Senin, 15 Februari 2010

Cinta yang terlupakan

Oleh : Pipit Fiharsi

Bismillah,,

Seorang wanita terbaring lemas di atas sebuah tempat tidur,
keringat bercucuran mengalir dan membasahi wajahnya yang terlihat pucat dan lemas. Tenaganya terkuras setelah bertempur keras diantara hidup dan mati.

kelelahan itu tidak lama terpancar diwajahnya, sesaat setelah seorang wanita berpakaian dinas putih memperlihatkan seorang bayi mungil yang masih merah kepadanya dan berkata,
“Alhamdulillah anak ibu lahir dengan selamat dan sempurna ”.

Ia pun tersenyum lembut bersama aliran air mata di pipinya,
“Alhamdulillah ya Allah….alhamdulillah…., terima kasih ibu bidan”.
Seketika itu lenyaplah seluruh rasa sakit dan lemas ditubuhnya.

Kawan,

Itulah sekilas gambaran perjuangan keras ibu saat melahirkan
kita. Bukan sekedar gambaran perjuangan, namun juga gambaran cinta yang tulus tanpa pamrih. Wajarlah jika Rasulullah meletakan Ibu sebagai orang pertama dimana kita harus memberikan penghormatan kepadanya.

Hal ini bahkan di tegaskan oleh sabda Rasulullah:
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata,

“Datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata,
‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali ?’

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’

Orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi ?’

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallammenjawab, ‘Ibumu!’

Ia berta lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’,

Orang tersebut bertanya kembali,

‘Kemudian siapa lagi, ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab, ‘Bapakmu’ “
[Hadits Riwayat Bukhari (AL-Ftah 10/401) No. 5971, Muslim 2548]

Kawan,

Sekarang tanyalah pada diri kita, disela-sela kesibukan kita.
Sudah sejauh manakah perhatian dan cinta kasih kita kepada Ibu??
Bahkan kadang kita lupa bahwa dalam tumbuh besarnya kita sampai saat ini ada perasan keringatnya. kita lupa, dalam berhasilnya kita
saat ini adalah karena untaian do’a dan tangisnya.

Kawan,

Ditengah kesibukan kita, sudahkah kita menyapa Ibu walau hanya sekedar menelepon beberapa saat??
Pernahkah secara khusus kita membeli pulsa semata-mata untuk menanyakan kabar dan keadaan ibu tercinta kita?

Kawan,

Betapa mudahnya terkadang kita melupakan Ibu dengan
kehadiran orang lain di sisi kita. Betapa mudahnya dengan alasan kesibukan pekerjaan, kita lupakan perasan keringat, air mata dan terutama do’a dari seorang wanita yang memiliki cinta tanpa pamrih untuk kita.

Padahal Allah pun telah menyatakan:
“Kami perintahkan kepada manusia supaya beruntuk baik kepada kedua
orang tuanya, ibu mengandung degan susah payah, dan melahirkan degan susahpayah (pula)
(QS. Al-Ahqaf : 15).

Imam Adz-Dzhabai dalam kitab Al-Kabair pun berkata :

“Ibumu telah mengandungmu di dalam perut selama sembilan bulan
seolah-olah sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yg
hampir saja menghilangkan nyawanya. Dan dia telah menyusuimu dari
teteknya, dan ia hilangkan rasa kantuk krn menjagamu. Dan dia cuci
kotoranmu dgn tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas diri serta atas
makanannya. Dia jadikan pangkuan sebagai ayunan bagimu. Dia telah
memberikannmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh
tampak dari kesusahan yg luar biasa dan panjang sekali kesedihan dan
dia keluarkan harta untuk membayar dokter yg mengobatimu dan seandai
dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya
kamu hidup dengan suara yg paling keras.

Kawan,

Sadar atau tidak sadar, di sana ada seorang wanita yang selalu
mengkhawatirkan kita, dan selalu bertanya dalam hatinya “bagaimana ya
keadaan anakku hari ini?” Ia sangat khawatir dan ingin selalu tahu
keadaan anaknya setiap saat. Betapapun di saat itu tak sedikit pun kita
teringat akan keadannya.

di sana ada seorang wanita yang
selalu melantunkan doanya untuk kita, dan selalu berharap agar kita
selalu dalam keberhasilan. Ia sangat khawatir akan sesuatu kegagalan
jika menimpa anaknya.

sadarkah kita akan hal itu??

Kawan,

Betapa indahnya kehidupan ini apabila setiap hari kita mampu mencium
tangan ibu sebagai tanda hormat dan meminta restu sebelum menjalankan rutinitas kita. Dan betapa indahnya perjalanan hidup, apabila kita mampu menelpon dan menanyakan keadaan ibu kita walaupun ia berada jauh di sana.

Dan betapa bahagianya ibu kita mendengar kabar anaknya dalam keadaan sehat, betapapun kita belum mampu memberikan harta yang berlimpah kepadanya.

tak ada batas untuk kita selalu berbakti dan mencintai orangtua kita. Rasulullah telah mengatakan bahwa walaupun orangtua kita telah tiada, kita masih mampu menunjukkan bakti kita kepada mereka.

Karena kata beliau segala amal manusia akan terputus setelah
kematian kecuali salah satunya adalah do’a anak yang sholeh kepada
orang tuanya. Do’a kita akan sampai kepada orang tua kita yang telah
meninggal dunia, dengan satu syarat yaitu kita menjadi anak yang
sholeh.

Maka ada sebuah pertanyaan yang patut dan harus kita jawab, sudahkah kita berusaha menjadi anak sholeh bagi mereka?

Kawan,

Begitulah keagungan Islam mengatur cinta dan kasih sayang.
Cinta kepada Ibu misalnya, hingga sampai mampu menembus batas
antara kehidupan dunia dan akhirat.
Jangan lupa lantunkan do’a yang telah Rasulullah contohkan
“Rabbighfirlii…wali waalidaiya warham huma kamaa rabbayani shogiira,
“Ya Tuhanku ampunilah dosaku, dan dosa kedua orang tuaku dan
kasih sayangilah mereka, sebagaimana mereka mengasihiku di waktu
kecilku.”

Sebagai bukti kasih sayang kepada siapa seharusnya
kita mencintai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar