Oleh : Erjie Al-Batamiy
Alya dan ibundanya ingin menuntaskan malam dengan berdiskusi masalah pernikahan. Mulai dari masalah pada fase pra-nikah hingga masalah pada fase pasca-nikah. Tertangkup segenggam asa pada diri ibunda agar putri tercinta bisa lebih memahami dan siap menghadapi liku pernikahan.
“Malam terasa semakin akrab ya ananda dan tampaknya abi juga masih lama pulang dari masjidnya. Baiklah akan bunda bahas sekalian aja mengenai pengaman pasca-pernikahan.”
Alya tampak antusias.
“Jika tadi saat berbicara mengenai persiapan pra-nikah, bunda mengilustrasikan pernikahan sebagai sebuah perahu, maka kali ini saat berbicara mengenai pengaman pasca-pernikahan, bunda akan mengilustrasikan pernikahan bagai sebuah rumah yang terdiri dari pondasi dasar, lalu dinding dan atap, kemudian pernak-pernik seperti pagar ataupun taman. Bicara mengenai pengaman pasca-pernikahan sebenarnya sama saja kita tengah membicarakan hal-hal yang menjadi pondasi dasar, struktur maupun estetika pada sebuah pernikahan islami yang digambarkan bagai sebuah bangunan, dan hal yang menjadi pondasi dasar dari bangunan tersebut ialah ketaqwaan. Hendaklah pasangan suami istri mampu menjadikan ketaqwaan sebagai pondasi dasar pernikahan mereka. Adanya ketaqwaan mampu melahirkan ketenangan jiwa pada masing-masing diri suami maupun istri karena masing-masing dari mereka sama-sama cinta dan takut kepada Allah. Dengan begitu masing-masing akan berusaha menjaga diri dari perbuatan buruk atau tercela, baik yang terjadi di dalam maupun luar rumah sehingga hal-hal menyimpang yang mampu menciptakan kisruh dalam rumah tangga dapat diminimalisir. Bukankah kisruh dalam rumah tangga selalu disebabkan oleh hal-hal tercela yang dilakukan baik oleh suami atau istri maupun kedua-duanya? lalu bagaimana tidak padam api kekisruhan tersebut jika suami istri selalu mampu dan kompak untuk menghadirkan mata air ketaqwaan yang mampu mematikan api kekisruhan serta segar lagi menyejukan suasana”
…SAAT BERBICARA MENGENAI PENGAMAN PASCA-PERNIKAHAN, BUNDA AKAN MENGILUSTRASIKAN PERNIKAHAN BAGAI SEBUAH RUMAH YANG TERDIRI DARI PONDASI DASAR, LALU DINDING DAN ATAP, KEMUDIAN PERNAK-PERNIK SEPERTI PAGAR ATAUPUN TAMAN…
…HENDAKLAH PASANGAN SUAMI ISTRI MAMPU MENJADIKAN KETAQWAAN SEBAGAI PONDASI DASAR PERNIKAHAN MEREKA…
…BAGAIMANA TIDAK PADAM API KEKISRUHAN TERSEBUT JIKA SUAMI ISTRI SELALU MAMPU DAN KOMPAK UNTUK MENGHADIRKAN MATA AIR KETAQWAAN YANG MAMPU MEMATIKAN API KEKISRUHAN SERTA SEGAR LAGI MENYEJUKAN SUASANA…
“Hm.. Jika dikaitkan dengan masalah pernikahan, Alya menjadi bertambah mengerti bunda akan sabda Rasulullah yang memerintahkan kita untuk selalu menjaga ketaqwaan kapanpun waktunya, baik saat masih belum menikah maupun sesudahnya dan dimanapun kita berada, baik saat didalam maupun diluar rumah”
“Betul sekali ananda. Definisi mahsyur dari ketaqwaan menurut para ulama ialah menjalankan perintah Allah SWT sesuai dengan kemampuan yang kita miliki dan menjauhi larangan-Nya tanpa terkecuali. Hal tersebut berlaku kapanpun waktunya dan dimanapun kita berada. Untuk itu wahai anandaku, mengapa sedari awal saat berbicara mengenai masalah pernikahan, bunda memulainya dengan niat ibadah sebagai awal persiapan sebelum menikah, karena tanpa niat awal menikah untuk beribadah kepada-Nya, akan sulit walaupun bukannya tidak mungkin bagi pasangan suami istri menghadirkan nilai-nilai ketaqwaan apabila mereka berumah tangga kelak, yang tentunya nilai-nilai tersebut harus dimulai dari diri suami dan istri terlebih dahulu. Allah memerintahkan kita sebagai orang beriman untuk masuk islam atau menjadi seorang muslim yang kaffah. Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan / kaffah (QS Al-Baqarah : 208). Dengan begitu telah menjadi keharusan bagi kita untuk menjadi seorang muslim yang total, jangan setengah-setengah, termasuk dalam hal ketaqwaan. Menikah hanya mampu menyempurnakan separuh agama seseorang, namun setengahnya lagi perlu disempurnakan melalui?” Bunda berinteraksi dengan Alya.
“Dengan ketaqwaan bunda” Mudah Alya menjawabnya karena telah menjadi hapalan diluar kepala (dhabatus sadr) akan hadits Rasulullah SAW yang berbunyi bahwa dengan menikah berarti seseorang telah menyempurnakan separuh agamanya, untuk itu hendaklah mereka menyempurnakan separuhnya lagi dengan bertaqwa.
…DEFINISI MAHSYUR DARI KETAQWAAN MENURUT PARA ULAMA IALAH MENJALANKAN PERINTAH ALLAH SWT SESUAI DENGAN KEMAMPUAN YANG KITA MILIKI DAN MENJAUHI LARANGAN-NYA TANPA TERKECUALI. HAL TERSEBUT BERLAKU KAPANPUN WAKTUNYA DAN DIMANAPUN KITA BERADA…
…KARENA TANPA NIAT AWAL MENIKAH UNTUK BERIBADAH KEPADA-NYA, AKAN SULIT WALAUPUN BUKANNYA TIDAK MUNGKIN BAGI PASANGAN SUAMI ISTRI MENGHADIRKAN NILAI-NILAI KETAQWAAN APABILA MEREKA BERUMAH TANGGA KELAK…
…MENIKAH HANYA MAMPU MENYEMPURNAKAN SEPARUH AGAMA SESEORANG, NAMUN SETENGAHNYA LAGI PERLU DISEMPURNAKAN MELALUI?...
“Betul, tiada lain dengan ketaqwaan. Allah telah menjelaskan bahwa pasangan kita adalah pakaian bagi kita. Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka (QS Al-Baqarah : 187), sedang pakaian sendiri pada umumnya berfungsi sebagai penutup aurat, dan pakaian yang indah khususnya sebagai perhiasan. Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan (Al A’raf : 26). Betapa bahagianya seseorang bila memiliki pasangan yang mampu menjadi pakaian untuk menutupi aib dan kekurangannya. Betapa bangganya seseorang dan bukan untuk suatu keujuban apabila memiliki pasangan yang mampu menjadi pakaian indah baginya sehingga pakaian tersebut bagaikan perhiasan yang selalu melekat padanya, sedangkan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah?” sambil tersenyum kembali ibunda mengajak dialog Alya.
“Wanita sholehah” Respon spontan Alya.
…SEHINGGA PAKAIAN TERSEBUT BAGAIKAN PERHIASAN YANG SELALU MELEKAT PADANYA, SEDANGKAN SEBAIK-BAIKNYA PERHIASAN DUNIA ADALAH?...
“Dan dalam hal ini lebih spesifik lagi ialah istri sholehah. Sesungguhnya Allah itu Maha Indah lagi mencintai keindahan. Dia hanya cinta kepada keindahan, dan tiadalah keindahan hakiki dimata Allah melainkan ketaqwaan. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu (QS Al Hujurat : 13). Ingatlah anandaku, dikarenakan pasangan kita adalah pakaian bagi kita, sedang sebaik-baiknya pakaian ialah pakaian taqwa (QS Al-A’raf : 26), bisa dikatakan bahwa sebaik-baiknya pasangan ialah pasangan yang bertaqwa. Itulah mengapa bunda katakan bahwa ketaqwaan menempati urutan pertama untuk keharmonisan sebuah rumah tangga”
…DIKARENAKAN PASANGAN KITA ADALAH PAKAIAN BAGI KITA, SEDANG SEBAIK-BAIKNYA PAKAIAN IALAH PAKAIAN TAQWA (QS AL-A’RAF : 26), BISA DIKATAKAN BAHWA SEBAIK-BAIKNYA PASANGAN IALAH PASANGAN YANG BERTAQWA…
Ketaqwaan… ketaqwaan… ketaqwaan… Alya coba untuk mengingat terus dengan melafalkannya dalam hati.
“Mukmin sejati kata Rasulullah ialah orang yang mampu menjaga lisan dan tangannya dengan baik sehingga orang-orang merasa aman dari kejahatan yang mungkin timbul atas keduanya. Tahukah ananda bahwa kejahatan lisan yang dimaksud oleh Rasulullah ialah representasi dari kejahatan yang akan menimbulkan luka batin atau tekanan psikis, sedangkan kejahatan tangan sendiri merupakan representasi dari kejahatan yang akan menimbulkan cedera fisik. Lihatlah betapa Rasulullah SAW telah terlebih dahulu memberikan rambu-rambu untuk mengantisipasi terjadinya kejahatan psikis dan fisik, dimana kejahatan tersebut salah satunya sering terjadi dalam kehidupan berumah tangga, sehingga oleh negara melahirkan Undang-undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Tidaklah seseorang mampu menjaga lisan dan tangannya dengan baik kecuali orang tersebut ialah seorang muttaqin. Dan sejalan dengan hal tersebut, perlu untuk diingat kembali bahwa hanya lelaki bertaqwalah yang mampu untuk menjawab kebutuhan akan rasa aman yang hakiki dari seorang wanita. Lagi-lagi ketaqwaan ananda.”
Tergambar jelas di pikiran Alya kepada pria seperti apa akan dia tambatkan hatinya. Dirinya mantap pada pria yang bertaqwa.
“Ada satu hal lagi yang menjadi konsekuensi apabila pasangan suami istri telah sepakat untuk menanamkan ketaqwaan sebagai pondasi rumah tangga. Konsekuensinya adalah mereka akan menjadikan Allah sebagai hakim atas semua permasalahan rumah tangga mereka. Nabi Muhammad sebagai saksi atas pelaksanaan syariatnya, sedang Al-Qur’an dan As-Sunah sebagai kitab rujukannya”
…MEREKA AKAN MENJADIKAN ALLAH SEBAGAI HAKIM ATAS SEMUA PERMASALAHAN RUMAH TANGGA MEREKA. NABI MUHAMMAD SEBAGAI SAKSI ATAS PELAKSANAAN SYARIATNYA, SEDANG AL-QUR’AN DAN AS-SUNAH SEBAGAI KITAB RUJUKANNYA…
“Maksudnya bunda?” Alya ingin lebih diperjelas.
“Maksudnya ialah tatkala pasangan suami istri dihadapkan pada perbedaan pendapat, maka dengan mantap mereka akan menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunah sebagai rujukan untuk menentukan pendapat siapa yang layak diambil. Manakala mereka membutuhkan solusi atas permasalahan rumah tangga, maka dengan yakin mereka akan menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunah sebagai referensi pertama dan utama untuk menemukan solusi. Dengan begitu tidak ada yang merasa paling betul sendiri. Tidak ada arogansi dalam kepemimpinan suami dalam rumah tangga. Suami tidak akan memberikan perintah yang bersifat dogmatis dengan pola perintah pokoknya kamu harus begini, pokoknya kamu harus begitu. Tapi pola kepemimpinan yang bersifat bijak lagi mencerdaskan, dengan merujuk pada Al-Qur’an dan As-Sunah, sementara istri juga tidak menjadi orang yang keras kepala terhadap perintah suami. Apabila perintah tersebut telah sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunah, maka dengan lapang dada dan yakin sang istri mengatakan saya dengarkan dan akan saya patuhi. Jauh dari sikap angkuh dan egois. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dzalim (QS Al-Maidah : 45). Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, Kami mendengar dan kami patuh. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS An-Nur : 51)”
…TATKALA PASANGAN SUAMI ISTRI DIHADAPKAN PADA PERBEDAAN PENDAPAT, MAKA DENGAN MANTAP MEREKA AKAN MENJADIKAN AL-QUR’AN DAN AS-SUNAH SEBAGAI RUJUKAN UNTUK MENENTUKAN PENDAPAT SIAPA YANG LAYAK DIAMBIL…
…MANAKALA MEREKA MEMBUTUHKAN SOLUSI ATAS PERMASALAHAN RUMAH TANGGA, MAKA DENGAN YAKIN MEREKA AKAN MENJADIKAN AL-QUR’AN DAN AS-SUNAH SEBAGAI REFERENSI PERTAMA DAN UTAMA UNTUK MENEMUKAN SOLUSI…
“Na’udzubillahi min dzalik…” Untuk kesekian kalinya Alya mengucapkan ta’awudz.
“Sesungguhnya menjadi murka Allah atas orang-orang yang masih menyisakan kesombongan dihatinya, sedang bentuk kesombongan sendiri sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW ialah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Jangan sampai sikap menolak kebenaran akan suatu hal dalam masalah rumah tangga menjadikan hati suami atau istri tersusupi sikap sombong. Dan tentunya standar yang digunakan untuk menentukan sebuah kebenaran ialah Al-Qur’an dan As-Sunah. Itu baru fair”
“Dengan begitu hak dan kewajiban masing-masing pasangan akan selalu terkelola dengan baik. Masing-masing mengerti posisinya dan peranan apa yang harus dilakoni dalam berumah tangga. Sebab keadilan menjadi keseharian, maka kedzaliman-pun kan lekang dibawa hanyut oleh alur kehidupan”
…SEBAB KEADILAN MENJADI KESEHARIAN, MAKA KEDZALIMAN-PUN KAN LEKANG DIBAWA HANYUT OLEH ALUR KEHIDUPAN…
“Subhanallah, putri bunda semakin cerdas saja. Betul sekali, keadilan-lah yang sedang bunda bicarakan. Tapi perlu diingat juga ananda, Rasulullah pernah bersabda bahwa wanita itu tercipta dari tulang rusuk pria, maka telah menjadi tabiat dasarnya untuk bengkok. Jika dibiarkan saja maka dia akan terus bengkok, namun jika terlalu keras dan terburu-buru meluruskannya, maka dia akan patah. Haruslah dengan lembut dan pelan-pelan dalam meluruskannya. Tahukah ananda bagian mana yang paling keras dan susah untuk diluruskan menurut Rasulullah?”
…JIKA DIBIARKAN SAJA MAKA DIA AKAN TERUS BENGKOK, NAMUN JIKA TERLALU KERAS DAN TERBURU-BURU MELURUSKANNYA, MAKA DIA AKAN PATAH. HARUSLAH DENGAN LEMBUT DAN PELAN-PELAN DALAM MELURUSKANNYA…
…TAHUKAH ANANDA BAGIAN MANA YANG PALING KERAS DAN SUSAH UNTUK DILURUSKAN MENURUT RASULULLAH?...
Alya belum mempunyai ilmunya. Belum mampu menjawabnya. Sejurus kemudian bunda dengan lembut mengelus-elus ubun-ubun Alya. Dengan penuh keanggunan bunda berujar,
“Bagian inilah yang paling keras untuk diluruskan wahai ananda”
Tahulah Alya maksud ibunda. Alya jadi mengerti bahwa bagian yang paling keras untuk diluruskan dari tulang rusuk ialah bagian atasnya, sedang yang dimaksud bagian atas pada diri wanita ialah kepala mereka. Pantas saja tadi bunda mengingatkan Alya untuk berhati-hati agar tidak menjadi orang yang keras kepala untuk menerima kebenaran dari perintah suami.
“Itulah pondasi dasar dari sebuah bangunan rumah tangga, yakni ketaqwaan. Lalu bagian berikutnya yang perlu ada dalam bangunan rumah tangga untuk melindungi pemiliki rumah dari mata-mata atau lirikan pihak lain yang menghembuskan bisikan was-was, dan menjaga empunya rumah dari intervensi pihak ketiga yang mungkin hadir hanya untuk sebuah kekisruhan, dimana hal tersebut akan datang dari segala penjuru, baik depan, belakang, samping, maupun atas. Tiada lain yang dibutuhkan oleh pemilik rumah tersebut ialah dinding yang tebal dan atap yang baik, yang mampu melindungi rahasia dan hal privasi pemilik rumah dari mata-mata atau bisikan-bisikan buruk pihak lainnya. Dinding dan atap yang bunda maksudkan ialah kepercayaan”
…MELINDUNGI PEMILIKI RUMAH DARI MATA-MATA ATAU LIRIKAN PIHAK LAIN YANG MENGHEMBUSKAN BISIKAN WAS-WAS, DAN MENJAGA EMPUNYA RUMAH DARI INTERVENSI PIHAK KETIGA YANG MUNGKIN HADIR HANYA UNTUK SEBUAH KEKISRUHAN, DIMANA HAL TERSEBUT AKAN DATANG DARI SEGALA PENJURU, BAIK DEPAN, BELAKANG, SAMPING, MAUPUN ATAS…
…DINDING DAN ATAP YANG BUNDA MAKSUDKAN IALAH KEPERCAYAAN…
Setelah ketaqwaan lalu yang kedua adalah kepercayaan Alya bergumam.
“Hendaklah suami dan istri saling memberikan kepercayaan terhadap pasangan. Adanya nilai-nilai ketaqwaan dalam kehidupan berumah tangga, insya Allah akan lebih memudahkan lahirnya sikap saling percaya antara suami dan istri. Kenapa demikian? Karena dengan adanya sikap taqwa dimasing-masing pihak baik suami maupun istri, maka akan terbentuk sebuah penilaian di hati. Suami akan menyaksikan dengan mata dan hatinya bahwa istrinya adalah seorang yang bertaqwa, begitu juga sebaliknya. Sehingga dari penilaian tersebut terciptalah suatu lafal dihati mereka yaitu pasanganku adalah orang yang bertaqwa, dikarenakan ketaqwaannya, insya Allah pasanganku akan mampu menjaga diri dari prilaku yang tercela. Tumbuh keyakinan dihatinya bahwa dengan ketaqwaan berarti pasanganku akan selalu menjaga Allah dengan menjaga amalan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Disebabkan pasanganku telah menjaga Allah, maka aku yakin Allah pun akan menjaga dia. Tercipta kemantapan batinnya, bahwa dengan ketaqwaan maka pasanganku akan selamat dari sifat kemunafikan. Insya Allah perkataannya bukanlah dusta. Janjinya selalu ditepati dan tatkala amanah kepercayaan telah kuberikan padanya, maka tak sekalipun dia menyia-nyiakannya apalagi mengkhianatinya. Itulah dinding dan atap kepercayaan wahai anandaku. Jika dinding tersebut kokoh sedang atapnya perkasa menjulang, maka akan sulit bagi setan baik dari golongan jin maupun manusia untuk memprovokasi ketentramannya. Tak jua bisikan atau hasutan mampu merobohkannya. Segala penjuru akan terjaga dari penglihatan mata-mata kedengkian.”
…ADANYA NILAI-NILAI KETAQWAAN DALAM KEHIDUPAN BERUMAH TANGGA, INSYA ALLAH AKAN LEBIH MEMUDAHKAN LAHIRNYA SIKAP SALING PERCAYA ANTARA SUAMI DAN ISTRI…
…TUMBUH KEYAKINAN DIHATINYA BAHWA DENGAN KETAQWAAN BERARTI PASANGANKU AKAN SELALU MENJAGA ALLAH DENGAN MENJAGA AMALAN PERINTAH-NYA DAN MENJAUHI LARANGAN-NYA. DISEBABKAN PASANGANKU TELAH MENJAGA ALLAH, MAKA AKU YAKIN ALLAH PUN AKAN MENJAGA DIA…
…TERCIPTA KEMANTAPAN BATINNYA, BAHWA DENGAN KETAQWAAN MAKA PASANGANKU AKAN SELAMAT DARI SIFAT KEMUNAFIKAN. INSYA ALLAH PERKATAANNYA BUKANLAH DUSTA. JANJINYA SELALU DITEPATI DAN TATKALA AMANAH KEPERCAYAAN TELAH KUBERIKAN PADANYA, MAKA TAK SEKALIPUN DIA MENYIA-NYIAKANNYA APALAGI MENGKHIANATINYA…
“Betapa pentingnya arti sebuah kepercayaan ya bunda. Mungkin lebih berharga daripada emas dan permata.”
“Jangan sampai kepercayaan pudar karena kedustaan, lalu hilang karena pengingkaran, kemudian lenyap tak berbekas karena pengkhianatan. Jangan sampai hal itu terjadi anandaku, karena akan sulit bagi kita untuk memperolehnya kembali. Bahkan dulu abi pernah berkata pada bunda. Abi pernah berkata, wahai istriku sesungguhnya tiadalah orang yang paling kupercaya didunia ini melainkan dirimu, sebab aku bersaksi bahwa dirimu termasuk seorang yang bertaqwa. Mungkin saja kesaksianku salah karena kejahilan dan kedhaifankun sebagai manusia biasa, namun ku tetap pada kesaksianku. Oleh karena itu wahai istriku, seandainya aku mendengar dari orang lain tentang keburukan-keburukanmu, maka aku akan tetap melakukan tabayyun atas informasi tersebut. Kutanyakan kepada mereka untuk berkata apa adanya atas apa yang mereka lihat dan dengar atas dirimu, lalu hal tersebut akan kutanyakan langsung padamu. Apapun yang engkau katakan mengenai hal tersebut, maka perkataan itulah yang aku ambil sebagai pegangan. Apabila perkataanmu berisi sangkalan sedang sangkalan tersebut adalah sebuah kebenaran, semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik daripada yang engkau kerjakan, namun seandainya sangkalan tersebut adalah sebuah kedustaan, maka biarlah Allah yang memutuskan hal apa yang pantas engkau terima wahai istriku. Aku bertawakal pada-Nya. Insya Allah tiada kuasa setan untuk mempengaruhiku. Sesungguhnya setan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya (QS An-Nahl : 99). Itulah prinsip abi dan bunda-pun berprinsip demikian. Betapa besar nilai sebuah kepercayaan telah diberikan abi kepada bunda, lalu bagaimana mungkin bunda sanggup mengkhianati kepercayaan tersebut. Begitu juga sebaliknya, abi juga takut menyia-nyiakan amanah yang telah bunda berikan kepadanya. Abi dan bunda sepakat bahwa pengkhianatan akan sebuah kepercayaan hanya akan membawa kemurkaan Allah. Untuk itu abi dan bunda saling menjaga dan mengingatkan. Agar murka Allah tak mendatangi. Jika telah begitu, maka rangkaian batu, pasir dan semen sebuah dinding dan atap kepercayaan akan luar biasa kokoh dan tak mudah goyah.”
…JANGAN SAMPAI KEPERCAYAAN PUDAR KARENA KEDUSTAAN, LALU HILANG KARENA PENGINGKARAN, KEMUDIAN LENYAP TAK BERBEKAS KARENA PENGKHIANATAN. JANGAN SAMPAI HAL ITU TERJADI ANANDAKU, KARENA AKAN SULIT BAGI KITA UNTUK MEMPEROLEHNYA KEMBALI…
…APABILA PERKATAANMU BERISI SANGKALAN SEDANG SANGKALAN TERSEBUT ADALAH SEBUAH KEBENARAN, SEMOGA ALLAH MEMBERIKAN BALASAN YANG LEBIH BAIK DARIPADA YANG ENGKAU KERJAKAN…
…NAMUN SEANDAINYA SANGKALAN TERSEBUT ADALAH SEBUAH KEDUSTAAN, MAKA BIARLAH ALLAH YANG MEMUTUSKAN HAL APA YANG PANTAS ENGKAU TERIMA WAHAI ISTRIKU. AKU BERTAWAKAL PADANYA…
“Masya Allah bunda, Alya jadi iri. Kompak sekali bunda dan abi ya” Alya berdoa semoga Allah sudi untuk memberikannya suami yang bisa selalu kompak dengannya kelak.
“Harus kompak dong sayang. Kan partner sejati.” Bunda tak bosan-bosannya menyemangati Alya.
“Jadi pondasinya ialah ketaqwaan sedang dinding dan atapnya adalah kepercayaan, kemudian apalagi bunda?”
“Setelah kita membicarakan pondasi dan dinding serta atap rumah, sesungguhnya kita telah bicara masalah yang paling esensial dari sebuah rumah. Setelah masalah esensi baru saatnya kita membicarakan masalah pernak-pernik, seperti dinding rumah maunya berwarna apa, lalu bentuk pagarnya gimana. Apakah ingin membuat taman didepan rumah. Terus kira-kira tumbuhan yang akan ditanami apa saja. Itulah pernak pernik dalam rumah tangga. Itulah masalah furu’ setelah ushul. Cukup penting walau bukan prioritas pertama, namun jangan diremehkan karena akan memberikan sentuhan keindahan akan tampilan rumah tangga.”
…SETELAH MASALAH ESENSI BARU SAATNYA KITA MEMBICARAKAN MASALAH PERNAK-PERNIK, SEPERTI DINDING RUMAH MAUNYA BERWARNA APA, LALU BENTUK PAGARNYA GIMANA…
…ITULAH MASALAH FURU’ SETELAH USHUL. CUKUP PENTING WALAU BUKAN PRIORITAS PERTAMA, NAMUN JANGAN DIREMEHKAN KARENA AKAN MEMBERIKAN SENTUHAN KEINDAHAN AKAN TAMPILAN RUMAH TANGGA…
“Pernak-pernik yang bunda maksud apa tuh bunda?” Alya bertanya manja.
“Pernak-pernik dalam rumah tangga ialah komunikasi antar pasangan. Memang bukan prioritas utama, namun cukup penting dan tidak bisa dinafikan. Adanya komunikasi akan menciptakan sikap saling pengertian antara suami dan istri. Suami akan mengerti apa maunya istri, begitu juga sebaliknya. Istri akan lebih belajar untuk memahami suami, sedang suami akan terus berusaha untuk mengerti istri. Adanya komunikasi yang intens antar suami istri, insya Allah akan mampu meminimalisir adanya kesalah pahaman atau mis-komunikasi. Bisa ananda bayangkan, betapa bahagianya pasangan yang mampu mengkomunikasikan keinginan masing-masing pihak. Komunikasikan semua hal, termasuk hal yang detil dan mungkin dianggap remeh, karena jika tidak dikomunikasikan maka hal tersebut bisa jadi besar dan membahayakan”
“Semua hal bunda?”
…PERNAK-PERNIK DALAM RUMAH TANGGA IALAH KOMUNIKASI ANTAR PASANGAN…
…ADANYA KOMUNIKASI AKAN MENCIPTAKAN SIKAP SALING PENGERTIAN ANTARA SUAMI DAN ISTRI. SUAMI AKAN MENGERTI APA MAUNYA ISTRI, BEGITU JUGA SEBALIKNYA. ISTRI AKAN LEBIH BELAJAR UNTUK MEMAHAMI SUAMI, SEDANG SUAMI AKAN TERUS BERUSAHA UNTUK MENGERTI ISTRI…
…KOMUNIKASIKAN SEMUA HAL, TERMASUK HAL YANG DETIL DAN MUNGKIN DIANGGAP REMEH, KARENA JIKA TIDAK DIKOMUNIKASIKAN MAKA HAL TERSEBUT BISA JADI BESAR DAN MEMBAHAYAKAN…
“Ya, terhadap semua hal. Misalnya suami ingin istrinya selalu memakai jilbab dengan warna itu atau warna itu, sedangkan istri mungkin lebih senang jika suaminya mengenakan kemeja atau terlihat rapi. Suami senangnya kalo dimasakin nasi goreng yang pedas, sementara istri senangnya kalo suami pulang dibawain sate atau martabak. Itulah contoh-contoh kecilnya ananda. Komunikasikan semuanya sebagai pernak pernik rumah untuk memberikan sentukan estetika sehingga melahirkan sinkronisasi keindahan.”
Perputaran dunia semakin menuju pada keheningan malam. Tak lama lagi abi akan pulang dari Masjid Al-Fath, sementara bunda sebentar lagi akan menyelesaikan tausiyah kepada Alya.
“Sesungguhnya adanya komunikasi antar suami istri merupakan bentuk penerapan dari budaya musyawarah yang sangat dianjurkan dalam islam. Allah berfirman : Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah (QS Ali Imron : 159). Para ulama memberikan subangsih pemikirannya atas kemanfaatan musyawarah, seperti ucapan Hasan Al-Basri, tiada suatu kaum yang melakukan musyawarah kecuali urusan mereka mendapatkan petunjuk. Lalu ucapan Al-Qurthubi, Kekeliruan dengan musyawarah lebih maslahat dibandingkan dengan kebenaran yang diambil secara individual. Jadi berkomunikasilah ananda kelak. Komunikasi akan berdampak pada keterbukaan diri dan keterbukaan diri akan melahirkan sikap saling pengertian.”
…KOMUNIKASI AKAN BERDAMPAK PADA KETERBUKAAN DIRI DAN KETERBUKAAN DIRI AKAN MELAHIRKAN SIKAP SALING PENGERTIAN…
“Contoh keteladanan akan budaya musyawarah misalnya bunda?”
“Lihatlah contoh-contoh komunikasi atau musyawarah kenabian. Nabi Ibrahim yang memusyawarahkan terlebih dahulu perihal mimpinya untuk menyembelih putra tercinta Ismail. Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu (QS Ash Shaffat : 102). Musyawarah Nabi Muhammad untuk berbagi pekerjaan rumah, sebab beliau ingin mengajarkan bahwa tugas rumah, seperti memasak, mencuci membersihkan rumah bukanlah kewajiban istri semata, melainkan kewajiban bersama dengan suami. Betapa indahnya bukan? Adanya komunikasi akan menimbulkan tiga kemungkinan. Pertama suami mengikuti kemauan istri. Kedua istri yang mengikuti kemauan suami, atau yang ketiga, kombinasi antara keinginan suami dan maunya istri. Silahkan saja dilakukan selama tidak bertentangan dengan hukum-hukum Allah. Keridhoaan mengikuti keinginan atau saran pasangan insya Allah akan melahirkan sifat saling mengalah, menghormati, dan berkorban. Insya Allah pernikahannya penuh berkah. Lihat juga contoh yang dilakukan oleh sahabat, dalam hal ini Abu Darda. Abu Darda adalah salah seorang sahabat yang mempunyai sifat serius dan terkenal sebagai ahli hikmah, namun ternyata dia juga memiliki sisi-sisi keromatisan. Dia pernah berkata kepada istrinya, wahai istriku ada sesuatu hal yang ingin aku sepakati dengan dirimu, yaitu apabila engkau melihat aku marah, maka aku minta janganlah engkau menyangkal perkataanku saat itu, sekalipun menurutmu perkataan tersebut kurang benar, dan pendapatmu lah yang benar. Untuk saat itu mengalahlah untuk mengiyakan perkataanku, sebab aku sedang emosi dan sulit berpikir jernih untuk menilai kesalahanku, lalu setelah emosiku reda, beritahukanlah kepadaku dengan santun tentang kesalahanku. Insya Allah aku akan bisa menerimanya sebab akal ku sudah berfungsi secara optimal dan aku pun akan melakukan hal yang sama terhadapmu jika engkau sedang marah wahai istriku.”
…ADANYA KOMUNIKASI AKAN MENIMBULKAN TIGA KEMUNGKINAN. PERTAMA SUAMI MENGIKUTI KEMAUAN ISTRI. KEDUA ISTRI YANG MENGIKUTI KEMAUAN SUAMI, ATAU YANG KETIGA, KOMBINASI ANTARA KEINGINAN SUAMI DAN MAUNYA ISTRI. SILAHKAN SAJA DILAKUKAN SELAMA TIDAK BERTENTANGAN DENGAN HUKUM-HUKUM ALLAH…
…KERIDHOAAN MENGIKUTI KEINGINAN ATAU SARAN PASANGAN INSYA ALLAH AKAN MELAHIRKAN SIFAT SALING MENGALAH, MENGHORMATI, DAN BERKORBAN. INSYA ALLAH PERNIKAHANNYA PENUH BERKAH…
“Subhanallah bunda, indah sekali ya”
“Itulah islam ananda. Peganglah tiga hal yang telah bunda sebutkan tadi yakni ketaqwaan dan kepercayaan sebagai pondasi, dinding dan atapnya, lalu komunikasi sebagai pernak perniknya. Tidaklah sesuatu layak disebut rumah jika hanya memiliki pernak-pernik seperti taman dan pagar, tanpa ada pondasi, dinding dan atapnya, namun tidaklah dikatakan indah sebuah rumah yang hanya memiliki pondasi, dinding dan atap saja, tanpa diwarnai cat dindingnya. Tanpa ada pagar maupun tamannya. Jadi semuanya tetap penting ananda”
Kesimpulan akhir sang bunda.
…PEGANGLAH TIGA HAL YANG TELAH BUNDA SEBUTKAN TADI YAKNI KETAQWAAN DAN KEPERCAYAAN SEBAGAI PONDASI, DINDING DAN ATAPNYA, LALU KOMUNIKASI SEBAGAI PERNAK PERNIKNYA…
…TIDAKLAH SESUATU LAYAK DISEBUT RUMAH JIKA HANYA MEMILIKI PERNAK-PERNIK SEPERTI TAMAN DAN PAGAR, TANPA ADA PONDASI, DINDING DAN ATAPNYA, NAMUN TIDAKLAH DIKATAKAN INDAH SEBUAH RUMAH YANG HANYA MEMILIKI PONDASI, DINDING DAN ATAP SAJA, TANPA DIWARNAI CAT DINDINGNYA. TANPA ADA PAGAR MAUPUN TAMANNYA. JADI SEMUANYA TETAP PENTING ANANDA…
“Insya Allah kalaupun ada konflik, maka bukanlah konflik yang berarti, melainkan hanya riak-riak sebagai garam kehidupan berumah tangga dan insya Allah akan cepat terselesaikan. Peganglah ketiga hal itu”
“Puas sekali rasanya Alya malam ini bunda, menerima kulian munakahah dari bunda” Malam terasa sempurna bagi Alya.
“Semoga semua apa yang telah bunda sampaikan bisa menjadi bekal kelak bagi ananda. Ingatlah ananda, bahwa pasangan kita adalah cermin diri kita. Jika kita hitam, maka cermin akan memantulkan bayangan bahwa kita hitam. Begitu juga jika kita bertaqwa, insya Allah bayangan yang terpantul adalah orang yang bertaqwa. Itulah pasangan kita. Maka taqwakan diri terlebih dahulu jika ingin mendapatkan pasangan yang bertaqwa. Sholehkan diri dulu jika ingin mendapatkan pasangan yang sholeh. Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula) (QS An-Nur : 26). Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin (QS An-Nur : 3)”
…INGATLAH ANANDA, BAHWA PASANGAN KITA ADALAH CERMIN DIRI KITA…
“Insya Allah apa yang bunda sampaikan akan betul-betul Alya pahami dan amalkan. Terima kasih bunda” Spontan Alya memeluk ibundanya.
Mereka bahagia menghabiskan malam itu. Dari kejauhan tampak abi sedang menuju kerumah untuk kembali bercengkrama diperaduan keluarga. Alya dan bunda menunggu kedatang abi dengan senangnya. Setelah sampai didepan rumah abi mengajak keduanya masuk kerumah dan melanjutkan peran masing-masing mereka sebagai sebuah keluarga sakinah, mawadah wa rahmah.
Note :
Semoga cerita yang singkat ini mampu memberikan inspirasi bagi kita semua, baik bagi ikhwan dan akhwat sekalian, juga tentunya bagi penulis. Amin.
Dan semoga tidak terhenti sebagai wacana semata, melainkan ditindak lanjuti menjadi sebuah amalan. Amin.
Simaklah perkataan Imam Al-Ghazali :
“Celakalah orang awam jika tidak berilmu. Celakalah orang berilmu jika tidak beramal, celakalah orang yang beramal jika tidak ikhlash” Na’udzubillahi min dzalik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar