Kamis, 11 Februari 2010

Aku Tak Sendiri

Oleh : Adz Dzikr

Aku, terlahir dari keluarga yang serba ada, serba cukup,
bagiku ini adalah karunia dan nikmat yang telah Allah berikan untukku dan keluarga.
Serba ada, karena memang semuanya telah ada di Dunia ini,
Kami sekeluarga tidak pernah yang namanya kelaparan, ataupun harus menunggu belas kasihan orang lain untuk memberi kami sesuap nasi. Karena hal itu aku sangat menyukai melatunkan Qur’an Surat Ar-Rahman.

“Dan nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Kini aku hidup bersama Ibu dan adikku yang berusia 2,5 tahun.
Ayahku, telah meniggal tiga tahun lalu, meninggal yang dikarenakan penyakit yang telah bertahun-tahun dideritanya.
Kini aku menjadi tulang punggung keluarga.
ibuku juga tidak begitu khawatir akan kondisi ekonomi keluarga yang telah di tinggal pergi Ayah. Karena dari dulu ibu juga membuka kios dagangan kecil-kecilan di rumah. Tak pernah mengeluh, ataupun berkeluh kesah.
Karena Ibu sangat yakin akan adanya Sang Maha Pemberi rezeki. Selepas sekolah aku langsung membantu ibu untuk jualan, tak ada waktu bermain bagiku, bagiku hidup hanyalah sebuah permainan

Siang itu, seperti biasa aku melayani orang yang datang utuk membeli bensin dikios kecilku, berhimpitan dengan beberapa rumah tetangga di pinggir jalan, lalu lalang kendaraan menjadi pemandanga sehari-hari bagi kami sekeluarga. Pada saat itu entah mengapa adikku rewel sejak pagi, ibuku pun mampu membuat adikku tertidur, dan karena mungkin kecapek’an, ibuku pun tertidur. Sampai pada suatu peristiwa, yang mungkin tidak akan pernah aku lupa.

Salah seorang Pembeli dengan tidak sengaja membuang puntung rokok di sekitar kiosku, dan puntung rokok itu jatuh tepat di sisi dua drum, yang berisi minyak tanah dan bensin, Karena di sekitar drum itu masih ada genangan bensin di bawahnya, maka api dengan cepat menjalar ke sisi drum, dan teriknya matahari di siang itu di hiasi dengan ledakkan dua drum tersebut, gumpalan asap hitam pekat dari ledakan dan gelombang api besar menyambar apa saja yang ada didekatnya, tidak terkecuali kios dan rumah-rumah yang ada di sebelahnya. Belum sempat hilang dari keterkejutanku, aku bertindak cepat keluar rumah dan tidak sempat menyelamatkan ibu dan adikku yang terlelap dikamar. Karena api dengan cepat membesar.

Di antara deru api yang membesar hebat, teriakan ibu dan tangisan adikku hanya sebentar terdengar dan sayup-sayup hilang dikalahkan gemuruh api dan ledakan-ledakan yang berasal dari botol dan drum bensin lainnya. Dalam tempo hitungan menit, api membakar hangus dua bangunan kios dan rumah. Tak kuasa aku menahan kepanikan yang begitu hebat dari dalam diri untuk memasuki rumah dan menolong ibu dan adikku. Tubuhku meronta tapi Aku hanya terkujur kaku ditahan oleh tetangga sekitar untuk tidak dulu memasuki rumah. Dalam beberapa menit pemadam kebakaran berhasil meredakan api, dan tidak sampai terlalu menyempret ke rumah-rumah lainnya. api mulai mereda hanya asap hitam pekat masih membuat pandangan mata terhalang.

Begitu dipastikan aman, aku memasuki puing-puing rumah yang tadinya kayu-kayu dan triplek tersusun rapi, dengan seketika berubah menjadi hiasan-hiasan hitam dengan asap putih kecil ke udara. Dengan peralahan langkah-langkah kecilku, melihat-melihat sisi-sisi ruang rumah, aku belum juga melihat adanya tanda-tanda ibu dn adikku berada, dan ketika sampai di kamar mandi, aku terkejut hebat melihat dua jasad terkujur kaku di dalamnya, dengan posisi ibu mendekap yang melindungi adikku dengan badanya. Pengorbanan ibu yang luar biasa batinku, subhanallah… aku pun tersungkur menangis sejadi-jadinya, dan memulai membalikkan jasad ibuku, sungguh aku tak melihat luka bakar yang serius ditubuh sang ibu, wajahnya tersenyum dan bercahaya, dan anehnya jasadnya harum, keharuman yang belum pernah sama sekali ku cium sebelumnya.


"Sesungguhnya bila seorang yang beriman hendak meninggal dunia dan memasuki kehidupan akhirat, ia didatangi oleh segerombol malaikat dari langit. Wajah mereka putih bercahaya bak matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari surga. Selanjutnya mereka akan duduk sejauh mata memandang dari orang tersebut. Pada saat itulah Malaikat Maut 'alaihissalam menghampirinya dan duduk didekat kepalanya. Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata:

"Wahai jiwa yang baik, bergegas keluarlah dari ragamu menuju kepada ampunan dan keridhaan Allah". Segera ruh orang mukmin itu keluar dengan begitu mudah dengan mengalir bagaikan air yang mengalir dari mulut guci. Begitu ruhnya telah keluar, segera Malaikat maut menyambutnya. Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat Maut, para malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang tidak membiarkanya sekejappun berada di tangan Malaikat Maut. Para malaikat segera mengambil ruh orang mukmin itu dan membungkusnya dengan kain kafan dan wewangian yang telah mereka bawa dari surga. Dari wewangian ini akan tercium semerbak bau harum, bagaikan bau minyak misik yang paling harum yang belum pernah ada di dunia. Selanjutnya para malaikat akan membawa ruhnya itu naik ke langit. Tidaklah para malaikat itu melintasi segerombolan malaikat lainnya, melainkan mereka akan bertanya: "Ruh siapakah ini, begitu harum." Malaikat pembawa ruh itupun menjawab: Ini adalah arwah Fulan bin Fulan (disebut dengan namanya yang terbaik yang dahulu semasa hidup di dunia ia pernah dipanggil dengannya)."
(HR Imam Ahmad, dan Ibnu Majah)

Tangisan bercampur dengan kebahagiaan, karena kepergian ibu dengan kondisi yang baik, adik yang belum berdosa, membuatku yakin akan takdir Allah memanggil mereka karena Allah, begitu mencitai mereka, semoga Allah mengumpulkan keluarga di Jannah-Nya, dan ku berharap, aku dapat bertemu mereka kembali…

Derai-derai kecil menyelimuti radangnya hati akan kekuatan menempuh segala coba’an, kini aku tak punya keluarga, satu persatu orang – orang yang ku cintai pergi meninggalkanku…, tapi hal ini lah yang membuatku kuat dan tetap bertahan pada keyakinanku akan takdir Tuhan akan selalu baik untuk hamba-hamba-Nya. Aku yakin aku tak sendiri, karena aku masih punya Allah yang selalu menemaniku dan menjagaku, di setiap saat, dimanapun, dan kapanpun.

Cucuran air mata hanya ku tumpahkan pada setiap di sepertiga malam terakhirku.
Hanya kepada-Mu aku mengadu Ya Rabb
Hanya kepada-Mu ku meminta Ya Qohhar

Ku pinta akan kasih dan cinta-Mu kepada Ayah, Ibu, dan Adikku disisi-Mu,
Ku pinta Engkau berkenan mengampuni segala dosa-dosanya,
Ku pinta Engkau mengumpulkan kami kembali di surge-Mu..

Satu harapan yang terpatri dari dalam diriku
Ku meminta pada-Mu
Untuk menghadirkan seorang untuk menemaniku
Menemani langkah-langkahku
Jikapun tidak,
Aku ingin selalu berada dalam naugan-Mu,
Tetap merasa dekat dengan-Mu

Temani aku Ya Rabb.
Temani aku Ya Khobiir.
Temani aku Ya Mujiib.

Jangan biarkan aku sendiri disini
Jangan palingkan wajah-Mu
Untuk terus menatapku

Yakinkanku bahwa Aku tak sendiri
Yakinkanku bahwa Kau selalu bersamku
Yakinkanku bahwa Aku tak sendiri

--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar