiga malam terakhirku.
Hanya kepada-Mu aku mengadu Ya Rabb
Hanya kepada-Mu ku meminta Ya Qohhar
Ku pinta akan kasih dan cinta-Mu kepada Ayah, Ibu, dan Adikku disisi-Mu,
Ku pinta Engkau berkenan mengampuni segala dosa-dosanya,
Ku pinta Engkau mengumpulkan kami kembali di surge-Mu..
Satu harapan yang terpatri dari dalam diriku
Ku meminta pada-Mu
Untuk menghadirkan seorang untuk menemaniku
Menemani langkah-langkahku
Jikapun tidak,
Aku ingin selalu berada dalam naugan-Mu,
Tetap merasa dekat dengan-Mu
Temani aku Ya Rabb.
Temani aku Ya Khobiir.
Temani aku Ya Mujiib.
Jangan biarkan aku sendiri disini
Jangan palingkan wajah-Mu
Untuk terus menatapku
Yakinkanku bahwa Aku tak sendiri
Yakinkanku bahwa Kau selalu bersamku
Yakinkanku bahwa Aku tak sendiri
--
Merasa diri paling merana
ceritanya agak panjang, tapi syarat akan hikmah. silahkan di simak, semoga bermanfaat
Saat itu saya tengah berada di kota Jeddah, Saudi Arabia. Terpapar dihadapan saya sebuah koran berbahasa Arab di lobby hotel. Tergerak saya melihat berita dan artikel yang tertulis di sana, hingga saya temukan sebuah tulisan yang amat bermanfaat ini.
Tersebutlah kisah nyata seorang kaya raya berkebangsaan Saudi bernama Ra'fat. Ia diwawancarai setelah ia berhasil sembuh dari penyakit liver akut yang ia idap. Pola hidup berlebihan dan mengkonsumsi makanan tak beraturan membuat Ra'fat mengalami penyakit di atas.
Ra'fat berobat untuk mencari kesembuhan. Banyak dokter dan rumah sakit ia kunjungi di Saudi Arabia sebagai ikhtiar. Namun meski sudah menyita banyak waktu, tenaga, pikiran dan biaya, sayangnya penyakit itu tidak kunjung sembuh juga. Ra'fat mulai mengeluh. Badannya bertambah kurus. Tak ubahnya seperti seorang pesakitan.
Demi mencari upaya sembuh, maka Ra'fat mengikuti saran dokter untuk berobat ke sebuah rumah sakit terkenal spesialis liver di Guangzhou, China. Ia berangkat ke sana ditemani oleh keluarga. Penyakit liver semakin bertambah parah. Maka saat Ra'fat diperiksa, dokter mengatakan bahwa harus diambil tindakan operasi segera. Ketika Ra'fat menanyakan berapa besar kemungkinan berhasilnya. Dokter menyatakan kemungkinannya adalah fifty-fifty.
"50% kalau operasi berhasil maka Anda akan sembuh, 50% bila tidak berhasil mungkin nyawa Anda adalah taruhannya!" jelas sang dokter.
Mendapati bahwa boleh jadi ia bakal mati, maka Ra'fat berkata, "Dokter, kalau operasi ini gagal dan saya bisa mati, maka izinkan saya untuk kembali ke negara saya untuk berpamitan dengan keluarga, sahabat, kerabat dan orang yang saya kenal. Saya khawatir bila mati menghadap Allah Swt namun saya masih punya banyak kesalahan terhadap orang yang saya kenal." Ra'fat berkata sedemikian sebab ia takut sekali atas dosa dan kesalahan yang ia perbuat.
Dengan enteng dokter membalas, "Terlalu riskan bagi saya untuk membiarkan Anda tidak segera mendapatkan penanganan. Penyakit liver ini sudah begitu akut. Saya tidak berani menjamin keselamatan diri Anda untuk kembali ke tanah air kecuali dalam 2 hari. Bila Anda lebih dari itu datang kembali ke sini, mungkin Anda akan mendapati dokter lain yang akan menangani operasi liver Anda."
Bagi Ra'fat 2 hari itu cukup berarti. Ia pun berjanji akan kembali dalam tempo itu. Serta-merta ia mencari pesawat jet yang bisa disewa dan ia pun pergi berangkat menuju tanah airnya.
Kesempatan itu betul-betul digunakan oleh Ra'fat untuk mendatangi semua orang yang pernah ia kenal. Satu per satu dari keluarga dan kerabat ia sambangi untuk meminta maaf dan berpamitan. Kepada mereka Ra'fat berkata, "Maafkan aku, Ra'fat yang kalian kenal ini sungguh banyak kesalahan dan dosa... Boleh jadi setelah dua hari dari sekarang saya sudah tidak lagi panjang umur..."
Itulah yang disampaikan Ra'fat kepada orang-orang. Dan setiap dari mereka menangis sedih atas kabar berita yang mereka dengar dari orang yang mereka cintai dan kagumi ini.
Ra'fat menyambangi satu per satu dari mereka. Meski dengan tubuh yang kurus tak berdaya, ia berniat mendatangi mereka untuk meminta doa dan berpamitan. Dan kondisi itu membuat Ra'fat menjadi sedih. Ia merasa menjadi manusia yang paling merana. Ia merasa tak berdaya dan tak berguna. Sering dalam kesedihannya ia membatin, "Ya Allah.... rupanya keluarga yang mencintai aku.... harta banyak yang aku miliki... perusahaan besar yang aku punya.... semuanya itu tidak ada yang mampu membantuku untuk kembali sembuh dari penyakit ini! Semuanya tak ada guna... semuanya sia-sia!"
Rasa emosi batin itu membuat tubuh Ra'fat bertambah lemah. Ia hanya mampu perbanyak istighfar memohon ampunan Tuhannya. Memutar tasbih sambil berdzikir kini menjadi kegiatan utamanya. Ia masih merasa bahwa dirinya adalah manusia yang paling merana di dunia.
Hingga saat ia sedang berada di mobilnya. duduk di kursi belakang dengan tangan memutar tasbih seraya berdzikir. Hanya Ra'fat dan supirnya yang berada di mobil itu. Mereka melaju berkendara menuju sebuah rumah kerabat dengan tujuan berpamitan dan minta restu. Saat itulah menjadi moment spesial yang tak akan terlupakan untuk Ra'fat.
Beberapa ratus meter di depan, mata Ra'fat melihat ada seorang wanita berpakaian abaya (pakaian panjang wanita Arab yang serba berwarna hitam) tengah berdiri di depan sebuah toko daging. di sisi wanita tadi ada sebuah karung plastik putih yang biasa menjadi tempat limbah toko tersebut. Wanita tadi mengangkat dengan tangan kirinya sebilah tulang sapi dari karung. Sementara tangan kanannya mengumpil dan mencuil daging-daging sapi yang masih tersisa di pinggiran tulang.
Ra'fat memandang tajam ke arah wanita tersebut dengan pandangan seksama. Rasa ingin tahu membuncah di hati Ra'fat tentang apa yang sedang dilakukan wanita itu. Begitu mobilnya melintasi sang wanita, sekilas Ra'fat memperhatikan. Maka ia pun menepuk pundak sang sopir dan memintanya untuk menepi.
Saat mobil sudah berhenti, Ra'fat mengamati apa yang dilakukan oleh sang wanita. Entah apa yang membuat Ra'fat menjadi penasaran. Keingintahuannya membuncah. Ia turun dari mobil. lemah ia membuka pintu, dan ia berjalan tertatih-tatih menuju tempat wanita itu berada.
Dalam jarak beberapa hasta Ra'fat mengucapkan salam kepada wanita tersebut namun salamnya tiada terjawab. Ra'fat pun bertanya kepada wanita tersebut dengan suara lemah, "Ibu..., apa yang sedang kau lakukan?"
Rupanya wanita ini sudah terlalu sering diacuhkan orang, hingga ia pun tidak peduli lagi dengan manusia. Meski ada yang bertanya kepadanya, wanita tadi hanya menjawab tanpa menoleh sedikitpun ke arah si penanya. Sambil mengumpil daging wanita itu berkata, "Aku memuji Allah Swt yang telah menuntun langkahku ke tempat ini. Sudah berhari-hari aku dan 3 orang putriku tidak makan. Namun hari ini, Dia Swt membawaku ke tempat ini sehingga aku dapati daging limbah yang masih bertengger di sisi tulang sisa. Aku berencana akan membuat kejutan untuk ketiga putriku malam ini. Insya Allah, aku akan memasakkan sup daging yang lezat buat mereka...."
Subhanallah. ...! bergetar hebat relung batin Ra'fat saat mendengar penuturan kisah kemiskinan yang ada di hadapannya. Tidak pernah ia menyangka ada manusia yang melarat seperti ini. Maka serta-merta Ra'fat melangkah ke arah toko daging. Ia panggil salah seorang petugasnya. Lalu ia berkata kepada petugas toko, "Pak..., tolong siapkan untuk ibu itu dan keluarganya 1 kg daging dalam seminggu dan aku akan membayarnya selama setahun!"
Kalimat yang meluncur dari mulut Ra'fat membuat wanita tadi menghentikan kegiatannya. Seolah tak percaya, ia angkat wajah dan menoleh ke arah Ra'fat. Kini mata wanita itu menatap dalam mata Ra'fat seolah ia berterima kasih lewat sorot pandang.
Merasa malu ditatap seperti itu, Ra'fat menoleh ke arah petugas toko. Ia pun berkata, "Pak..., tolong jangan buat 1 kg dalam seminggu, aku rasa itu tidak cukup. Siapkan 2 kg dalam seminggu dan aku akan membayarnya untuk setahun penuh!" Serta-merta Ra'fat mengeluarkan beberapa lembar uang 500-an riyal Saudi lalu ia serahkan kepada petugas tadi.
Usai Ra'fat membayar dan hendak meninggalkan toko daging, maka terhentilah langkahnya saat ia menatap wanita tadi tengah menengadah ke langit sambil mengangkat kedua belah tangannya seraya berdoa dengan penuh kesungguhan:
"Allahumma ya Allah... berikanlah kepada tuan ini keberkahan rezeki. Limpahkan karunia-Mu yang banyak kepadanya. Jadikan ia manusia mulia di dunia dan akhirat. Beri ia kenikmatan seperti yang Engkau berikan kepada para hamba-Mu yang shalihin. Kabulkan setiap hajatnya dan berilah ia kesehatan lahir dan batin.....dst"
Panjang sekali doa yang dibaca oleh wanita tersebut. Kalimat-kalimat doa itu terjalin indah naik ke langit menuju Allah Swt. Bergetar arsy Allah Swt atas doa yang dibacakan sehingga getaran itu terasa di hati Ra'fat. Ia mulai merasakan ketentraman dan kehangatan. Kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Hampir saja Ra'fat menitikkan air mata saat mendengar jalinan indah kalimat doa wanita tersebut. Andai saja ia tidak merasa malu, pastilah buliran air mata hangat sudah membasahi pipinya. Namun bagi Ra'fat pantang menangis..., apalagi dihadapan seorang wanita yang belum ia kenal.
Ra'fat lalu memutuskan untuk meninggalkan wanita tersebut. Ia berjalan tegap dan cepat menuju mobilnya. Dan ia belum juga merasakan keajaiban itu! Ya, keajaiban yang ditambah saat Ra'fat membuka dan menutup pintu mobil dengan gagah seperti manusia sehat sediakala!!!
Sungguh doa wanita itu memberi kedamaian pada hati Ra'fat. Sepanjang jalan di atas kendaraan Ra'fat terus tersenyum membayangkan doa yang dibacakan oleh sang wanita tadi. Perjalanan menuju rumah seorang kerabat itu menjadi indah.
Sesampainya di tujuan lalu Ra'fat mengutarakan maksudnya. Ia berpamitan dan meminta restu. Ia katakan boleh jadi ia tidak lagi berumur panjang sebab sakit liver akut yang diderita.
Anehnya saat mendengar berita itu dari Ra'fat, sang kerabat berkata, "Ra'fat..., janganlah engkau bergurau. Kamu terlihat begitu sehat. Wajahmu ceria. Sedikit pun tidak ada tanda-tanda bahwa engkau sedang sakit."
Awalnya Ra'fat menganggap bahwa kalimat yang diucapkan kerabat tadi hanya untuk menghibur dirinya yang sedang sedih. Namun setelah ia mendatangi saudara dan kerabat yang lain, anehnya semuanya berpendapat serupa.
Dua hari yang dimaksud pun tiba. Ia didampingi oleh istri dan beberapa anaknya kembali datang ke China. Hari yang dimaksud untuk menjalani operasi sudah disiapkan. Sebelum masuk ruang tindakan, beberapa pemeriksaan pun dilakukan. Setelah hasil pemeriksaan itu dipelajari maka ketua tim dokter pun bertanya keheranan kepada Ra'fat dan keluarga:
"Aneh....! dua hari yang lalu kami dapati liver tuan Ra'fat rusak parah dan harus dilakukan tindakan operasi. Tapi setelah kami teliti, mengapa liver ini menjadi sempurna lagi?!"
Kalimat dokter itu membuat Ra'fat dan keluarga menjadi bahagia. Berulangkali terdengar kalimat takbir dan tahmid di ruangan meluncur dari mulut mereka. Mereka memuji Allah Swt yang telah menyembuhkan Ra'fat dari penyakit dengan begitu cepat. Siapa yang percaya bahwa Allah yang memberi penyakit, maka ia pun akan yakin bahwa hanya Dia Swt yang mampu menyembuhkan. Jangan bersedih dan merasa hidup merana. Sadari bahwa dalam kegetiran ada hikmah bak mutiara!
Copas dari Milis kiriman pak Anshari
terimakasih atas sharingnya pak, semoga bermanfaat
Saat itu saya tengah berada di kota Jeddah, Saudi Arabia. Terpapar dihadapan saya sebuah koran berbahasa Arab di lobby hotel. Tergerak saya melihat berita dan artikel yang tertulis di sana, hingga saya temukan sebuah tulisan yang amat bermanfaat ini.
Tersebutlah kisah nyata seorang kaya raya berkebangsaan Saudi bernama Ra'fat. Ia diwawancarai setelah ia berhasil sembuh dari penyakit liver akut yang ia idap. Pola hidup berlebihan dan mengkonsumsi makanan tak beraturan membuat Ra'fat mengalami penyakit di atas.
Ra'fat berobat untuk mencari kesembuhan. Banyak dokter dan rumah sakit ia kunjungi di Saudi Arabia sebagai ikhtiar. Namun meski sudah menyita banyak waktu, tenaga, pikiran dan biaya, sayangnya penyakit itu tidak kunjung sembuh juga. Ra'fat mulai mengeluh. Badannya bertambah kurus. Tak ubahnya seperti seorang pesakitan.
Demi mencari upaya sembuh, maka Ra'fat mengikuti saran dokter untuk berobat ke sebuah rumah sakit terkenal spesialis liver di Guangzhou, China. Ia berangkat ke sana ditemani oleh keluarga. Penyakit liver semakin bertambah parah. Maka saat Ra'fat diperiksa, dokter mengatakan bahwa harus diambil tindakan operasi segera. Ketika Ra'fat menanyakan berapa besar kemungkinan berhasilnya. Dokter menyatakan kemungkinannya adalah fifty-fifty.
"50% kalau operasi berhasil maka Anda akan sembuh, 50% bila tidak berhasil mungkin nyawa Anda adalah taruhannya!" jelas sang dokter.
Mendapati bahwa boleh jadi ia bakal mati, maka Ra'fat berkata, "Dokter, kalau operasi ini gagal dan saya bisa mati, maka izinkan saya untuk kembali ke negara saya untuk berpamitan dengan keluarga, sahabat, kerabat dan orang yang saya kenal. Saya khawatir bila mati menghadap Allah Swt namun saya masih punya banyak kesalahan terhadap orang yang saya kenal." Ra'fat berkata sedemikian sebab ia takut sekali atas dosa dan kesalahan yang ia perbuat.
Dengan enteng dokter membalas, "Terlalu riskan bagi saya untuk membiarkan Anda tidak segera mendapatkan penanganan. Penyakit liver ini sudah begitu akut. Saya tidak berani menjamin keselamatan diri Anda untuk kembali ke tanah air kecuali dalam 2 hari. Bila Anda lebih dari itu datang kembali ke sini, mungkin Anda akan mendapati dokter lain yang akan menangani operasi liver Anda."
Bagi Ra'fat 2 hari itu cukup berarti. Ia pun berjanji akan kembali dalam tempo itu. Serta-merta ia mencari pesawat jet yang bisa disewa dan ia pun pergi berangkat menuju tanah airnya.
Kesempatan itu betul-betul digunakan oleh Ra'fat untuk mendatangi semua orang yang pernah ia kenal. Satu per satu dari keluarga dan kerabat ia sambangi untuk meminta maaf dan berpamitan. Kepada mereka Ra'fat berkata, "Maafkan aku, Ra'fat yang kalian kenal ini sungguh banyak kesalahan dan dosa... Boleh jadi setelah dua hari dari sekarang saya sudah tidak lagi panjang umur..."
Itulah yang disampaikan Ra'fat kepada orang-orang. Dan setiap dari mereka menangis sedih atas kabar berita yang mereka dengar dari orang yang mereka cintai dan kagumi ini.
Ra'fat menyambangi satu per satu dari mereka. Meski dengan tubuh yang kurus tak berdaya, ia berniat mendatangi mereka untuk meminta doa dan berpamitan. Dan kondisi itu membuat Ra'fat menjadi sedih. Ia merasa menjadi manusia yang paling merana. Ia merasa tak berdaya dan tak berguna. Sering dalam kesedihannya ia membatin, "Ya Allah.... rupanya keluarga yang mencintai aku.... harta banyak yang aku miliki... perusahaan besar yang aku punya.... semuanya itu tidak ada yang mampu membantuku untuk kembali sembuh dari penyakit ini! Semuanya tak ada guna... semuanya sia-sia!"
Rasa emosi batin itu membuat tubuh Ra'fat bertambah lemah. Ia hanya mampu perbanyak istighfar memohon ampunan Tuhannya. Memutar tasbih sambil berdzikir kini menjadi kegiatan utamanya. Ia masih merasa bahwa dirinya adalah manusia yang paling merana di dunia.
Hingga saat ia sedang berada di mobilnya. duduk di kursi belakang dengan tangan memutar tasbih seraya berdzikir. Hanya Ra'fat dan supirnya yang berada di mobil itu. Mereka melaju berkendara menuju sebuah rumah kerabat dengan tujuan berpamitan dan minta restu. Saat itulah menjadi moment spesial yang tak akan terlupakan untuk Ra'fat.
Beberapa ratus meter di depan, mata Ra'fat melihat ada seorang wanita berpakaian abaya (pakaian panjang wanita Arab yang serba berwarna hitam) tengah berdiri di depan sebuah toko daging. di sisi wanita tadi ada sebuah karung plastik putih yang biasa menjadi tempat limbah toko tersebut. Wanita tadi mengangkat dengan tangan kirinya sebilah tulang sapi dari karung. Sementara tangan kanannya mengumpil dan mencuil daging-daging sapi yang masih tersisa di pinggiran tulang.
Ra'fat memandang tajam ke arah wanita tersebut dengan pandangan seksama. Rasa ingin tahu membuncah di hati Ra'fat tentang apa yang sedang dilakukan wanita itu. Begitu mobilnya melintasi sang wanita, sekilas Ra'fat memperhatikan. Maka ia pun menepuk pundak sang sopir dan memintanya untuk menepi.
Saat mobil sudah berhenti, Ra'fat mengamati apa yang dilakukan oleh sang wanita. Entah apa yang membuat Ra'fat menjadi penasaran. Keingintahuannya membuncah. Ia turun dari mobil. lemah ia membuka pintu, dan ia berjalan tertatih-tatih menuju tempat wanita itu berada.
Dalam jarak beberapa hasta Ra'fat mengucapkan salam kepada wanita tersebut namun salamnya tiada terjawab. Ra'fat pun bertanya kepada wanita tersebut dengan suara lemah, "Ibu..., apa yang sedang kau lakukan?"
Rupanya wanita ini sudah terlalu sering diacuhkan orang, hingga ia pun tidak peduli lagi dengan manusia. Meski ada yang bertanya kepadanya, wanita tadi hanya menjawab tanpa menoleh sedikitpun ke arah si penanya. Sambil mengumpil daging wanita itu berkata, "Aku memuji Allah Swt yang telah menuntun langkahku ke tempat ini. Sudah berhari-hari aku dan 3 orang putriku tidak makan. Namun hari ini, Dia Swt membawaku ke tempat ini sehingga aku dapati daging limbah yang masih bertengger di sisi tulang sisa. Aku berencana akan membuat kejutan untuk ketiga putriku malam ini. Insya Allah, aku akan memasakkan sup daging yang lezat buat mereka...."
Subhanallah. ...! bergetar hebat relung batin Ra'fat saat mendengar penuturan kisah kemiskinan yang ada di hadapannya. Tidak pernah ia menyangka ada manusia yang melarat seperti ini. Maka serta-merta Ra'fat melangkah ke arah toko daging. Ia panggil salah seorang petugasnya. Lalu ia berkata kepada petugas toko, "Pak..., tolong siapkan untuk ibu itu dan keluarganya 1 kg daging dalam seminggu dan aku akan membayarnya selama setahun!"
Kalimat yang meluncur dari mulut Ra'fat membuat wanita tadi menghentikan kegiatannya. Seolah tak percaya, ia angkat wajah dan menoleh ke arah Ra'fat. Kini mata wanita itu menatap dalam mata Ra'fat seolah ia berterima kasih lewat sorot pandang.
Merasa malu ditatap seperti itu, Ra'fat menoleh ke arah petugas toko. Ia pun berkata, "Pak..., tolong jangan buat 1 kg dalam seminggu, aku rasa itu tidak cukup. Siapkan 2 kg dalam seminggu dan aku akan membayarnya untuk setahun penuh!" Serta-merta Ra'fat mengeluarkan beberapa lembar uang 500-an riyal Saudi lalu ia serahkan kepada petugas tadi.
Usai Ra'fat membayar dan hendak meninggalkan toko daging, maka terhentilah langkahnya saat ia menatap wanita tadi tengah menengadah ke langit sambil mengangkat kedua belah tangannya seraya berdoa dengan penuh kesungguhan:
"Allahumma ya Allah... berikanlah kepada tuan ini keberkahan rezeki. Limpahkan karunia-Mu yang banyak kepadanya. Jadikan ia manusia mulia di dunia dan akhirat. Beri ia kenikmatan seperti yang Engkau berikan kepada para hamba-Mu yang shalihin. Kabulkan setiap hajatnya dan berilah ia kesehatan lahir dan batin.....dst"
Panjang sekali doa yang dibaca oleh wanita tersebut. Kalimat-kalimat doa itu terjalin indah naik ke langit menuju Allah Swt. Bergetar arsy Allah Swt atas doa yang dibacakan sehingga getaran itu terasa di hati Ra'fat. Ia mulai merasakan ketentraman dan kehangatan. Kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Hampir saja Ra'fat menitikkan air mata saat mendengar jalinan indah kalimat doa wanita tersebut. Andai saja ia tidak merasa malu, pastilah buliran air mata hangat sudah membasahi pipinya. Namun bagi Ra'fat pantang menangis..., apalagi dihadapan seorang wanita yang belum ia kenal.
Ra'fat lalu memutuskan untuk meninggalkan wanita tersebut. Ia berjalan tegap dan cepat menuju mobilnya. Dan ia belum juga merasakan keajaiban itu! Ya, keajaiban yang ditambah saat Ra'fat membuka dan menutup pintu mobil dengan gagah seperti manusia sehat sediakala!!!
Sungguh doa wanita itu memberi kedamaian pada hati Ra'fat. Sepanjang jalan di atas kendaraan Ra'fat terus tersenyum membayangkan doa yang dibacakan oleh sang wanita tadi. Perjalanan menuju rumah seorang kerabat itu menjadi indah.
Sesampainya di tujuan lalu Ra'fat mengutarakan maksudnya. Ia berpamitan dan meminta restu. Ia katakan boleh jadi ia tidak lagi berumur panjang sebab sakit liver akut yang diderita.
Anehnya saat mendengar berita itu dari Ra'fat, sang kerabat berkata, "Ra'fat..., janganlah engkau bergurau. Kamu terlihat begitu sehat. Wajahmu ceria. Sedikit pun tidak ada tanda-tanda bahwa engkau sedang sakit."
Awalnya Ra'fat menganggap bahwa kalimat yang diucapkan kerabat tadi hanya untuk menghibur dirinya yang sedang sedih. Namun setelah ia mendatangi saudara dan kerabat yang lain, anehnya semuanya berpendapat serupa.
Dua hari yang dimaksud pun tiba. Ia didampingi oleh istri dan beberapa anaknya kembali datang ke China. Hari yang dimaksud untuk menjalani operasi sudah disiapkan. Sebelum masuk ruang tindakan, beberapa pemeriksaan pun dilakukan. Setelah hasil pemeriksaan itu dipelajari maka ketua tim dokter pun bertanya keheranan kepada Ra'fat dan keluarga:
"Aneh....! dua hari yang lalu kami dapati liver tuan Ra'fat rusak parah dan harus dilakukan tindakan operasi. Tapi setelah kami teliti, mengapa liver ini menjadi sempurna lagi?!"
Kalimat dokter itu membuat Ra'fat dan keluarga menjadi bahagia. Berulangkali terdengar kalimat takbir dan tahmid di ruangan meluncur dari mulut mereka. Mereka memuji Allah Swt yang telah menyembuhkan Ra'fat dari penyakit dengan begitu cepat. Siapa yang percaya bahwa Allah yang memberi penyakit, maka ia pun akan yakin bahwa hanya Dia Swt yang mampu menyembuhkan. Jangan bersedih dan merasa hidup merana. Sadari bahwa dalam kegetiran ada hikmah bak mutiara!
Copas dari Milis kiriman pak Anshari
terimakasih atas sharingnya pak, semoga bermanfaat
Jangan Bilang Cinta
Ya, jangan bilang cinta kalo kita masih setengah hati mencintai. Jangan pernah ucapkan kata cinta jika kita masih tak bisa memberikan pengorbanan terbesar dalam hidup kita demi yang kita cintai. Jangan sampe keluar kata cinta jika kita tak berani membela yang kita cintai. Sebab, cinta bukan hanya ucapan yang manis di bibir, bukan kata yang kedengarannya indah di telinga, dan bukan pula tulisan yang membuat kita merasa bahagia. Bukan hanya itu. Karena cinta harus diwujudkan dalam perilaku. ‘Kalimah sakti’ itu harus tercermin dalam perbuatan dan pikiran. Sekali berani bilang cinta, maka seharusnya kita akan berani berkorban, berani membela, berani bertanggung jawab terhadap apa yang kita cintai.
Sobat muda muslim, tolong jangan menggombal atas nama cinta. Jangan pula pura-pura jadi orang yang penuh cinta dengan menipu diri karena sejatinya kita belum sepenuhnya mencintai apa yang kita cintai. Cinta itu bukan main-main, cinta adalah wujud dari keseriusan kita bahwa kita akan berusaha melakukan apa saja demi yang kita cintai. Kalo kita mengecewakan yang kita cintai, tentunya cinta kita palsu. Kalo kita mengkhianati apa yang kita cintai, tentunya bukan cinta sejati. Sebab, jika benar-benar cinta kepada apa yang kita cintai, kita nggak bakalan mengecewakan apalagi mengkhianatinya. Tul nggak sih?
Jangan bilang cinta kepada Allah, jika…
Jika kita masih melanggar aturanNya. Sungguh sangat aneh jika kita berani mengatakan cinta kepada Allah, sementara kita doyan alias hobi banget menolak perintahNya, sementara laranganNya malah kita lakukan. Pastinya ada yang error alias tulalit kalo kita bilang: “Aku cinta kepada Allah Swt.”, tapi dalam kelakuan kita nggak mencerminkan kecintaan kita kepadaNya.
Misalnya nih, meski sholat rajin dan puasa rajin, tapi perintah Allah Swt. yang lainnya seperti menutup aurat kalo keluar rumah nggak kita lakukan. Anak cewek yang tertutup rapat dengan kain mukena ketika sholat, seharusnya menutup rapat auratnya pula ketika keluar rumah. Seringnya kan nggak ya. Rapi pada saat sholat, begitu keluar rumah malah tampil mengumbar aurat. Ke sekolah nggak pake kerudung dan pakaian jilbab (pakaian terusan—buat anak SMA sebenarnya bisa disambung pakaian atas putih dan bawah abu-abu). Sebaliknya, malah pake rok. Meski rok itu menutupi lutut, tapi kan nggak disebut pakaian muslimah. Padahal, Allah memerintahkan lho untuk mengenakan busana muslimah buat wanita, sebagaimana dalam firmanNya: “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”.. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.”(QS al-Ahzab [33]: 59)
Yup, kita coba ngasih penjelasan. Begini sobat, jilbab bermakna milhâfah (baju kurung atau semacam abaya yang longgar dan tidak tipis), kain (kisâ’) apa saja yang dapat menutupi, atau pakaian (tsawb) yang dapat menutupi seluruh bagian tubuh. Di dalam kamus al-Muhîth dinyatakan demikian: Jilbab itu laksana sirdâb (terowongan) atau sinmâr (lorong), yakni baju atau pakaian yang longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutupi pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung.
Nah, kalo mau pengen tahu penjelasan tambahannya, ada juga keterangan dalam kamus ash-Shahhâh, al-Jawhârî menyatakan: Jilbab adalah kain panjang dan longgar (milhâfah) yang sering disebut mulâ’ah (baju kurung).
Nah, kapan mengenakan jilbab? Yang pasti kalo seorang muslimah pergi keluar rumah. Atau kalo pun di dalam rumah, saat ada tamu asing (bukan mahrom—tentu laki-laki). Sebab memang tujuannya juga adalah untuk menutup auratnya. Oya, untuk bisa disebut mengenakan busana muslimah, maka seorang muslimah harus mengenakan jilbab lengkap dengan kerudungnya. Begitu deh, secara singkatnya.
Bagi anak laki juga sama. Kalo keluar rumah atau kalo di dalam rumah tapi ada wanita bukan mahrom nggak boleh tuh dipamerin dengkulmu dan udelmu. Karena aurat laki-laki tuh dari pusar sampe lutut. Wah, kayaknya udah pada paham deh. Soalnya nih pernah kita pelajari waktu SD dulu. Tul nggak? Ini sekadar ngingetin aja, gitu lho.
Oya, itu baru kita bahas kewajiban menutup aurat, sementara kewajiban yang dibebankan oleh Allah kepada kita banyak banget. Sebut saja tentang sholat, puasa, zakat, pengaturan kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, politik, hukum, sampe pemerintahan. Itu baru pokok-pokoknya, belum cabangnya dari situ. Wah, kalo ditulis bisa ngabisin jatah halaman di buletin ini. But, intinya nih, jangan bilang cinta kepada Allah kalo kita doyan menolak kewajiban yang diperintahkanNya, malah berani mengamalkan apa yang diharamkanNya.
Jangan bilang cinta kepada Rasulullah saw....
Jika kita masih melanggar aturan yang ditetapkan Rasulullah saw. Sebab, apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw. sejatinya adalah wahyu dari Allah Swt. Ditegaskan oleh Allah Swt. dalam firmanNya: “...kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS an-Najm [53]: 2-4)
Kalo kita masih mengumbar hawa nafsu dengan melakukan aktivitas pacaran, berarti selain melanggar aturan Allah Swt., juga melanggar aturan Rasulullah saw. Dan, tentu aja itu nggak mencintai Allah Swt. dan RasulNya. Allah menjelaskan larangan mendekati zina (lihat QS al-Isra ayat 32). Nah, hadis Nabi juga ada. Beliau saw. bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai mahromnya. Karena sesungguhnya yang ketiga adalah syaitan.” (HR Ahmad)
Sobat, jangan bilang cinta kepada Rasulullah saw., kalo kita nggak tersinggung ketika ada pihak-pihak yang dengan sengaja melecehkan Rasulullah saw. Aneh banget kan kalo kita ngakunya cinta mati sama Rasulullah saw., tapi kita nggak marah ketika ada orang yang menjelekkan Rasulullah saw.
Seperti kasus pelcehan terhadap Rasulullah saw. yang dilakukan media-media Eropa dalam bentuk kartun yang salah satunya menggambarkan bahwa Muhammad saw. sumber inspirasi kekerasan. Gambarnya adalah sosok lelaki dengan tampang garang dan sorbannya berbentuk bom. Ditulisin di situ dengan jelas dalam bahasa Arab kalimat Muhammad saw. Waduh, kaum Muslimin marah dengan protes baik secara lisan maupun tulisan justru wajar. Karena cintanya kepada Rasulullah saw. Yang parah tuh kalo kita diem aja, terus pura-pura bijak dengan mengatakan bahwa kartun itu sebagai bentuk evaluasi buat umat Islam.
Nggak marah apalagi protes. Aneh banget kan? Macam mana pula tuh orang? Ngakunya sih Muslim. Tokoh intelektual pula di di negeri ini. Sadar Pak!
Jangan bilang cinta kepada Rasulullah saw. jika hanya mengambil sebagian ajarannya dan meninggalkan sebagian besar ajarannya yang lain. Kalo kita cinta kepada Rasulullah saw. berarti harus mengambil seluruh yang dibawanya. Bukan dipilih-pilih sesuai kehendak hawa nafsu kita. Karena Allah Swt. memerintahkan kita untuk mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah saw. sebagaimana firmanNya:“Apa yang datang (diajarkan) Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS al-Haysr [59]: 7)
Oke, boleh bilang cinta kepada Rasulullah saw., asalkan kita berani pula untuk menaati segala perintahnya dan meninggalkan segala larangannya. Bohong besar banget kalo kita ngaku-ngaku cinta sama Rasulullah saw. tapi nggak pernah melaksanakan tuntunan ajarannya. Betul ndak?
Jangan bilang cinta sama ortu...
Jika kita masih suka melawannya, mencelanya, merendahkannya, dan bahkan menghinanya. Bohong banget kalo kita ngaku-ngaku cinta sama ortu kita, tapi setiap ortu minta tolong untuk kebaikan kita malah menolaknya. Percuma bilang cinta sama ortu, tapi kalo diingetin untuk kebaikan dan kebenaran kita malah menghardiknya. Anak macam apa itu?
Buktikan kecintaan kita kepada ortu kita adalah dengan berbakti kepadanya. Menghormati mereka, menghargai mereka, menolong mereka, dan membuat mereka bahagia dengan adanya kita. Keberadaan kita yang udah dilahirkan ini bukan menjadi beban mereka. Kasihan ibu kita, sejak mengandung kita, melahirkan kita, merawat dan membesarkan kita, ia tak pernah mengeluh. Ayah kita juga sama. Mencari nafkah dengan semangat untuk keluarganya.
Cinta mereka sepenuh hati buat kita. Sudah terbukti kok. Karena sampe sekarang aja, meski kita bandel, ibu dan ayah kita tetap mendoakan agar kita mendapat petunjuk sambil terus membimbing kita (meski kadang menurut kita terlihat seperti orang yang cerewet). Tuh, gimana nggak penuh cinta. Jadi, kitanya sendiri nih yang kudu membuktikan bahwa kita cinta kepada ibu dan ayah kita dengan cara berbakti kepadanya. Itu sebabnya, jangan bilang cinta kalo kita tak menghargainya, tak berbakti kepada mereka. Oke?
Jangan bilang cinta kepada kaum Muslimin...
Jika kita nggak mau bekerjasama saling mengingatkan dalam kebenaran dan saling membantu jika di antara kita mengalami kesusahan. Bohong banget ngaku-ngaku cinta kepada sesama kaum Muslimin, tapi ketika ada saudara seakidah kita minta tolong malah dicuekkin. Apalagi sesama aktivis dakwah, mentang-mentang beda kelompok dakwah, lalu nggak mau menolong jika beda kelompok dakwah. Lebih parah lagi jika para aktivis dakwah itu masih sodara kandung. Karena kakaknya beda kelompok dakwah dengan adiknya, lalu ketika mereka membutuhkan pertolongan malah disuruh minta ke temen-temen dari kelompok dakwah masing-masing. Yee.. mana ukhuwahmu? Bohong banget ngaku-ngaku cinta sesama Muslim tapi dengan sesama kaum Muslimin sendiri nggak mau menolong hanya karena yang akan ditolong beda kelompok dakwah. Kalo gitu caranya, jangan bilang cinta kepada kaum Muslimin. Sadar ye akhi wa ukhti...
Jangan bilang cinta kepada diri sendiri...
Jika kita senang menjerumuskan diri dalam bahaya dan kerusakan. Bohong banget bilang cinta ama diri sendiri, tapi setiap hari kita nenggak minuman keras, sering juga mengkonsumsi narkoba, tubuh kita dipenuhi tattoo. Bahkan banyak di antara kita yang mengumbar auratnya dan dipajang di sampul majalah porno atau joget-joget kayak cacing kepanasan mempertontonkan keindahan tubuhnya di layar televisi (termasuk mereka yang menjerumuskan tubuh-tubuh mereka dalam perzinahan).
Menurut saya, mereka adalah orang-orang yang nggak cinta pada dirinya sendiri. Kalo dipikir-pikir, memang sih tubuh kita ya tanggung jawab kita sepenuhnya. Mau diapakan saja terserah kita. Wong, itu tubuh kita. But, kita kudu ingat sobat. Bahwa tubuh kita bukan milik kita. Tubuh kita sejatinya milik Allah Swt. Jadi, tuh tubuh kudu kita pelihara dan dijaga sesuai aturan dari yang menciptakan kita, yakni Allah Swt.
Itu sebabnya, ada larangan bunuh diri, larangan mengkonsumsi narkoba, larangan mentato badan, larangan mempertontonkan aurat di muka umum dll. Iya kan?
Oke deh, moga renungan sederhana ini bisa ngingetin kita untuk mengevaluasi kehidupan kita: Apa benar kita udah cinta banget sama Allah, RasulNya, ortu kita, kaum Muslimin, dan cinta kepada diri kita sendiri jika kita masih berperilaku yang justru menggambarkan bentuk pengkhianatan terhadap cinta yang kita ikrarkan?
Semoga kita menjadi orang-orang yang benar-benar mencintai Allah Swt., RasulNya, ortu kita, kaum Muslimin dan diri sendiri...
sumber: E:\My Folder\Sebuah Nasehat\Renungan dan Ibrah
Sobat muda muslim, tolong jangan menggombal atas nama cinta. Jangan pula pura-pura jadi orang yang penuh cinta dengan menipu diri karena sejatinya kita belum sepenuhnya mencintai apa yang kita cintai. Cinta itu bukan main-main, cinta adalah wujud dari keseriusan kita bahwa kita akan berusaha melakukan apa saja demi yang kita cintai. Kalo kita mengecewakan yang kita cintai, tentunya cinta kita palsu. Kalo kita mengkhianati apa yang kita cintai, tentunya bukan cinta sejati. Sebab, jika benar-benar cinta kepada apa yang kita cintai, kita nggak bakalan mengecewakan apalagi mengkhianatinya. Tul nggak sih?
Jangan bilang cinta kepada Allah, jika…
Jika kita masih melanggar aturanNya. Sungguh sangat aneh jika kita berani mengatakan cinta kepada Allah, sementara kita doyan alias hobi banget menolak perintahNya, sementara laranganNya malah kita lakukan. Pastinya ada yang error alias tulalit kalo kita bilang: “Aku cinta kepada Allah Swt.”, tapi dalam kelakuan kita nggak mencerminkan kecintaan kita kepadaNya.
Misalnya nih, meski sholat rajin dan puasa rajin, tapi perintah Allah Swt. yang lainnya seperti menutup aurat kalo keluar rumah nggak kita lakukan. Anak cewek yang tertutup rapat dengan kain mukena ketika sholat, seharusnya menutup rapat auratnya pula ketika keluar rumah. Seringnya kan nggak ya. Rapi pada saat sholat, begitu keluar rumah malah tampil mengumbar aurat. Ke sekolah nggak pake kerudung dan pakaian jilbab (pakaian terusan—buat anak SMA sebenarnya bisa disambung pakaian atas putih dan bawah abu-abu). Sebaliknya, malah pake rok. Meski rok itu menutupi lutut, tapi kan nggak disebut pakaian muslimah. Padahal, Allah memerintahkan lho untuk mengenakan busana muslimah buat wanita, sebagaimana dalam firmanNya: “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”.. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.”(QS al-Ahzab [33]: 59)
Yup, kita coba ngasih penjelasan. Begini sobat, jilbab bermakna milhâfah (baju kurung atau semacam abaya yang longgar dan tidak tipis), kain (kisâ’) apa saja yang dapat menutupi, atau pakaian (tsawb) yang dapat menutupi seluruh bagian tubuh. Di dalam kamus al-Muhîth dinyatakan demikian: Jilbab itu laksana sirdâb (terowongan) atau sinmâr (lorong), yakni baju atau pakaian yang longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutupi pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung.
Nah, kalo mau pengen tahu penjelasan tambahannya, ada juga keterangan dalam kamus ash-Shahhâh, al-Jawhârî menyatakan: Jilbab adalah kain panjang dan longgar (milhâfah) yang sering disebut mulâ’ah (baju kurung).
Nah, kapan mengenakan jilbab? Yang pasti kalo seorang muslimah pergi keluar rumah. Atau kalo pun di dalam rumah, saat ada tamu asing (bukan mahrom—tentu laki-laki). Sebab memang tujuannya juga adalah untuk menutup auratnya. Oya, untuk bisa disebut mengenakan busana muslimah, maka seorang muslimah harus mengenakan jilbab lengkap dengan kerudungnya. Begitu deh, secara singkatnya.
Bagi anak laki juga sama. Kalo keluar rumah atau kalo di dalam rumah tapi ada wanita bukan mahrom nggak boleh tuh dipamerin dengkulmu dan udelmu. Karena aurat laki-laki tuh dari pusar sampe lutut. Wah, kayaknya udah pada paham deh. Soalnya nih pernah kita pelajari waktu SD dulu. Tul nggak? Ini sekadar ngingetin aja, gitu lho.
Oya, itu baru kita bahas kewajiban menutup aurat, sementara kewajiban yang dibebankan oleh Allah kepada kita banyak banget. Sebut saja tentang sholat, puasa, zakat, pengaturan kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, politik, hukum, sampe pemerintahan. Itu baru pokok-pokoknya, belum cabangnya dari situ. Wah, kalo ditulis bisa ngabisin jatah halaman di buletin ini. But, intinya nih, jangan bilang cinta kepada Allah kalo kita doyan menolak kewajiban yang diperintahkanNya, malah berani mengamalkan apa yang diharamkanNya.
Jangan bilang cinta kepada Rasulullah saw....
Jika kita masih melanggar aturan yang ditetapkan Rasulullah saw. Sebab, apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw. sejatinya adalah wahyu dari Allah Swt. Ditegaskan oleh Allah Swt. dalam firmanNya: “...kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS an-Najm [53]: 2-4)
Kalo kita masih mengumbar hawa nafsu dengan melakukan aktivitas pacaran, berarti selain melanggar aturan Allah Swt., juga melanggar aturan Rasulullah saw. Dan, tentu aja itu nggak mencintai Allah Swt. dan RasulNya. Allah menjelaskan larangan mendekati zina (lihat QS al-Isra ayat 32). Nah, hadis Nabi juga ada. Beliau saw. bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai mahromnya. Karena sesungguhnya yang ketiga adalah syaitan.” (HR Ahmad)
Sobat, jangan bilang cinta kepada Rasulullah saw., kalo kita nggak tersinggung ketika ada pihak-pihak yang dengan sengaja melecehkan Rasulullah saw. Aneh banget kan kalo kita ngakunya cinta mati sama Rasulullah saw., tapi kita nggak marah ketika ada orang yang menjelekkan Rasulullah saw.
Seperti kasus pelcehan terhadap Rasulullah saw. yang dilakukan media-media Eropa dalam bentuk kartun yang salah satunya menggambarkan bahwa Muhammad saw. sumber inspirasi kekerasan. Gambarnya adalah sosok lelaki dengan tampang garang dan sorbannya berbentuk bom. Ditulisin di situ dengan jelas dalam bahasa Arab kalimat Muhammad saw. Waduh, kaum Muslimin marah dengan protes baik secara lisan maupun tulisan justru wajar. Karena cintanya kepada Rasulullah saw. Yang parah tuh kalo kita diem aja, terus pura-pura bijak dengan mengatakan bahwa kartun itu sebagai bentuk evaluasi buat umat Islam.
Nggak marah apalagi protes. Aneh banget kan? Macam mana pula tuh orang? Ngakunya sih Muslim. Tokoh intelektual pula di di negeri ini. Sadar Pak!
Jangan bilang cinta kepada Rasulullah saw. jika hanya mengambil sebagian ajarannya dan meninggalkan sebagian besar ajarannya yang lain. Kalo kita cinta kepada Rasulullah saw. berarti harus mengambil seluruh yang dibawanya. Bukan dipilih-pilih sesuai kehendak hawa nafsu kita. Karena Allah Swt. memerintahkan kita untuk mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah saw. sebagaimana firmanNya:“Apa yang datang (diajarkan) Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS al-Haysr [59]: 7)
Oke, boleh bilang cinta kepada Rasulullah saw., asalkan kita berani pula untuk menaati segala perintahnya dan meninggalkan segala larangannya. Bohong besar banget kalo kita ngaku-ngaku cinta sama Rasulullah saw. tapi nggak pernah melaksanakan tuntunan ajarannya. Betul ndak?
Jangan bilang cinta sama ortu...
Jika kita masih suka melawannya, mencelanya, merendahkannya, dan bahkan menghinanya. Bohong banget kalo kita ngaku-ngaku cinta sama ortu kita, tapi setiap ortu minta tolong untuk kebaikan kita malah menolaknya. Percuma bilang cinta sama ortu, tapi kalo diingetin untuk kebaikan dan kebenaran kita malah menghardiknya. Anak macam apa itu?
Buktikan kecintaan kita kepada ortu kita adalah dengan berbakti kepadanya. Menghormati mereka, menghargai mereka, menolong mereka, dan membuat mereka bahagia dengan adanya kita. Keberadaan kita yang udah dilahirkan ini bukan menjadi beban mereka. Kasihan ibu kita, sejak mengandung kita, melahirkan kita, merawat dan membesarkan kita, ia tak pernah mengeluh. Ayah kita juga sama. Mencari nafkah dengan semangat untuk keluarganya.
Cinta mereka sepenuh hati buat kita. Sudah terbukti kok. Karena sampe sekarang aja, meski kita bandel, ibu dan ayah kita tetap mendoakan agar kita mendapat petunjuk sambil terus membimbing kita (meski kadang menurut kita terlihat seperti orang yang cerewet). Tuh, gimana nggak penuh cinta. Jadi, kitanya sendiri nih yang kudu membuktikan bahwa kita cinta kepada ibu dan ayah kita dengan cara berbakti kepadanya. Itu sebabnya, jangan bilang cinta kalo kita tak menghargainya, tak berbakti kepada mereka. Oke?
Jangan bilang cinta kepada kaum Muslimin...
Jika kita nggak mau bekerjasama saling mengingatkan dalam kebenaran dan saling membantu jika di antara kita mengalami kesusahan. Bohong banget ngaku-ngaku cinta kepada sesama kaum Muslimin, tapi ketika ada saudara seakidah kita minta tolong malah dicuekkin. Apalagi sesama aktivis dakwah, mentang-mentang beda kelompok dakwah, lalu nggak mau menolong jika beda kelompok dakwah. Lebih parah lagi jika para aktivis dakwah itu masih sodara kandung. Karena kakaknya beda kelompok dakwah dengan adiknya, lalu ketika mereka membutuhkan pertolongan malah disuruh minta ke temen-temen dari kelompok dakwah masing-masing. Yee.. mana ukhuwahmu? Bohong banget ngaku-ngaku cinta sesama Muslim tapi dengan sesama kaum Muslimin sendiri nggak mau menolong hanya karena yang akan ditolong beda kelompok dakwah. Kalo gitu caranya, jangan bilang cinta kepada kaum Muslimin. Sadar ye akhi wa ukhti...
Jangan bilang cinta kepada diri sendiri...
Jika kita senang menjerumuskan diri dalam bahaya dan kerusakan. Bohong banget bilang cinta ama diri sendiri, tapi setiap hari kita nenggak minuman keras, sering juga mengkonsumsi narkoba, tubuh kita dipenuhi tattoo. Bahkan banyak di antara kita yang mengumbar auratnya dan dipajang di sampul majalah porno atau joget-joget kayak cacing kepanasan mempertontonkan keindahan tubuhnya di layar televisi (termasuk mereka yang menjerumuskan tubuh-tubuh mereka dalam perzinahan).
Menurut saya, mereka adalah orang-orang yang nggak cinta pada dirinya sendiri. Kalo dipikir-pikir, memang sih tubuh kita ya tanggung jawab kita sepenuhnya. Mau diapakan saja terserah kita. Wong, itu tubuh kita. But, kita kudu ingat sobat. Bahwa tubuh kita bukan milik kita. Tubuh kita sejatinya milik Allah Swt. Jadi, tuh tubuh kudu kita pelihara dan dijaga sesuai aturan dari yang menciptakan kita, yakni Allah Swt.
Itu sebabnya, ada larangan bunuh diri, larangan mengkonsumsi narkoba, larangan mentato badan, larangan mempertontonkan aurat di muka umum dll. Iya kan?
Oke deh, moga renungan sederhana ini bisa ngingetin kita untuk mengevaluasi kehidupan kita: Apa benar kita udah cinta banget sama Allah, RasulNya, ortu kita, kaum Muslimin, dan cinta kepada diri kita sendiri jika kita masih berperilaku yang justru menggambarkan bentuk pengkhianatan terhadap cinta yang kita ikrarkan?
Semoga kita menjadi orang-orang yang benar-benar mencintai Allah Swt., RasulNya, ortu kita, kaum Muslimin dan diri sendiri...
sumber: E:\My Folder\Sebuah Nasehat\Renungan dan Ibrah
Senin, 08 Februari 2010
Just Duit
Oleh : Fakhri
Just Duit
Setiap hari keluar duit
Ini duit
Disana duit
Dimana – mana duit
Gw bosan dengar duit aja
Apalagi kalau sogok duit
Just duit…… so duit
Duit… duit……. Ngak ada lagi kata selain duit
Manusia akan tertutup hatinya jika melihat duit
Bahkan para koruptor main duit
Banyak orang diluar perlu duit
Just duit…… so duit……
Duit……… duit……..
Emang ngk ada kata lain selain duit
Kenapa duit ada jika itu membuat manusia menjadi serakah
Pikiran manusia duit…… duit terus
Kapan manusia ngk kaya – kaya
Kalau terus memikirkan duit aja
Kapan manusia tobat kalau dia mata duitan
Duit… duit aja pkiranlu
Bahkan orang rela lakuin apa aja
Just duit……. So duit…..
Ada lagi selain duit
Just duit…… so duit
Memang duit adalah segalanya di dunia ini
Para koruptor bermain duit
Para koruptor dibakar duit
Kenapa ngk sekalian aja tuh
Para koruptor bakar duit
Koruptor setan
Bagaikan binatang tak berotak
Mereka tak pernah berpikir
Bahwa mereka mencuri hak orang lain
Just beat it…….. so beat it
Koruptor adalah tikus busuk ( bahkan lebih kotor lagi )
Just Duit
Setiap hari keluar duit
Ini duit
Disana duit
Dimana – mana duit
Gw bosan dengar duit aja
Apalagi kalau sogok duit
Just duit…… so duit
Duit… duit……. Ngak ada lagi kata selain duit
Manusia akan tertutup hatinya jika melihat duit
Bahkan para koruptor main duit
Banyak orang diluar perlu duit
Just duit…… so duit……
Duit……… duit……..
Emang ngk ada kata lain selain duit
Kenapa duit ada jika itu membuat manusia menjadi serakah
Pikiran manusia duit…… duit terus
Kapan manusia ngk kaya – kaya
Kalau terus memikirkan duit aja
Kapan manusia tobat kalau dia mata duitan
Duit… duit aja pkiranlu
Bahkan orang rela lakuin apa aja
Just duit……. So duit…..
Ada lagi selain duit
Just duit…… so duit
Memang duit adalah segalanya di dunia ini
Para koruptor bermain duit
Para koruptor dibakar duit
Kenapa ngk sekalian aja tuh
Para koruptor bakar duit
Koruptor setan
Bagaikan binatang tak berotak
Mereka tak pernah berpikir
Bahwa mereka mencuri hak orang lain
Just beat it…….. so beat it
Koruptor adalah tikus busuk ( bahkan lebih kotor lagi )
Minggu, 07 Februari 2010
"Ketika Harus Memilih II" (lanjutan)
“Ya ukhti, sesungguhnya didalam islam kita diajarkan untuk mengedepankan etika tabayyun (klarifikasi/ check and recheck). Pada saat ukhti dan keluarga menerima khitbah dari si fulan sudahkah ukhti melakukan tabayyun atas latar belakang dia dan keluarga?”
“Tentu saja sudah akh. Orang tua ana telah mengenal baik si fulan dan keluarganya, dia orang yang baik dan berasal dari keluarga baik-baik, dan hal tersebut pulalah yang menjadi dasar pertimbangan ana dan keluarga menerima khitbahnya.”
“Justru disitu sangat terlihat jelas ukhti dan keluarga tidak berlaku adil terhadap ana dan si fulan.”
“Tidak adil gimana?!” Ira keheranan.
“Ukh.. Sesungguhnya ana heran... mengapa pada saat keluarga ukhti menolak ana, tanpa melakukan tabayyun secara menyeluruh, mereka menolak ana, tetapi pada saat keluarga ukhti menerima khitbah si fulan, mereka melakukan tabayyun terlebih dahulu. Tidak layakkah ukh ana mendapat perlakuan yang sama?! Ukh.. ana tidak akan mempertanyakan hal ini seandainya saja ana tidak mempunyai kapasitas yang sama dengan si fulan, bukankah ana dan si fulan merupakan dua lelaki yang pada kami ukhti memiliki kecendrungan. Seandainya saja ukhti tidak mencintai ana dan menerima khitbah ana secara pribadi.. takkan ana bertanya tentang keadilan.”
Ryan tak mendengar suara apapun dari ujung telpon sana, dia tidak tahu hal apa yang saat ini sedang berkecamuk di hati dan pikiran Ira.
“Sudahkah ukhti tanyakan kepada abi sebelum ukhti menerima khitbah si fulan: wahai ayahanda, sesungguhnya ayahanda telah menerima khitbah si fulan, tak lain karena ayahanda telah mengenal dan melakukan proses tabayyun atas diri fulan dan keluarga, sudahkah ayahanda melakukan hal yang sama terhadap Ryan? Jika belum hendaknya ayahanda lakukan juga proses tabayyun terhadap diri Ryan dan keluarga, hendaklah ayahanda menjadi pemimpin yang adil, karena duhai ayahanda, disebabkan rasa sayang yang teramat besar dari ananda untuk ayahanda, ketahuilah ayahanda bahwa setiap kita adalah pemimpin, dan akan dimintakan pertanggung jawabkan atas kepemimpinannya, untuk itu ayahanda... lakukanlah juga proses tabayyun terhadap diri Ryan dan keluarga, dan apabila setelah proses tersebut ayahanda tetap merasa bahwa Ryan tidak pantas untuk ananda, maka dengan kelapangan dada dan mengucapkan bismillah ananda mantap menerima khitbah si fulan.”
Hiks..Hiks.. Hanya suara tersebut yang terdengar dari Ira, Ryan menebak mungkin Ira sedang menangis.
“Wahai ukhti.. beranikah ukhti mengucapkan kepada ana ucapan berikut ini: Demi Allah akh, ana haqul yakin, seandainya saja keluarga ana melakukan tabayyun terhadap antum, maka hasilnya akan sama saja, mereka tetap akan menolak antum. Beranikah ukhti mengucapkan hal tersebut? Ukh.. ana yakin pada saat ukhti menerima ana.. tidaklah fisik ana yang menjadi faktor ketertarikan ukhti, karena ana tahu, bahwa banyak ikhwan-ikhwan lain yang ukhti tolak lamarannya jauh lebih baik fisiknya daripada ana, dan tidak pula ukhti tertarik pada kekayaan ana, karena berapa banyak ikhwan yang jauh lebih mapan dari ana, ukhti tolak pinangannya. Ana yakin ukhti menerima ana insya Allah karena agama ana, karena ana paham ukhti bukanlah wanita jahil yang menjadikan fisik dan kekayaan sebagai faktor utama. Pertanyaan ana selanjutnya, sudahkah abi ukhti memposisikan diri sebagai orang tua yang bijak, yang mau merangkul ana untuk diajak bicara dari hati ke hati, mengayomi ana dan memberikan nasehat kepada ana jika ada sikap ana yang tidak berkenan dihati beliau, mau mendengar penjelasan atau klarifikasi ana atas apa yang terjadi, memberi ana kesempatan untuk membela diri, jika itu hanya sebuah kesalah pahaman saja, tidak memvonis ana hanya dengan melihat sikap ana sekilas dan untuk selanjutnya berdasarkan prasangka belaka, karena sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dusta. Sudahkah hal tersebut dilakukan ukh?!” Uneg-uneg yang sedari dulu disimpan Ryan kini keluar, sedari dulu ingin disampaikannya.
“Ukhti, Allah memerintahkan kita untuk menjadi seorang muslim yang kaffah, tidak fair apabila kita mengikuti perintah Allah yang satu sementara perintah lainnya kita nafikan, ukhti telah mengikuti hadits Rasulullah mengenai ridho orang tua, tetapi sudahkah ukhti memperhatikan dalil lainnya? Hendaklah kita bertahkim pada hukum Allah baik yang mengenakan maupun tidak, baik yang menguntungkan kepentingan kita maupun tidak, jangan setengah-setengah ukh dalam bertahkim terhadap hukum Allah. Allah berfirman melalui Surat An-Nur ayat 48-51: Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh. Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku dzalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang dzalim. Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung... Tentunya ukhti tak ingin bukan? Jika hanya menjadi seorang muslim tanpa harus mencapai derajat sebagai seorang mukmin. Bukankah Allah pernah mencela bani Israel melalui Surat Al-Baqarah ayat 85: Apakah kamu beriman pada sebagian kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat mereka dikembalikan pada siksa yang sangat berat”
“Cukup akh.. cukup.. ana tidak kuat lagi mendengarnya” tangis yang tadi berusaha untuk dibendung Ira, meledak, membahana menerjang arung perasaannya. “Mengapa akh, mengapa baru sekarang antum katakan hal ini pada ana? Mengapa tidak dari dulu saja akh? Mengapa pada saat ana menawarkan kepada akhi untuk berpisah, mengapa akhi mengiyakan, kenapa akhi tidak berusaha tuk mencegahnya dan mengatakan tidak akh, mengapa?! Allahummaghfirlana, sakit sekali rasanya akh.”
“Ukh..” entah mengapa tiba-tiba sebutir air bening turun dari mata Ryan, Ryan menangis. Ryan menyeka air matanya. “Ukh.. pernahkah ukhti memberi ana kesempatan untuk mengatakannya? Adakah ukhti bertanya dan berdiskusi kepada ana sebelum ukhti menerima khitbah? Karena tahukah ukhti.. tanpa ukhti sadari jauh didalam lubuk hati ukhti, sebenarnya ukhti tahu bahwa ana tidak akan setuju, untuk itu ukhti selalu ingin menghindar untuk membahasnya dan mengambil keputusan sendiri. Ketahuilah bahwa hingga saat ini, hanya ada dua orang wanita yang sanggup memaksa ana meneteskan air mata untuk mereka, yang pertama umi dan kedua adalah ukhti, dan dari apa yang ana katakan itu, ana yakin ukhti pasti mengerti bagaimana istimewanya posisi ukhti dihati ana”
“Akhi..” Ira kembali menangis, “Allahummaghfirlana, allahummaghfirlana, ya Allah tunjukan kesalahan apa yang telah kami lakukan pada-Mu ya Robbana, hingga kami harus menanggung semua ini, Allahummaghfirlana.”
Dua anak manusia itu sama-sama menangis, setangguh apapun mereka, tampaknya saat ini Allah tengah mengibaskan sayap-Nya untuk menghembuskan angin kasih sayang, hingga tanpa terasa hal tersebut telah menyentuh sisi manusiawi Ryan dan Ira, mereka-pun menangis.
“Tahukah akhi.. pada saat ana menawarkan perpisahan bagi kita, sesungguhnya ana berharap akhi tidak mengiyakan tawaran tersebut. Ana seorang wanita akh, dan karena hal tersebut ana terlalu malu untuk mengatakan yang sejujurnya, bahwa ana... ah sudahlah akh. Lagipula ana telah melakukan sholat istikharah dan dari sholat tersebut hati ana cendrung untuk mengikuti keinginan keluarga.”
Benar juga jika ada yang mengatakan bahwa wanita itu tercipta dari Sembilan perasaan dan satu akal, sementara lelaki tercipta dari Sembilan akal dan satu perasaan. Berkata Ryan didalam hati.
“Ukhti.. ukhti.. fiqih mahzab mana yang mengatakan bahwa istikharah itu merupakan media ikhtiar? Bukan ukh, bukan.. sesungguhnya itu merupakan media tawakal, media yang digunakan jika kita telah berikhtiar semampunya. Sudahkah ukhti berikhtiar secara maksimal? Ukh.. dari dulu hingga saat ini ana tidak pernah meminta ukhti untuk memilih antara ana atau keluarga ukhti, tidak pernah ukh.. tidak pernah sama sekali terlintas dihati dan pikiran ana apalagi sampai mengatakannya.. yang ana inginkan ialah ukhti berada disamping ana, bersama-sama ana berjuang untuk meyakinkan keluarga ukhti, sudahkah ikhtiar tersebut dilakukan? Lalu tidaklah valid hasil dari istikharah ukhti jika sebelumnya ukhti telah memiliki kecendrungan terhadap salah satu pilihan, ukhti harus netral dan membiarkan Allah memberikan keputusannya dihati ukhti, ukhti wajib menyerahkan dan bertawakal kepada Allah atas pilihan tersebut, dengan begitu insya Allah hasil dari istikharah ukhti bisa shahih. Tidak selamanya ungkapan hati menjadi pembenaran atas segala perkara. Hati bisa dimintakan fatwa dalam permasalahan yang bersifat umum dan mungkin tidak dijelaskan secara detail perbedaan dan batasannya dalam nash-nash al-Qur’an dan sunnah. Tegasnya, suara hati tidak boleh mengalahkan petunjuk dalil yang jelas tertera dalam Al-Qur‘an dan sunnah. Bila ada fatwa yang jelas berlandaskan dalil syar’i maka wajib setiap muslim untuk mengutamakannya, meskipun hal itu tidak membuat hatinya puas," demikian dijelaskan dalam kitab Al-Wafi Imam An-Nawawi, ya ukhti. Ana memahami ukhti seorang wanita, yang mungkin lebih mengedepankan perasaan, sehingga ukhti tidak bersikap netral, bukankah telah terdoktrin didalam diri ukhti bahwa kebahagiaan orang tua adalah segala-galanya, dan ridho Allah tergantung pada ridho orang tua, jika telah begitu, bagaimana mungkin ukhti bisa bersikap netral.”
Kebimbangan menerpa Ira, tanggapan yang harus diberikan.
“Afwan akh, waktu kita untuk bicara mungkin tinggal beberapa menit lagi, ana harus bersiap untuk berangkat mengajar. Atas apa yang telah akhi sampaikan, ana ucapkan terima kasih, namun mengingat keadaan saat ini, ana sebaiknya gimana?”
“Jika ukhti tetap mantap untuk menikah dengan si fulan, mulailah saat ini berusaha lebih keras lagi untuk belajar mencintai si fulan, karena jika tidak.. akan bertambah panjang daftar orang yang akan terdzalimi, yang pertama adalah ukhti karena mengorbankan perasaan dan membohongi diri sendiri, kedua ana, karena tidak diperlakukan secara adil dan ketiga mungkin si fulan, karena amat sangat dzalim jika ukhti mencintai dan menikahi lelaki yang berbeda, dan jika ukhti ragu, mintalah petunjuk Allah melalui istikharah, tapi ingat ukhti harus netral sebelumnya, serahkan semuanya kepada Allah, tinggalkanlah yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu, ingat ukh.. keputusan ukhti akan berpengaruh tidak saja bagi urusan dunia ukhti tetapi juga akhirat ukhti, ukhti saat ini telah menjadi seorang mukallaf, apapun yang akan ukhti lakukan di dunia ini akan ukhti pertanggung jawabkan di akhirat kelak, pertanggung jawaban tersebut bukan kepada abi ukhti tetapi kepada Allah, harap diperhatikan tatkala Allah berfirman pada penutup Surat Al-Ankabut ayat 8: Hanya kepada-Ku lah kembalimu, lalu Aku kabarkan padamu apa yang telah kamu kerjakan, lalu ukh..” Sekilas Ryan menerawang ke relung masa silam, saat dia dan Ira dipertemukan untuk pertama kalinya, saat semerbak duniawi dan wangi ukhrawi menebar dan menuntun mereka untuk membangun sebuah taman.. yakni pernikahan, namun sayang.. kembang-kembang yang akan ditanami sudah terlanjur layu sebelum waktunya.
“Patut untuk diketahui bahwasanya dahulu ana mencintai dan ingin menikahi ukhti karena Allah, agama ukhti-lah yang menjadi kunci untuk membuka pintu hati ana yang selalu tertutup rapat, dan ana yakin ukhti pun demikian halnya, sehingga kita dulu pernah dipertemukan dan sepakat untuk bersatu dalam tali pernikahan karena Allah, untuk itu ana ingin kita-pun sepakat untuk berpisah karena Allah, inilah yang menjadi niat ana untuk bicara kepada ukhti pada kesempatan kali ini, ana ingin memastikan bahwa kita saling bertemu, mencintai dan berpisah karena Allah, sesungguhnya salah satu golongan yang mendapat naungan Allah di hari kiamat kelak yang tiada nanungan selain naungan-Nya pada hari itu ialah orang-orang yang saling membenci dan mencintai karena Allah, kemudian sepakat bertemu dan berpisah karena Allah. Apabila perpisahan yang menjadi takdir-Nya, maka keridhoan hati untuk menerima hal tersebut tanda bahwa kita berpisah karena-Nya. Amin.. Allahumma amin. Satu hal lagi ukh yang ingin ana katakan, jika diberi kesempatan ana ingin mengisahkan cerita kita dan menjadikannya sebuah novel mungkin, kiranya nanti dapat dijadikan ibroh bagi mereka yang akan menikah, memilih jodoh, dan juga bagi orang tua yang ingin menikahkan putra-putrinya, dan kemaren ana sempat menuliskan sebuah syair untuk ukhti, telah ana kirim via email ukhti, mungkin syair tersebut merupakan kata-kata terakhir dari ana untuk ukhti sebelum menikah. Terakhir ana ingin meminta maaf kepada ukhti dan keluarga jika ada sikap dan perbuatan atau juga lisan ana yang tidak berkenaan dihati ukhti dan keluarga, akhirul qalam, subanakallahumma wa bihamdika asyhadualla ilaha illa anta, astghfiruka, astaghfiruka, astaghfiruka ya Allah wa ‘atubuilaik, Assalamu’alaikum.”
“Tits” bunyi telepon terputus.
“Wa’alaikum salam warahmatullah wa barakatuh ya akhi”
Ira tertegun, tak menyangka harus memulai paginya seperti ini, dalam ketertegunannya hati Ira berucap,
Akhi Ryan.. bagaimana mungkin akhi ingin memperdebatkan dalil-dalil dengan ana, tak seimbang rasanya, sementara jika saja akhi tahu bahwa.. akhi adalah ustadz favorit ana, itulah yang membuat ana dengan hati yang mantap menerima akhi dan ingin sekali menjadi istri akhi, tapi .. kenangan cuma tinggal kenangan.. mudahkah bagi akhi untuk melupakan semua kenangan kita? Tak pernah terbayangkan Allah mempertemukan ana dengan lelaki yang selama ini ana inginkan untuk menjadi imam ana, tak lain adalah akhi.. namun.. Ya Allah perih sekali rasanya.. Kuatkanlah hamba.. Akhi sadarkah, bahwa bukan akhi seorang, bukan akh.. Disini-pun ana terluka dengan hebatnya..
Ira memaksakan diri untuk sejenak melupakan apa yang baru saja dialaminya, dia ingin bersiap-siap untuk berangkat mengajar, namun sebelumnya menyempatkan diri untuk membuka laptopnya dan penasaran akan syair terakhir yang dikirimkan Ryan ke e-mailnya, begitu jaringan internet tersambung, e-mail-pun terbuka, membaca dengan pelan dan seksama syair tersebut, kemudian tanpa aba-aba napasnya sesak dan air matanya kembali tertumpah dalam hati dia hanya mampu berkata,
Ryan..
My last word
Dear My Lord :
May I ask You something?
Is She never really had a chance, on that fateful moonlit night?
Sacrificed without a fight, and be a victim of her circumstance?
Now that I’ve become aware and I’ve exposed this tragedy..
Cause a sadness grows inside of me, forgive me My Lord and I beg Your mercy, when my heart said : “it all seem so unfair”
Dear irA :
Always beyond in my head the mosque we ever come together, but you know? Sadly all the grass was overgrown..
Now.. I can only said: “in loving memory of our love, so innocent and know nothing” I felt so empty as I cried, like part of me had died.
You wasn’t given me any choice when I heard desperation stole your voice..
I’ve been given so much more in life, I hope.. I got wife and I got child..
But enough... I had to suffer one last time, to grieve for you and ... Say : “GOODBYE MY DEAR”
Dear My Brothers (Ikhwan) and Sisters (Akhwat):
I know what it’s like to lose someone You love, cause this felt just the same at me now..
Inspired from Dream Theater’s lyric..
BTH, 05 Juli 2009.
“Barrakallahulaka wa Baraka ‘alaika, wa jama’a baynakuma fi khair Ya Ukhti Ya Akhi..”
Ttd
Ryan..
“Tentu saja sudah akh. Orang tua ana telah mengenal baik si fulan dan keluarganya, dia orang yang baik dan berasal dari keluarga baik-baik, dan hal tersebut pulalah yang menjadi dasar pertimbangan ana dan keluarga menerima khitbahnya.”
“Justru disitu sangat terlihat jelas ukhti dan keluarga tidak berlaku adil terhadap ana dan si fulan.”
“Tidak adil gimana?!” Ira keheranan.
“Ukh.. Sesungguhnya ana heran... mengapa pada saat keluarga ukhti menolak ana, tanpa melakukan tabayyun secara menyeluruh, mereka menolak ana, tetapi pada saat keluarga ukhti menerima khitbah si fulan, mereka melakukan tabayyun terlebih dahulu. Tidak layakkah ukh ana mendapat perlakuan yang sama?! Ukh.. ana tidak akan mempertanyakan hal ini seandainya saja ana tidak mempunyai kapasitas yang sama dengan si fulan, bukankah ana dan si fulan merupakan dua lelaki yang pada kami ukhti memiliki kecendrungan. Seandainya saja ukhti tidak mencintai ana dan menerima khitbah ana secara pribadi.. takkan ana bertanya tentang keadilan.”
Ryan tak mendengar suara apapun dari ujung telpon sana, dia tidak tahu hal apa yang saat ini sedang berkecamuk di hati dan pikiran Ira.
“Sudahkah ukhti tanyakan kepada abi sebelum ukhti menerima khitbah si fulan: wahai ayahanda, sesungguhnya ayahanda telah menerima khitbah si fulan, tak lain karena ayahanda telah mengenal dan melakukan proses tabayyun atas diri fulan dan keluarga, sudahkah ayahanda melakukan hal yang sama terhadap Ryan? Jika belum hendaknya ayahanda lakukan juga proses tabayyun terhadap diri Ryan dan keluarga, hendaklah ayahanda menjadi pemimpin yang adil, karena duhai ayahanda, disebabkan rasa sayang yang teramat besar dari ananda untuk ayahanda, ketahuilah ayahanda bahwa setiap kita adalah pemimpin, dan akan dimintakan pertanggung jawabkan atas kepemimpinannya, untuk itu ayahanda... lakukanlah juga proses tabayyun terhadap diri Ryan dan keluarga, dan apabila setelah proses tersebut ayahanda tetap merasa bahwa Ryan tidak pantas untuk ananda, maka dengan kelapangan dada dan mengucapkan bismillah ananda mantap menerima khitbah si fulan.”
Hiks..Hiks.. Hanya suara tersebut yang terdengar dari Ira, Ryan menebak mungkin Ira sedang menangis.
“Wahai ukhti.. beranikah ukhti mengucapkan kepada ana ucapan berikut ini: Demi Allah akh, ana haqul yakin, seandainya saja keluarga ana melakukan tabayyun terhadap antum, maka hasilnya akan sama saja, mereka tetap akan menolak antum. Beranikah ukhti mengucapkan hal tersebut? Ukh.. ana yakin pada saat ukhti menerima ana.. tidaklah fisik ana yang menjadi faktor ketertarikan ukhti, karena ana tahu, bahwa banyak ikhwan-ikhwan lain yang ukhti tolak lamarannya jauh lebih baik fisiknya daripada ana, dan tidak pula ukhti tertarik pada kekayaan ana, karena berapa banyak ikhwan yang jauh lebih mapan dari ana, ukhti tolak pinangannya. Ana yakin ukhti menerima ana insya Allah karena agama ana, karena ana paham ukhti bukanlah wanita jahil yang menjadikan fisik dan kekayaan sebagai faktor utama. Pertanyaan ana selanjutnya, sudahkah abi ukhti memposisikan diri sebagai orang tua yang bijak, yang mau merangkul ana untuk diajak bicara dari hati ke hati, mengayomi ana dan memberikan nasehat kepada ana jika ada sikap ana yang tidak berkenan dihati beliau, mau mendengar penjelasan atau klarifikasi ana atas apa yang terjadi, memberi ana kesempatan untuk membela diri, jika itu hanya sebuah kesalah pahaman saja, tidak memvonis ana hanya dengan melihat sikap ana sekilas dan untuk selanjutnya berdasarkan prasangka belaka, karena sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dusta. Sudahkah hal tersebut dilakukan ukh?!” Uneg-uneg yang sedari dulu disimpan Ryan kini keluar, sedari dulu ingin disampaikannya.
“Ukhti, Allah memerintahkan kita untuk menjadi seorang muslim yang kaffah, tidak fair apabila kita mengikuti perintah Allah yang satu sementara perintah lainnya kita nafikan, ukhti telah mengikuti hadits Rasulullah mengenai ridho orang tua, tetapi sudahkah ukhti memperhatikan dalil lainnya? Hendaklah kita bertahkim pada hukum Allah baik yang mengenakan maupun tidak, baik yang menguntungkan kepentingan kita maupun tidak, jangan setengah-setengah ukh dalam bertahkim terhadap hukum Allah. Allah berfirman melalui Surat An-Nur ayat 48-51: Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh. Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku dzalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang dzalim. Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung... Tentunya ukhti tak ingin bukan? Jika hanya menjadi seorang muslim tanpa harus mencapai derajat sebagai seorang mukmin. Bukankah Allah pernah mencela bani Israel melalui Surat Al-Baqarah ayat 85: Apakah kamu beriman pada sebagian kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat mereka dikembalikan pada siksa yang sangat berat”
“Cukup akh.. cukup.. ana tidak kuat lagi mendengarnya” tangis yang tadi berusaha untuk dibendung Ira, meledak, membahana menerjang arung perasaannya. “Mengapa akh, mengapa baru sekarang antum katakan hal ini pada ana? Mengapa tidak dari dulu saja akh? Mengapa pada saat ana menawarkan kepada akhi untuk berpisah, mengapa akhi mengiyakan, kenapa akhi tidak berusaha tuk mencegahnya dan mengatakan tidak akh, mengapa?! Allahummaghfirlana, sakit sekali rasanya akh.”
“Ukh..” entah mengapa tiba-tiba sebutir air bening turun dari mata Ryan, Ryan menangis. Ryan menyeka air matanya. “Ukh.. pernahkah ukhti memberi ana kesempatan untuk mengatakannya? Adakah ukhti bertanya dan berdiskusi kepada ana sebelum ukhti menerima khitbah? Karena tahukah ukhti.. tanpa ukhti sadari jauh didalam lubuk hati ukhti, sebenarnya ukhti tahu bahwa ana tidak akan setuju, untuk itu ukhti selalu ingin menghindar untuk membahasnya dan mengambil keputusan sendiri. Ketahuilah bahwa hingga saat ini, hanya ada dua orang wanita yang sanggup memaksa ana meneteskan air mata untuk mereka, yang pertama umi dan kedua adalah ukhti, dan dari apa yang ana katakan itu, ana yakin ukhti pasti mengerti bagaimana istimewanya posisi ukhti dihati ana”
“Akhi..” Ira kembali menangis, “Allahummaghfirlana, allahummaghfirlana, ya Allah tunjukan kesalahan apa yang telah kami lakukan pada-Mu ya Robbana, hingga kami harus menanggung semua ini, Allahummaghfirlana.”
Dua anak manusia itu sama-sama menangis, setangguh apapun mereka, tampaknya saat ini Allah tengah mengibaskan sayap-Nya untuk menghembuskan angin kasih sayang, hingga tanpa terasa hal tersebut telah menyentuh sisi manusiawi Ryan dan Ira, mereka-pun menangis.
“Tahukah akhi.. pada saat ana menawarkan perpisahan bagi kita, sesungguhnya ana berharap akhi tidak mengiyakan tawaran tersebut. Ana seorang wanita akh, dan karena hal tersebut ana terlalu malu untuk mengatakan yang sejujurnya, bahwa ana... ah sudahlah akh. Lagipula ana telah melakukan sholat istikharah dan dari sholat tersebut hati ana cendrung untuk mengikuti keinginan keluarga.”
Benar juga jika ada yang mengatakan bahwa wanita itu tercipta dari Sembilan perasaan dan satu akal, sementara lelaki tercipta dari Sembilan akal dan satu perasaan. Berkata Ryan didalam hati.
“Ukhti.. ukhti.. fiqih mahzab mana yang mengatakan bahwa istikharah itu merupakan media ikhtiar? Bukan ukh, bukan.. sesungguhnya itu merupakan media tawakal, media yang digunakan jika kita telah berikhtiar semampunya. Sudahkah ukhti berikhtiar secara maksimal? Ukh.. dari dulu hingga saat ini ana tidak pernah meminta ukhti untuk memilih antara ana atau keluarga ukhti, tidak pernah ukh.. tidak pernah sama sekali terlintas dihati dan pikiran ana apalagi sampai mengatakannya.. yang ana inginkan ialah ukhti berada disamping ana, bersama-sama ana berjuang untuk meyakinkan keluarga ukhti, sudahkah ikhtiar tersebut dilakukan? Lalu tidaklah valid hasil dari istikharah ukhti jika sebelumnya ukhti telah memiliki kecendrungan terhadap salah satu pilihan, ukhti harus netral dan membiarkan Allah memberikan keputusannya dihati ukhti, ukhti wajib menyerahkan dan bertawakal kepada Allah atas pilihan tersebut, dengan begitu insya Allah hasil dari istikharah ukhti bisa shahih. Tidak selamanya ungkapan hati menjadi pembenaran atas segala perkara. Hati bisa dimintakan fatwa dalam permasalahan yang bersifat umum dan mungkin tidak dijelaskan secara detail perbedaan dan batasannya dalam nash-nash al-Qur’an dan sunnah. Tegasnya, suara hati tidak boleh mengalahkan petunjuk dalil yang jelas tertera dalam Al-Qur‘an dan sunnah. Bila ada fatwa yang jelas berlandaskan dalil syar’i maka wajib setiap muslim untuk mengutamakannya, meskipun hal itu tidak membuat hatinya puas," demikian dijelaskan dalam kitab Al-Wafi Imam An-Nawawi, ya ukhti. Ana memahami ukhti seorang wanita, yang mungkin lebih mengedepankan perasaan, sehingga ukhti tidak bersikap netral, bukankah telah terdoktrin didalam diri ukhti bahwa kebahagiaan orang tua adalah segala-galanya, dan ridho Allah tergantung pada ridho orang tua, jika telah begitu, bagaimana mungkin ukhti bisa bersikap netral.”
Kebimbangan menerpa Ira, tanggapan yang harus diberikan.
“Afwan akh, waktu kita untuk bicara mungkin tinggal beberapa menit lagi, ana harus bersiap untuk berangkat mengajar. Atas apa yang telah akhi sampaikan, ana ucapkan terima kasih, namun mengingat keadaan saat ini, ana sebaiknya gimana?”
“Jika ukhti tetap mantap untuk menikah dengan si fulan, mulailah saat ini berusaha lebih keras lagi untuk belajar mencintai si fulan, karena jika tidak.. akan bertambah panjang daftar orang yang akan terdzalimi, yang pertama adalah ukhti karena mengorbankan perasaan dan membohongi diri sendiri, kedua ana, karena tidak diperlakukan secara adil dan ketiga mungkin si fulan, karena amat sangat dzalim jika ukhti mencintai dan menikahi lelaki yang berbeda, dan jika ukhti ragu, mintalah petunjuk Allah melalui istikharah, tapi ingat ukhti harus netral sebelumnya, serahkan semuanya kepada Allah, tinggalkanlah yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu, ingat ukh.. keputusan ukhti akan berpengaruh tidak saja bagi urusan dunia ukhti tetapi juga akhirat ukhti, ukhti saat ini telah menjadi seorang mukallaf, apapun yang akan ukhti lakukan di dunia ini akan ukhti pertanggung jawabkan di akhirat kelak, pertanggung jawaban tersebut bukan kepada abi ukhti tetapi kepada Allah, harap diperhatikan tatkala Allah berfirman pada penutup Surat Al-Ankabut ayat 8: Hanya kepada-Ku lah kembalimu, lalu Aku kabarkan padamu apa yang telah kamu kerjakan, lalu ukh..” Sekilas Ryan menerawang ke relung masa silam, saat dia dan Ira dipertemukan untuk pertama kalinya, saat semerbak duniawi dan wangi ukhrawi menebar dan menuntun mereka untuk membangun sebuah taman.. yakni pernikahan, namun sayang.. kembang-kembang yang akan ditanami sudah terlanjur layu sebelum waktunya.
“Patut untuk diketahui bahwasanya dahulu ana mencintai dan ingin menikahi ukhti karena Allah, agama ukhti-lah yang menjadi kunci untuk membuka pintu hati ana yang selalu tertutup rapat, dan ana yakin ukhti pun demikian halnya, sehingga kita dulu pernah dipertemukan dan sepakat untuk bersatu dalam tali pernikahan karena Allah, untuk itu ana ingin kita-pun sepakat untuk berpisah karena Allah, inilah yang menjadi niat ana untuk bicara kepada ukhti pada kesempatan kali ini, ana ingin memastikan bahwa kita saling bertemu, mencintai dan berpisah karena Allah, sesungguhnya salah satu golongan yang mendapat naungan Allah di hari kiamat kelak yang tiada nanungan selain naungan-Nya pada hari itu ialah orang-orang yang saling membenci dan mencintai karena Allah, kemudian sepakat bertemu dan berpisah karena Allah. Apabila perpisahan yang menjadi takdir-Nya, maka keridhoan hati untuk menerima hal tersebut tanda bahwa kita berpisah karena-Nya. Amin.. Allahumma amin. Satu hal lagi ukh yang ingin ana katakan, jika diberi kesempatan ana ingin mengisahkan cerita kita dan menjadikannya sebuah novel mungkin, kiranya nanti dapat dijadikan ibroh bagi mereka yang akan menikah, memilih jodoh, dan juga bagi orang tua yang ingin menikahkan putra-putrinya, dan kemaren ana sempat menuliskan sebuah syair untuk ukhti, telah ana kirim via email ukhti, mungkin syair tersebut merupakan kata-kata terakhir dari ana untuk ukhti sebelum menikah. Terakhir ana ingin meminta maaf kepada ukhti dan keluarga jika ada sikap dan perbuatan atau juga lisan ana yang tidak berkenaan dihati ukhti dan keluarga, akhirul qalam, subanakallahumma wa bihamdika asyhadualla ilaha illa anta, astghfiruka, astaghfiruka, astaghfiruka ya Allah wa ‘atubuilaik, Assalamu’alaikum.”
“Tits” bunyi telepon terputus.
“Wa’alaikum salam warahmatullah wa barakatuh ya akhi”
Ira tertegun, tak menyangka harus memulai paginya seperti ini, dalam ketertegunannya hati Ira berucap,
Akhi Ryan.. bagaimana mungkin akhi ingin memperdebatkan dalil-dalil dengan ana, tak seimbang rasanya, sementara jika saja akhi tahu bahwa.. akhi adalah ustadz favorit ana, itulah yang membuat ana dengan hati yang mantap menerima akhi dan ingin sekali menjadi istri akhi, tapi .. kenangan cuma tinggal kenangan.. mudahkah bagi akhi untuk melupakan semua kenangan kita? Tak pernah terbayangkan Allah mempertemukan ana dengan lelaki yang selama ini ana inginkan untuk menjadi imam ana, tak lain adalah akhi.. namun.. Ya Allah perih sekali rasanya.. Kuatkanlah hamba.. Akhi sadarkah, bahwa bukan akhi seorang, bukan akh.. Disini-pun ana terluka dengan hebatnya..
Ira memaksakan diri untuk sejenak melupakan apa yang baru saja dialaminya, dia ingin bersiap-siap untuk berangkat mengajar, namun sebelumnya menyempatkan diri untuk membuka laptopnya dan penasaran akan syair terakhir yang dikirimkan Ryan ke e-mailnya, begitu jaringan internet tersambung, e-mail-pun terbuka, membaca dengan pelan dan seksama syair tersebut, kemudian tanpa aba-aba napasnya sesak dan air matanya kembali tertumpah dalam hati dia hanya mampu berkata,
Ryan..
My last word
Dear My Lord :
May I ask You something?
Is She never really had a chance, on that fateful moonlit night?
Sacrificed without a fight, and be a victim of her circumstance?
Now that I’ve become aware and I’ve exposed this tragedy..
Cause a sadness grows inside of me, forgive me My Lord and I beg Your mercy, when my heart said : “it all seem so unfair”
Dear irA :
Always beyond in my head the mosque we ever come together, but you know? Sadly all the grass was overgrown..
Now.. I can only said: “in loving memory of our love, so innocent and know nothing” I felt so empty as I cried, like part of me had died.
You wasn’t given me any choice when I heard desperation stole your voice..
I’ve been given so much more in life, I hope.. I got wife and I got child..
But enough... I had to suffer one last time, to grieve for you and ... Say : “GOODBYE MY DEAR”
Dear My Brothers (Ikhwan) and Sisters (Akhwat):
I know what it’s like to lose someone You love, cause this felt just the same at me now..
Inspired from Dream Theater’s lyric..
BTH, 05 Juli 2009.
“Barrakallahulaka wa Baraka ‘alaika, wa jama’a baynakuma fi khair Ya Ukhti Ya Akhi..”
Ttd
Ryan..
Langganan:
Postingan (Atom)