Jumat, 03 September 2010

Khusyuk Yang Tiada Lagi

suatu ketika Aisyah binti Abu Bakar, pernah melihat Sang Khalifah Abu Bakar sedang melakukan shalat sunah dirumahnya, ketika Aisyah sedang berkunjung kerumah Sang Khalifah pertama itu, dan Aisyah langsung tak kuasa menahan peluh air matanya, Aisyah menangis karena terlihat didepan matanya sendiri Sang Khalifah shalat tanpa bergerak, kecuali gerakan shalat.. lalu pertanyaannya "Bagaimana Dengan Shalat Kita?



semoga notes hasil Copy Paste dari sumber yang saya lupa ini

dapat menjawab apa itu Khusyuk

------------------------------------------------------

Banyak fenomena-fenomena yang merisaukan muncul di tengah-tengah kita. Misalnya, hati keras, mata “kering” tidak bisa menangis, badan labil, dan tidak adanya perenungan ayat-ayat Allah ta’ala, disebabkan gelombang materi (dunia) yang menyerbu hati kita dengan gencar. Walhasil, materi (dunia) ikut hadir bersama kita disetiap sholat kita, saat kita membaca Al-Qur’an, ketika kita ziarah kubur dan mengunjungi rumah sakit. Tidak sedikit diantara kita yang tidak banyak membaca Al-Qur’an. Kalaupun ia banyak membaca Al-Qur’an, hatinya tidak memahami apa yang ia baca. Qiyamul lail menjadi ibadah super berat bagi sebagian orang. Kalaupun ia mengerjakan qiyamul lail, ia mengerjakannya dengan terburu-buru dan gerak cepat seperti ayam mematuk makanan di tanah. Materi (dunia) itu kotoran yang merasuk ke hati kita dan hati kita tidak mungkin kembali ke kondisi ideal, kecuali dengan membersihkannya dari semua kotoran yang melekat padanya. Utsman bin Affan radhiyallahu anhu berkata, “Jika hati kalian bersih, kalian tidak merasa kenyang dengan firman Allah ta’ala.”



Seseorang tidak hanya perlu membersihkan tubuhnya dengan air, namun juga harus membersihkan hatinya dari kotoran dunia, agar memperoleh kekhusyukan, yang sekarang tiada lagi.





Perbedaan antara khusyuk hakiki dengan khusyuk palsu



Menurut Ibnu Al-Qayyim rahimahullah, khusyuk yang benar ialah kekhusyukan iman. Menurutnya, kekhusyukan iman ialah (ketundukan) hati kepada Allah ta’ala, dengan cara mengagungkanNya, takut, dan malu kepada-Nya. Lalu, hati pasrah kepada-Nya, dalam bentuk kepasrahan yang disertai perasaan takut, malu, mengakui nikmat-nikmat-Nya, dan kesalahan-kesalahan dirinya. Jika itu tercapai, hati pasti khusyuk (tunduk), lalu organ tubuh ikut khusyuk.”



Kekhusyukan ialah merasakan keagungan Allah ta’ala dan kekuasaan-Nya saat Anda berdiri di depan-Nya. Juga mengakui seluruh nikmat yang Dia berikan dan tidak dapat dihitung, karena saking banyaknya. Juga ingat kelalaian Anda mengelola seabrek nikmat ini.



Sikap seperti ini membuat Anda malu dan hati tunduk kepada-Nya secara perlahan. Hati berada di puncak ketundukan saat seseorang ingat maksiat-maksiat yang pernah ia lakukan, ingat kelalaian dirinya terhadap rahmat dan kasih sayang Allah ta’ala kepadanya. Saat itu, hati menjadi khusyuk dan organ tubuh selalu sadar.



Sedangkan khusyuk palsu, maka itulah khusyuk kemunafikan menurut Ibnu Al-Qayyim. Ia berkata, “Organ tubuh terlihat mengerjakan hal-hal yang dipaksakan dan hati tidak khusyuk. Salah seorang sahabat berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah dari khusyuk kemunafikan.’ Ditanyakan kepada sahabat itu,’Apa itu khusyuk kemunafikan?’ Sahabat itu menjawab, ‘Tubuh terlihat khusyuk, tapi hati tidak khusyuk’.”





Khusyuk Semu



Banyak orang menduga khusyuk itu menundukkan kepala, atau jalan pelan-pelan, atau merendahkan suara. Mereka lupa kalau khusyuk itu di hati. Umar bin Khathab radhiyallahu anhu melihat seseorang membungkuk saat shalat, lalu Umar bin Khathab berkata, “Pak, angkat lehermu! Khusyuk itu bukan di leher, namun di hati.”



Umar bin Khathab radhiyallahu anhu ahli ibadah sejati, seperti dikatakan Aisyah radhiyallahu anha ketika melihat sejumlah pemuda berjalan perlahan. Kata Aisyah kepada sahabat pemuda-pemuda itu, “ Siapa pemuda-pemuda tersebut?” Sahabat pemuda itu menjawab, “Mereka ahli ibadah.” Aisyah berkata, “Jika Umar bin Khathab berjalan cepat, jika berkata maka suaranya keras menggelegar, jika memukul maka menyakitkan, dan jika makan sampai kenyang. Ia ahli ibadah sejati.”



Kendati demikian, Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu tidak membungkuk atau jalan perlahan. Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Umar bin Khaththab membaca salah satu ayat, lalu tak sadarkan dirinya. Ia berada dirumahnya berhari-hari dan dikunjungi karena dikira sakit.”

---------------------------------------------------

Dari buku Taujih Ruhiyah

Pesan-Pesan Spiritual Penjernih Hati

Abdul Hamid Al-Bilali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar